Karya: Khoiriah Apriza

 

“Bunganya itu ke kanan dikit ya To,” ujar Laila kepada Broto yang sedang sibuk dengan hiasan bunga-bunga untuk acara pernikahan anaknya.

“Mas, lampu-lampunya ini dipasang sekalian aja ya, biar nanti pagi sudah selesai semuanya,” lanjut Laila di balas anggukan oleh tukang tersebut.

Seorang perempuan sedang duduk di kasur sambil tersenyum melirik ke luar jendela. Dia lah Aisha, Calon pengantin wanitanya. Di samping dia terlihat adiknya yang sedang memakaikan dia Henna.

“Yang besok nikah, dari tadi senyum-senyum melulu,” sindir Yasmine, adik Aisha sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Mbak tuh gugup Dek buat besok. Masih enggak menyangka aja, besok Mas Fathur akan menikah sama mbak,” jawab dia yang masih mempertahankan senyuman manisnya.

Sedangkan Yasmine hanya membalasnya dengan senyuman manis penuh kepalsuan. Bagaimana tidak, besok adalah pernikahan kakaknya dengan seorang lelaki yang selama ini Yasmine kagumi secara diam-diam.

Hati gadis mana yang tidak sakit ketika merasakannya. Namun, Yasmine berusaha untuk ikhlas walau pun hatinya terluka. Menurutnya, kebahagiaan kakaknya lebih utama.

Keesokan harinya, acara akad pernikahan berjalan dengan lancar. Fathur dan Aisha resmi menjadi sepasang suami istri. Saat ini, terlihat mereka sedang berdiri di  pelaminan sambil menyalami para tamu undangan.

Baca Juga  Ribuan Masyarakat Padati Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW 1445 H di Laut Nek Aji Toboali

“Mereka udah nikah, kitanya kapan?” celetuk seseorang dari belakang Yasmine yang sedang melamun.

Yasmine nampak terkejut dengan kehadiran seseorang tersebut. Dialah Adnan, sepupu dari Fathur.

“Adnan, jangan bikin kaget deh! Kalau aku jantungan gimana?” tanya Yasmine dengan kesal.

“Kalau begitu, jantung ini akan aku donorkan buat kamu,” ujar Adnan sambil menyentuh dada nya.

“Jangan ngaco Adnan,” ucap Yasmine sembari pergi meninggalkan Adnan yang masih memandang kepergia nya dengan raut wajah sendu.

Di sinilah Yasmine berada. Di taman belakang rumahnya. Kepalanya tiba-tiba pusing saat di keramaian, jadi ia memilih untuk pergi.

Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya. Kemudian Yasmine, menghapusnya menggunakan hijab pashminanya. “Kenapa mengikhlaskan sangat sulit Allah?” lirih Yasmine pelan.

“Jangan menangis, nanti canti nya hilang, nih,” tutur Adnan kemudian duduk di dekat Yasmine sambil menyerahkan sapu tangan berwarna putih bersih.

“Terima kasih,” Yasmine berkata lagi sambil menghampirinya, kemudian menghapus air matanya perlahan. Namun tiba-tiba ia merasa kepalanya semakin sakit.

Baca Juga  Pelangi setelah Hujan

Yasmine melihat ada yang menetes di bajunya, bukan air mata melainkan darah yang keluar dari hidungnya yang mancung. Yasmine berusaha tidak panik, ia mengelapnya perlahan. Sapu tangan yang mulanya putih bersih, kini telah ternoda dengan darah.

“Astaghfirullah Al azim! Yasmine hidung kamu mimisan!,” ungkap Adnan terkejut.

“Kayak enggak paham sama aku aja. Nanti juga sembuh sendiri. Aku ke kamar bentar ya,” kata Yasmine kemudian berjalan perlahan.

“Minggu Kemarin kamu enggak cuci darah?” tanya Adnan yang berhasil menghentikan langkah Yasmine.

“Bukan urusan kamu,” ketus Yasmine kemudian melanjutkan langkahnya.

“Oke, aku ngerti bukan urusan aku! Tapi setidaknya kamu pikirkan kondisi kamu! Jangan karena Fathur nikah sama Aisha, kamu jadi menyiksa diri kamu sendiri!,” Adnan berkata dengan setengah emosi.

“Kondisi aku? Untuk siapa Adnan? Di dunia enggak adalagi yang peduli sama aku,” ujar Yasmine membalikkan badannya sambil meneteskan air matanya.

“Ada, pasti ada!,” lanjut Adnan. “Aku Yasmine, aku orang yang selama ini peduli sama kamu. Aku yang tanpa sadar jatuh cinta kepada mu. Tetapi kamu tidak pernah sekalipun memandangku. Hanya Fathur yang selalu kamu cintai, padahal jelas-jelas dia mencintai kakak mu,” timpal Adnan dalam hatinya.

Baca Juga  Sahabat Beda Negara (1)

 

Brukk!!

Terlihat Yasmine pingsan tergeletak di rumput yang hijau. Adnan pun segera menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit. Saat itu, acara pernikahan Aisha dan Fathur dihentikan, mereka segera menuju rumah sakit tempat Yasmine di rawat.

“Aku ini mama yang bodoh! Kenapa anak ku sakit aku tidak tau?!” ucap Laila menangis dipelukan suaminya, Rama. Sedangkan Rama, mengelus pundak istrinya seraya menenangkannya.

“Ya Allah, kenapa aku baru tau kalau Yasmine mengidap gagal ginjal?! Aku ini kakak yang tidak berguna!” teriak Aisha dalam hatinya.

Ia hanya bisa menangis sambil memandangi adik nya dari luar. “Kemana aja kalian selama ini?”tanya Adnan dengan dingin.

“Kamu udah tau Adnan?” tanya Laila. “Kenapa kamu enggak kasih tau kita?!” tambah Laila setengah berteriak.

“Harusnya kalian lebih tau dari pada aku. Kalian keluarga nya! Tante juga sadar enggak sih, kalau sifat Tante selama ini memperlakukan Aisha dengan Yasmine itu beda. Kenapa Yasmine selalu di asingkan? Kenapa hanya Aisha yang di nomor satu kan?!” ujar Adnan emosi.