Bebek Serati, Benang Persatuan di Kain Cual Ibu Maslina Khas Bangka Belitung

Oleh: Murawani dan Zainuri – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Di tengah ketenangan pagi di tempat tenun Selindung, selembar kain Cual tergulung layaknya catatan sejarah: helai demi helai benang yang diikat, dicelup, dan disusun membentuk pola visual yang telah lama melambangkan masyarakat Bangka Belitung.

Di antara beraneka ragam hiasan flora dan fauna yang sering tampak pada (Gambar 1a) Kain Cual mulai dari pucuk rebung di pinggir hingga bunga kenanga yang mempersona terdapat pula motif yang sederhana namun sangat bermakna: Berdasarkan hasil wawancara, Ibu Maslina menjelaskan bahwa salah satu motif tersebut adalah bebek serati atau entok (Cairina moschata) pada (Gambar 1b), yang terinspirasi dari warisan budaya kuno.

Baca Juga  Ketika Kelopak di Tenun Menjadi Makna Bunga Sepatu dalam Bingkai Tradisi Kain Caual Maslina

Motif Bebek Serati ini ditempatkan di bagian utama, kain sering kali muncul sebagai elemen hiasan di tengah helaian kain atau di bagian atas kain sehingga pandangan langsung tertarik untuk menyaksikan ritme bentuknya yang berulang dan teratur.

Bentuk bebek yang disederhanakan ini bukan sekadar dekorasi; ia menggambarkan cara hidup masyarakat: suka berkumpul, bekerja sama, dan bergerak selaras demi tujuan bersama. Setiap lekuk sayap dan pola garis yang menyertainya menampilkan pesan kolektif tentang persatuan, kesinambungan, dan damai nilai-nilai yang tetap relevan meski diterpa zaman modern dan menjadi simbol bahwa masyarakat setempat melangkah dengan “satu arah, satu tujuan”.

Gambar 1a. Dokumen Kain Cual Warisan;

Baca Juga  Pulau Kelapan: Mutiara Terancam di Balik Narasi Indah dan Potensi Taktergali

b). Bebek Serati