Oleh: Syabaharza

Sebuah tulisan yang sudah mulai buram diserang sengatan sinar matahari berdiri agak miring di bibir sebuah pantai. Papan tempat bersemayam tulisan itu pun sudah tidak layak lagi dinamakan reklame. Beberapa huruf dalam tulisan identitas pantai itu pun juga sebagian sudah raib, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang mengerti arti tulisan itu. Tiang penyangga papan tersebut juga sudah uzur.

Kekokohannya mulai melemah karena setiap hari dihantam oleh air laut yang datang dengan ganasnya. Di bawah papan itu tidak kalah menyedihkan. Segerombolan sampah berkerumun memeluk sang tiang. Bagaikan idola, sang tiang tidak pernah ditinggalkan oleh sang sampah. Bahkan setiap hari sampah itu terus bertambah volumenya. Awalnya hanya sebuah bungkus makanan ringan yang datang, namun seiring bergesernya waktu teman-teman bungkus makanan itu datang tanpa diundang.

Baca Juga  Cinta dalam Selembar Nyawa

Ironisnya, tidak jauh dari papan reklame yang usang itu berdiri dengan gagah beberapa papan imbauan tentang kebersihan. Terlihat setidaknya ada tiga papan himbauan kebersihan. Kalau dilihat dari penampakannya papan itu baru beberapa bulan saja dipasang di sana, hal itu bisa diketahui dari warna papan, warna tiang yang masih baru serta tulisannya yang sangat jelas terbaca dari kejauhan.

Imbauan pertama tertulis mohon jangan buang sampah di sini. Imbauan kedua ada tulisan yang mengarah kepada pemberitahuan, kebersihan itu sebagian dari pada iman, mungkin yang membuat mengutip makna dari sebuah mahfuzot yang sering dipelajari anak-anak pesantren. Dan imbauan yang ketiga tulisannya lebih ekstrem lagi yaitu hanya binatang yang membuang sampah di sini.

Imbauan-imbauan itu bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan. Imbauan-imbauan itu bagaikan sebuah angin lalu. Imbauan-imbauan itu laksana lampu merah yang menyala tapi tidak ada petugas yang menjaganya. Imbauan-imbauan itu terasa sia-sia karena justru sampah-sampah semakin menggunung di dekatnya.

Baca Juga  Dua Arah Satu Waktu

Entah dari mana asal sampah-sampah itu. Apakah datang dari tengah laut kemudian bersandar dan tidak kembali lagi ke laut. Atau memang sengaja dibuang oleh orang yang malas menuju tempat sampah yang sudah disediakan. Atau memang rasa memiliki terhadap pantai itu sudah tidak ada lagi.

Yang paling kentara sampah-sampah itu mulai menumpuk ketika masa-masa libur atau pada saat perayaan hari-hari tertentu. Di saat masa libur biasanya banyak yang datang ke pantai itu untuk melakukan acara-acara bersama keluarganya. Di saat itulah aneka makanan dan minuman dibawa.

Saat-saat yang horor adalah ketika mereka selesai mengadakan acara, sampah sisa acara terkadang tidak dibersihkan lagi dan dibiarkan berserakan atau lebih parah lagi terkadang sampah-sampah itu dibuang begitu saja ke laut. Dan tanpa rasa berdosa mereka pulang begitu saja meninggalkan tumpukan sampah dengan tawa riang.

Baca Juga  Serial Keluarga Ummi: Lampu Ayam

*****

“Pantai ini sebenarnya indah.”

Suatu sore, seorang pelancong dari luar daerah bergumam dalam hati. Ia duduk di atas sebuah batang kayu besar yang sudah lama roboh. Ia terus memperhatikan ke seluruh area pantai.

“Seandainya pantai ini benar-benar dirawat, pasti akan mendatangkan banyak wisatawan.”

Sambil tangannya mengambil sebilah ranting kayu, ia berandai-andai. Ia menggoreskan ranting itu ke pasir yang ada di dekatnya. Tidak jelas apa yang digoreskannya.

“Apakah dinas terkait memang tidak perduli lagi dengan pantai ini?”