Karya: Indra Pirmana

Malam itu, hujan datang tidak diundang
Lebat bagaikan air tumpah ditemani angin mengamuk
Menghanyutkan tanah dan mengubrak-abrik rumah yang terpejam
Karena, akar hanya hitungan jari
Genggaman akar tidak ada lagi tenaga

Tanda tangan kepalsuan membisu
Membuat hutan kehilangan semuanya
Gergaji-gergaji datang memotong seenaknya
Kayu besar sebagai penopang pun roboh sampai tersusun rapi

Buldoser sebagai saksi membuat jalan
Ekskavator sebagai saksi menggerogoti hutan
Roda delapan belas pengangkut kayu
dan melindas tanah sebagai bukti tiap hari melewati desa itu

Para pekerja itu berdatangan tanpa permisi
Memotong kayu, bahkan menyayat kulitnya
Hanya melalui izin secarik kertas yang ditandatangani sepihak
Demi menggemukan isi tabungan

Baca Juga  Hanyalah Sepasang Luka

Perusahan itu hadir, membawa para pekerja untuk merobohkan pohon raksasa
Satu persatu pohon raksasa itu hilang entah kemana
Tidak ada yang tahu
Hanya akar kering yang tersisa
Namun, tidak kuat lagi menggenggam tanah

Hari demi hari hutan digunduli tanpa reboisasi
bahkan bertahun-tahun
lukaku semakin terasa

Tidak ada satupun yang singgah di tempatku
Karena, tidak ada lagi tempat berteduh
Akar tidak ada lagi sebagai pegikat tanah
Bukit yang dulu hijau, kini tidak lagi ada penyangga
bahkan kesejukan impian warga berubah menjadi gersang

Udara segar dipagi hari kini tinggal kenangan yang bisa dibayangkan
Air terjun pun tidak ada lagi
Keindahan yang dulu memesona
Kini tinggal luka dan bekas yang nyata

Baca Juga  Seperempat Abad

Aku tak lagi menelihat tempat rindang
Sinar matahari yang membawa energi terbuang sia-sia
Bumi tidak lagi merasakan energinya
Hewan dilindungi pun pergi entah ke mana
Suara kicauan burung tinggal ilusi
Sunyi bagaikan kuburan malam hari

Setiap musim penghujan datang
Warga mulai menunjukan kecemasannya
Hujan tanpa henti ditemani suara petir menggelegar
Angin kencang bahkan membabi buta
Air dan lumpur mengalir tak teratur
Membawa potongan kayu sebagai bom waktu
Dari hutan yang gundul
Dengan sekejap
Rumah warga pun lenyap dan rata tergerus
Air meluap membawa luka yang melenyapkan ratusan keluarga

Bukan hanya air, tetapi lumpur peket menyelimuti pemukiman warga
Tanpa mengenal usia
Warga lari menyelamatkan diri tidak tahu arah kemana
Bahkan hewan peliharaan mati sia-sia

Baca Juga  Ya sudahlah

Sambil menyaksikan luapan air kayu yang menerjang
Seorang anak berteriak saat menyaksikan ayahnya separuh baya terbawa derasnya air.
“Hanya pasrah”
Tetesan air mata mengalir membasahi wajah.