Analisis Ancaman terhadap Populasi Bekantan di Kalimantan akibat Degradasi Hutan Rawa dan Aktivitas Manusia
Oleh: Fairuza Khatimah Pakpahan – Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Bekantan (Nasalis larvatus) adalah salah satu spesies primata endemik Kalimantan yang terancam punah. Habitat alaminya yang terbatas di hutan rawa dan pesisir membuat Bekantan sangat rentan terhadap degradasi lingkungan dan aktivitas manusia. Habitat alami yang lembap dan sulit dijangkau kini makin terdegradasi atau dikonversi, yang berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup Bekantan.
Kebutuhan untuk memahami ancaman terhadap populasi serta merancang strategi konservasi yang efektif – khususnya yang melibatkan masyarakat lokal – menjadi semakin mendesak.Degradasi hutan rawa dan konversi lahan untuk pertanian, perkebunan, dan pertambangan telah menyebabkan penurunan populasi Bekantan secara signifikan. Selain itu, perburuan dan perdagangan ilegal juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup Bekantan.
Esai ini akan menganalisis ancaman-utama terhadap Bekantan di Kalimantan akibat degradasi hutan rawa dan aktivitas manusia, serta membahas pendekatan konservasi berbasis komunitas sebagai jalan ke depan.
Ancaman dari degradasi hutan rawa dan konversi habitat
Bekantan sangat tergantung pada habitat khusus: hutan rawa, mangrove, maupun riparian yang memiliki struktur vegetasi tertentu dan akses ke sungai ataupun kanal. Salah satu kajian di Sungai Sekonyer, Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa habitat yang cocok bagi Bekantan semakin menyempit karena deforestasi dan perubahan tutupan lahan.
Penelitian di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menemukan bahwa hanya sekitar 22 % populasi Bekantan hidup di kawasan yang dilindungi, sisanya berada di lahan non-konservasi yang rawan alih fungsi.
Tipe habitat yang semula adalah hutan galam (Melaleuca), hutan mangrove atau hutan riparian banyak beralih fungsi menjadi sawah, kebun, tambak, atau permukiman—mengubah kualitas dan kuantitas habitat bagi Bekantan.
Contohnya untuk Tapin, Kalimantan Selatan, hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan dari hutan rawa galam ke area pertanian dan pemukiman menyebabkan kerusakan habitat signifikan.
Degradasi Hutan Rawa: Konversi lahan untuk pertanian, perkebunan, dan pertambangan menyebabkan kehilangan habitat Bekantan.
Degradasi habitat bukan hanya berupa pengurangan luas, tetapi juga fragmentasi. Sebuah studi di Sabah (meskipun di Malaysia bagian Borneo) mengindikasikan bahwa hanya 54 % dari area survei masih menyediakan habitat yang cocok, dan hanya 43 % berada dalam kawasan dilindungi; populasi Bekantan di banyak lokasi tersebar dalam patch kecil dan terisolasi sehingga meningkatkan risiko kepunahan lokal. Fragmentasi Habitat Bekantan terpecah menjadi beberapa bagian, menyebabkan isolasi populasi dan mengurangi kemampuan mereka untuk mencari makan dan berkembang biak.
Kerusakan habitat berarti Bekantan harus menjelajah lebih jauh untuk mencari makanan atau tempat tidur, dan struktur vegetasi yang rusak atau berubah (misalnya hilangnya pohon besar, atau diganti dengan monokultur) mengguncang kestabilan kelompok dan hubungan sosial mereka.
