Oleh: Ahmad Gusairi

Negeri  ini gemar merayakan kata, para pejabat janji seperti benih yang lupa tanahnya.

Ucapan terbang ringan, setipis debu pagi, namun tak pernah singgah di halaman rakyat.

Di atas panggung, lidah mereka bergetar seperti seruling yang memanggil harapan.

Namun saat lampu padam, nada itu berubah menjadi desis yang tak ingin diakui pemiliknya.

Wajah mereka dua; satu dipajang untuk pujian, satu dikunci di balik meja kuasa.

Senyum tersungging di depan kamera, sementara nurani terbaring letih dalam gelap yang disembunyikan.

Rakyat bertanya, “Ke mana hati itu menghilang?”

Rakyat menatap, “Di mana nurani itu disimpan?”

Tetapi jawaban hanyut dalam tepuk tangan yang disusun seperti dekorasi.

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta (Bagian 5)

Kata-kata manis mengalir bagai madu, namun pahitnya menampar bibir bangsa yang mendengar.

Sebab kebenaran tak lahir dari pidato yang dilatih semalaman.

Janji yang tak berakar berubah menjadi asap, menyesakkan dada negeri yang menunggu bukti.

Bagaimana mungkin percaya, ketika kata dan perbuatan berpisah seperti dua sungai yang tak bertemu?

Kejujuran tak tumbuh dari kursi empuk, melainkan dari hati yang tak takut ditelanjangi cahaya.

Namun banyak lidah memilih berlindung di balik topeng, gentar pada bayangannya sendiri.