Guru Adalah Pilihan…
Oleh: Yani Septiani, S. Pd. Gr., — Pengajar di SMK Negeri 1 Simpang Rimba, Bangka Selatan
Guru, sosok tersebut sedang menjadi bahan perbincangan akhir-akhir ini. Bukan lagi sepertinya, namun realita. Khalayak ramai membincangkan sosok guru yang sempat digaungkan menjadi ‘beban negara’ oleh sosok penting pengatur keuangan negeri ini.
Ya, memang istilah itu hanya karangan dan ulah usil netizen saja yang dengan ‘kreatifnya’ memoles pidato menteri berbantuan teknologi AI. Entah ada unsur ketidaksukaan bagaimana, netizen kreatif itu hingga menggaungkan bahwa guru adalah ‘beban negara’. Namun sepertinya, memang sedikit sentimen pula terhadap sosok guru.
Belum lepas dari benak dengan munculnya kata ‘beban negara’, telah muncul kembali kata-kata yang dilontarkan pejabat elite lain terhadap sosok guru. “Jika ingin cari uang jangan jadi guru, jadi pedaganglah!”, itulah kata mutiara yang sempat disampaikan menteri lainnya terkait komentarnya terhadap guru.
Jika ditelusuri lebih dalam, bolehlah kata tersebut kita cerna sebab mungkin maksud dari kata tersebut adalah kalau ingin untung jadi pedagang saja jangan jadi guru. Akan tetapi, kata-kata tersebut tidak selayaknya dapat terlontarkan dari sosok pejabat.
Tentu memunculkan spekulasi lain yakni bahwa guru tidak layak untut menuntut uang atau jika ingin menjadi guru tidak boleh dengan tujuan mencari uang alias tidak bergaji. Sangat disayangkan jika kata-kata tersebut timbul hanya karena semboyan ‘Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa’.
Fenomena tersebut mengingatkan saya terhadap salah satu karya sastra karangan Putu Wijaya, Cerita Pendek Pendidikan: Guru. Dalam cerpen tersebut dikisahkan konflik antara anak dan orang tua. Anak tersebut bersikukuh ingin menjadi guru namun orang tua menolak. Bagi orang tuanya menjadi guru adalah sebuah malapetaka dan layaknya hanya sebuah sepeda tua yang hidupnya kejepit.
Tugas sabrek tapi nol rupiah. Tidak ada guru yang naik Jaguar, memilki rumah bertingkat, atau berdeposito dollar. Dunia guru itu suram, kita tidur dia masih utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Orang ingin menjadi guru karena senang akan puji-pujian orang lain. Semboyan guru adalah pahlawan, guru berbakti pada nusa dan bangsa. Itu semua hanya omong kosong dan hanya bualan pemerintah saja.
Negara dengan sengaja memuji guru selangit namun faktanya negara tidak pernah memberikan gaji setimpal layaknya di negara-negara tetangga. Hal tersebut diyakini karena mereka sudah puas hanya dengan puji-pujian. Begitu banyak analogi yang diutarakan orang tua tersebut tentang kehidupan seorang guru yang jauh dari kata layak. Anak tersebut tetap bersikukuh ingin menjadi guru.
Anak tersebut terus berkeyakinan bahwa masa depannya akan menjadi guru. Guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja membusuk atau bahkan lenyap, namun semua hal yang telah ia beri dan ajarkan akan tetap tinggal abadi. Lebih jauh dari itu bisa bertumbuh, berkembang, dan memberikan inspirasi bagi generasi-generasi di masa mendatang. Itulah sebab utama anak tersebut ingin menjadi guru, karena ia tidak ingin mati.
Kehidupan seseorang yang berprofesi sebagai guru layaknya konflik yang tergambar pada cerpen karangan Putu Wijaya. Kita tidak menemukan guru yang kenyataan hidupnya kaya raya bergelimang harta bak pengusaha atau pejabat-pejabat elite di negeri ini. Guru hanyalah sepeda tua, yang selalu ia kayuh untuk mencapai tujuan yang mulia tanpa mengeluh sepedanya sudah tua.
Bagi kebanyakan orang, menjadi guru mungkinlah sebuah malapetaka hanya terlihat gaji dan honornya yang jauh dari kata layak. Namun bila ditelisik lebih dalam, ketulusan dan kesabarannya-lah yang dapat menjauhkannya dari malapetaka di dunia dan di akhirat.
