HIV/AIDS di Bangka Selatan Melonjak karena Lelaki Suka Lelaki: Bagaimana Islam Menyikapi?

Oleh: Nurul Aryani — Aktivis Dakwah Islam dan Tenaga Pendidik

Pada tahun 2024, sekitar 630.000 orang meninggal di seluruh dunia karena penyakit terkait HIV. Secara kumulatif, sekitar 44,1 juta orang telah meninggal akibat HIV/AIDS sejak epidemi ini dimulai. Penyakit menular seksual ini telah banyak merenggut nyawa manusia. Menular dengan masif akibat penyimpangan fitrah manusia dan juga seks bebas.

Bangka Selatan tahun ini mencatat jumlah penderita HIV sebanyak 83 orang. Dari angka tersebut 14 orang telah meninggal dunia dan 54 orang menjalani pengobatan. DKPPKB Bangka Selatan menyatakan 15 orang masih terpantau HIV.  (Timelines Babel, 30/10/25)

HIV di Bangka Selatan terus mengalami tren kenaikan. Pada tahun 2022 jumlah pengidap HIV di Basel berjumlah 20 orang, angka ini terus naik di tahun-tahun berikutnya, 2023 naik menjadi 38 orang, 2024 (hingga Juli) ada 42 orang, dan 2025 (hingga September) menjadi 83 orang.

Baca Juga  Benarkah Pemikiran Kolot Jadi Faktor Utama Sebaran Tenaga Kerja Tidak Merata?

Kepala DKPPKB Basel dr. Agus Pranawa menyatakan HIV di Basel makin masif, berdasarkan data penyakit menular ini didominasi oleh perilaku seksual menyimpang lelaki suka lelaki/LSL (baca: homo). Selain itu HIV juga diidap oleh para wanita yang melacurkan diri. Tercatat penambahan kasus baru HIV 2025 di Basel, 2 di antaranya LSL dan 4 sisanya adalah wanita pelacur. (Timelines Babel, 12/07/25)

Lelaki suka lelaki masih menjadi penyumbang kasus HIV di Basel. Ini mengulang tren yang sama dari tahun sebelumnya. Pada 2024 lalu terdapat 9 kasus baru HIV di Basel, dari 9 kasus tersebut, lima diantara pengidapnya adalah kaum homoseksual.

HIV/AIDS Lahir dari Pergaulan Bebas dan Menyimpang

Kasus HIV/AIDS erat kaitannya dengan perilaku seksual menyimpang. Gonta-ganti pasangan atau seks bebas. Penyakit ini jelas merupakan penyakit akibat pergaulan bebas yang diharamkan Islam.

Baca Juga  SMPN 6 Toboali Gelar Kejuaraan Pencak Silat Open 2024

HIV/AIDS adalah penyakit yang muncul di dunia barat. Kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan pada lima pria homoseksual di Los Angeles, Amerika Serikat, pada tahun 1981. (Lihat: pasteur.fr, history.com). Wajar, sebab barat memang mengagungkan nilai kebebasan, termasuk bebas dalam pergaulan.

Sayangnya dengan penyebaran ideologi sekuler barat yang masif dan progresif penyakit ini turut hadir di negeri kaum muslim sebab gaya hidup yang kebablasan. Tidak terkecuali bumi pertiwi Indonesia dan Negeri Junjung Besaoh. Di Indonesia sendiri HIV /AIDS pertama kali ditemukan pada tahun 1987 pada seorang lelaki yang merupakan wisatawan asing dari Belanda.

Sama saja, laki-laki tersebut juga homoseksual. Sebelumnya tahun 1983, Prof. dr. Zubairi Djoerban mendeteksi adanya penurunan sistem kekebalan tubuh yang kemudian hari di ketahui disebabkan oleh HIV lagi dan lagi pada lelaki yang main dengan lelaki, yakni para waria di Jakarta.

Baca Juga  Satpol PP Basel Ciduk 9 Pelajar SMA, Nongkrong di Tempat Wisata saat Jam Belajar

Demikian bahwa virus HIV erat kaitannya dengan kaum homoseksual baik awal kemunculannya maupun penyebarannya.

Tanpa Ketegasan Maka akan Terus Berulang

Lelaki suka lelaki atau yang berikutnya akan kita sebut Gay mendapat ruang sangat besar di Indonesia. Padahal sudah jelas mendatangkan kerusakan dan azab dunia yang mengerikan. Sayangnya, ketika negeri ini menerapkan aturan sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) agama tidak lagi memiliki andil mengatur kehidupan.

Gay/Homo yang diharamkan secara tegas dan mutlak justru dibiarkan. Mirisnya, banyak pula yang memberi ruang dengan slogan kebebasan. Ini adalah racun pikiran yang berhasil dikirim barat ke negeri-negeri kaum muslim tidak terkecuali Indonesia.

Paham liberalisme (kebebasan) yang lahir dari ideologi sekuler menjadikan manusia bebas melebihi hewan ternak. Lelaki justru tertarik pada lelaki. Na’uzubillah, kebebasan semacam ini dipaksakan barat dengan dalih HAM dan kebebasan mengekspresikan diri juga kebebasan seksual.