Buku yang Tak Terbeli dan Luka Tak Terbaca

Oleh: Dillon Wicaksono – Penulis yang Tinggal di Bangka Barat

Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh kabar tragis dari Nusa Tenggara Timur: seorang anak mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis. Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur, apa yang gagal dalam sistem kita, hingga seorang anak memikul beban yang seharusnya tidak pernah ia pikul?

Pendidikan sering disebut sebagai hak dasar. Anggaran negara untuk sektor ini pun tidak kecil. Tetapi tragedi ini mengingatkan kita bahwa akses pendidikan tidak hanya pada gedung sekolah, infrastruktur, biaya, dan seragam. Ia menyentuh hal-hal paling sederhana : “buku, pena, dan rasa aman bagi anak untuk belajar tanpa merasa bersalah”.

Baca Juga  Membangun Kesejahteraan Rakyat di Tengah Ancaman Banjir Bandang dan Rusaknya Tata Kelola SDM

Masalahnya bukan cuma kemiskinan, melainkan cara kebijakan dan bantuan sosial sering tidak benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Data yang tidak akurat, prosedur yang kaku dan rumit, serta koordinasi yang lemah membuat sebagian keluarga terlewat dari bantuan.

Sistem merasa tugasnya selesai karena anggaran sudah disalurkan, sementara di lapangan masih ada anak yang tertinggal sendirian. Aturan dijalankan apa adanya, tapi manusia dibalik aturan tidak terlihat. Aturannya mungkin benar secara administratif, tapi gagal membaca situasi nyata di lapangan.

Di titik ini, kita perlu mengakui bahwa negara belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung, terutama bagi anak-anak dari keluarga rentan.

Anak dan Beban Emosional yang Terlalu Dini

Baca Juga  Tambang Timah dan Tanggung Jawab Negara: Menjaga Alam atau Menjaga Ekonomi Rakyat?

Bagi orang dewasa, sulit membayangkan anak usia sepuluh tahun merasa dirinya sebagai beban. Namun bagi anak yang tumbuh dalam keterbatasan, rasa itu bisa muncul lebih cepat. Kenapa ini jadi masalah besar? Karena bagi anak, buku bukan sekadar alat belajar, buku adalah tanda apakah ia “layak” berada di sekolah atau tidak.

Ketika setiap kebutuhan dibalas keluhan, ketika permintaan sederhana selalu ditunda, anak bisa menarik kesimpulan keliru : “bahwa keberadaan ku menyusahkan orang tua ku.” Anak belum mampu berpikir seperti orang dewasa. Ia tidak memahami kebijakan, anggaran, atau kegagalan sistem.