Janji Sepasang Merpati

Oleh: Sya-Ju

Sore itu cuaca terasa masih dingin. Hujan siang tadi yang masih menyisakan gerimis sangat mempengaruhi udara saat itu. Beberapa makhluk masih bersembunyi di istananya masing-masing. Mereka tampaknya ingin menikmati suasana sore yang masih diguyuri oleh rintik-rintik air yang turun dari langit.

Rintik-rintik itu memang tidak intens lagi, namun masih cukup untuk membasahi tubuh jika nekat keluar dari peraduan. Hanya bagi yang terpaksa saja berani melawan rintik, itupun tentunya menggunakan pelindung agar tidak kebasahan.

“Coba perhatikan anak-anak kita.”

Seekor merpati jantan berbicara kepada merpati betina yang merupakan istrinya sambil memberi isyarat untuk melihat anak-anak mereka yang sedang terlelap dalam tidurnya.

Tampak tiga ekor anak merpati sedang pulas dalam mimpinya masing-masing. Satu ekor berjenis jantan dan dua ekor berjenis betina. Tidur mereka sangat nyenyak, sehingga gerakan dan bunyi apapun tidak kuasa membangunkan mereka. Sesekali terdengar dengkuran dari salah satu anak merpati itu. Dan juga terkadang ada gerakan seperti ingin bangun dari tidur, namun rupanya itu hanya hoaks karena setelah itu ia kembali melanjutkan mimpinya.

Baca Juga  Batin Tikal

“Mereka sudah besar.”

Sambil tersenyum, merpati betina menimpali perkataan merpati jantan.

Tampak sekali raut kebahagiaan di wajah kedua pasangan merpati itu. Mereka lalu saling pandang dan mendekatkan diri. Tidak berapa lama kedua pasangan merpati itupun menyusul anak-anak mereka menjemput mimpi yang mungkin akan menjadi kenyataan.

*****

Bangunan sederhana dengan beberapa lubang pintu di depannya itu berdiri di samping sebuah rumah reot. Bangunan itu ditopang oleh sebuah kayu Tembesu. Walau dengan dinding papan yang sudah rapuh dan seng yang sudah karatan, bangunan itu tidak pernah ditinggalkan oleh penghuninya.

Bangunan itulah yang dijadikan sepasang merpati dan keluarganya sebagai rumah untuk tempat berlindung dari panas sengatan matahari dan dinginnya angin dan hujan. Bangunan sederhana itu bukan hanya sebuah tempat tinggal bagi mereka, tetapi juga bagai sebuah istana megah.

Baca Juga  Rayuan Sayu

Karena dindingnya terbuat dari papan yang rapuh, maka merpati dan keluarganya harus berbagi tempat tinggal dengan kumbang-kumbang. Kumbang-kumbang itu dengan lancang melobangi dindingnya untuk menciptakan kamar-kamar sendiri. Sehingga merpati dan keluarganya terkadang harus menutup telinga ketika kumbang-kumbang itu membangun kamar baru.

Kumbang-kumbang itu bagaikan tetangga yang tidak tahu aturan, padahal sesungguhnya mereka yang menumpang. Walaupun demikian merpati dan keluarganya tetap sabar dan tetap berperilaku baik terhadap kumbang-kumbang tersebut.

Sudah dua puluh tahun merpati dan keluarganya tinggal di bangunan itu. Semenjak mereka memutuskan untuk berumah tangga, mereka tetap setia dengan bangunan tua itu.

Alasan pertama mereka tetap betah tinggal di sana karena tidak punya biaya lagi untuk membangun rumah baru atau sekedar untuk menyicil rumah subsidi seperti yang dilakukan makhluk-makhluk lain, alasan selanjutnya adalah karena bangunan itu mempunyai banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan.

Baca Juga  Mentari

Suka dan duka mereka lalui di dalam bangunan itu. Bangunan itu menjadi saksi autentik bagi mereka, dari belum mempunyai anak sampai sekarang mendapatkan tiga anak.

Awal kehidupan penuh ujian ekonomi dan ujian rumah tangga lainnya dihadapi dan diselesaikan di bangunan sederhana itu. Bahkan jika ada nominasi penghargaan untuk bangunan bersejarah tentunya mereka tidak ragu-ragu untuk mengusulkannya.

*****

“Kita harus bersyukur kepada Tuhan, karena dikaruniai anak-anak yang baik seperti mereka.”

Merpati jantan kembali berbicara dengan merpati betina setelah beberapa menit yang lalu mereka terbangun dari tidur.

“Betul! Mereka anak-anak baik yang tidak bertingkah.”