Analisis Faktor Penyebab Penurunan Populasi Monyet Hitam Sulawesi dan Strategi Konservasi yang Relevan

Oleh: Nila Ainun Fitria – Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Sulawesi merupakan pulau yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang unik serta endemisitas yang tinggi. Sulawesi merupakan wilayah terbesar dalam kawasan walacea yang secara biogeografi merupakan lokasi pertemuan flora dan fauna antara Indo-Malaysia dan  Australasia  (Leedkk,2001). Selain flora dengan spesies yang beragam, Sulawesi memiliki fauna dengan tingkat  endemisitas yang  tinggi.

Seperti di Sulawesi Utara terdapat moyet hitam sulawesi (Macaca nigra). Secara alami, jenis ini hanya tersebar di Sulawesi Utara di Semenanjung Minahasa dan beberapa pulau satelitnya, yaitu di sebelah timur Sungai Onggak Dumoga dan Gunung Padang ke ujung Semenanjung Utara Pulau Sulawesi, Pulau Lembeh (Groves, 2001);

Baca Juga  Kolaborasi atau Kepunahan: Menyatukan Langkah Demi Kelestarian Jalak Bali

keberadaan Moyet Hitam Sulawesi mengalami keterancaman kelangsungan hidup di alam. faktor utama adalah tingginya intensitas gangguan yang datang dari luar kawasan, baik gangguan pada habitat berupa konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian maupun pada moyet hitam lama responden hidup di desa, pendidikan terakhir, dan pendapatan.

Data Interaksi terdiri atas kegiatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi, data perburuan dan konsumsi yang ditunjukan masyarakat mengenai monyet hitam Sulawesi terhadap beberapa pernyataan yang ada didalam kuesioner. Data mengenai sikap masyarakat mengenai monyet hitam Sulawesi dan habitatnya terdiri atas pengetahuan masyarakat tentang perubahan jumlah populasi satwa liar dan fungsi hutan di sekitar desa.

Mengingat populasinya yang terus menurun, spesies ini dilindungi oleh Pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970 (tertulis Cynopithecus niger) (Noerdjito dan Maryanto, 2001). Monyet hitam Sulawesi oleh IUCN dikategorikan sebagai spesies yang kritis (critically endangered) dan oleh CITES dicantumkan dalam Appendix II (Supriatna dan Wahyono, 2000).

Baca Juga  Berapa Jumlah Guru yang Masih Tersisa

Sesuai dengan hasil pengamatan yang dilaksanakan di Cagar Alam Gunung Duasudara, Sulawesi Utara pada bulan Mei – Agustus 2006. secara umum keadaan hutan CA Gunung Duasudara cukup memprihatinkan. Berbagai praktik perusakan hutan, masih sering terjadi di cagar alam ini. Perladangan berpindah, yang telah merambah kawasan cagar alam, terus dilakukan oleh penduduk yang berada di sekitar kawasan, dengan menanam tanaman perkebunan.

Salah satu contoh perambahan hutan untuk dijadikan areal perkebunan di daerah perbatasan antara Desa Pinangunian dan Cagar Alam Gunung Duasudara. Menurut informasi yang diperoleh dari pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang melakukan patroli di kawasan Cagar Alam Tangkoko-Batuangus Duasudara, beberapa tahun yang lalu daerah tersebut masih baik dan layak sebagai habitat alami monyet hitam sulawesi.

Baca Juga  Dampak Motivasi Orang Tua terhadap Pendidikan Anak