Oleh: Agus Bachtiar Kurniawan — Sang Pengulik Pena Tinggal di Toboali Bangka Selatan

Pagi yang dirundung mendung itu tak menghentikan laju motor tua menuju tempatku bekerja. Si motor tua berplat AB yang setia mengantarku ke kampus semasa kuliah dulu. Si motor tua juga sudah lebih dari 11 tahun menjadi penyambung langkahku dalam mengais penghidupan diperantauan. Bahkan dia rela “tersiksa” karena sering kupaksa melaju kencang seperti pembalap yang sedang kalap demi mengejar presensi pagi.

Motor 4 tak rasa 2 tak. Selain berasap, tubuhnya penuh goresan, cat mengelupas, kusam dan tak pernah mandi. Semua itu semakin memperkuat bukti betapa terzaliminya si motor tua.

Banyak yang heran kenapa aku masih bertahan setia dengan motor tua. Bagiku, kenangan bersamanya tak bisa tergantikan dan terhapus begitu saja.

Seperti biasanya, aku selalu terlambat 5 sampai 10 menit tiba di sekolah tempatku mengajar, SD Negeri 38 Tobaila, yang berada di wilayah pelosok arah timur dan masuk dalam wilayah Kabupaten Bungko Selatan. Selain karena jarak rumahku yang cukup jauh, ritual harian tiap pagi begitu menyita waktu untuk sekedar tepat waktu: membantu istri menyiapkan kedua anakku.

Si bungsu masih TK dan anak nomer 2 kelas 1 SD. Terkadang mereka kompak menyajikan “drama” pagi hari sebelum kuantarkan ke pintu gerbang sekolah masing-masing. Sementara itu, sebelum mengajar, istriku harus mengantar si sulung yang bersekolah di SMP Negeri 1 yang berada di tengah Kota Tobaila.

Baca Juga  Rasa di Ujung Kata

Itulah yang membuat aku sering telat. Tapi mau bagaimana lagi? Anak-anak juga butuh sentuhanku.

***

Pagi itu, langit timur dihiasi awan bergumpal agak tebal. Aku harus mulai memasang “muka tebal” di depan pintu gerbang saat Kepala Sekolah memberi sinyal tak suka atas keterlambatanku yang bertubi-tubi. Ia selalu memasang mulut merengut sehingga tampak terpasang kurang presisi.

“Pagi, Bu. Maaf saya terlambat lagi… ” begitulah kalimat sapaku hampir setiap pagi untuk meredakan situasi sekaligus berbahasa basi.

Dan seperti biasa pula, kepala sekolah menjawab dengan satu kata yang sengaja dipanjangkan harakatnya agar terdengar seperti sebuah kalimat.

“Ya………………………………,” sahutnya sembari menahan emosi.

Jabatanku sebagai bendahara sekolah mungkin membuat Kepala Sekolah serbasalah. Walau sering terlambat, bagaimanapun juga ia selalu membutuhkan tenaga dan pikiranku. Selain itu, kemampuanku di bidang IT cukup diperhitungkan, sehingga banyak rekan guru bertanya tentang tugas-tugas aplikasi terkini.

Langkahku memburu  saat menuju masuk ke ruang guru. Meja di dekat pintu yang selama ini kosong ditinggalkan guru PJOK karena pensiun, pagi ini ada penghuninya.

“Oh…rupanya ada guru baru,” gumamku.

“Selamat pagi pak..,” seorang wanita muda yang berwajah manis menyapaku dengan ramah disertai anggukan kepala.

Aku membalas dengan anggukan dibumbui senyuman tipis sekedarnya. “Pagi juga, Bu. Guru baru, ya? Siapa namanya?” tanyaku untuk mencairkan suasana sambil meletakkan tas. Kebetulan, 3 jam pertama aku tak ada jadwal mengajar karena di isi oleh guru Pendidikan Agama.

Baca Juga  Rumah Ilmu

“Reni, Pak. Masih honorer kok, Pak,” jawabnya dengan sedikit canggung.

“Saya Ridwan. Tenang saja, saya juga honorer di Jawa, hampir sepuluh tahun. Jangan patah semangat,” kataku  mencoba menyemangatinya.

“Oh, Bapak dari Jawa, ya? Almarhum ayah saya asli Jogja, Wonosari,” ungkapnya dengan mata berbinar.

“O ya? Sama kalau begitu! Saya Kulon Progo. Bisa bahasa Jawa?” tanyaku dengan antusias.

“ He..he..he.., tidak bisa, Pak. Ibu saya wong kito Palembang, jadi lidahnya sudah lidah Sumatra” Jawab Reni dengan senyum lesung pipitnya.

Lesung pipit di sebelah kiri itu menambah pesona bagi yang melihatnya. Termasuk lelaki normal sepertiku.

Dalam hatiku berkata, “Manis sekali senyummu Reni”

Hei, ingat umur, Ridwan! anakmu tiga, istrimu garang seperti singa hipertensi, camkan itu!” tiba-tiba sang nurani berteriak dari balik tabir kewarasan. Spontan, aku tersentak kaget. Tak terasa aku menjatuhkan pena ditanganku.

“Ada apa Pak? Bapak sakit?” tanya Reni keheranan.

“Eh…anu emmhh…tidak, Bu. Saya lupa bawa laptop,” bohongku untuk menyamarkan kecamuk dalam diri.

Tak terasa hampir 30 menit obrolan kami mengalir disertai tawa dan canda. Seolah kami sudah lama saling mengenal.

“Bu Reni sudah menikah?” tanyaku sambil beranjak pelan

“Belum, Pak. Masih sendiri,” jawabnya malu-malu.

‘’Oh, begitu. Semoga cepet dapat jodoh ya,” doaku.

“ Aaamin..,” jawabnya singkat.

***

Waktu berlalu begitu cepat. Sejak kehadiran guru baru itu, aku jadi lebih semangat. Bahkan sekarang aku sangat jarang terlambat. Kami semakin akrab karena perbincangan yang selalu nyambung. Celetukanku yang konyol sering membuatnya tertawa lebar, dan ada perasaan puas dalam diriku saat melihatnya tersenyum.

Baca Juga  Perempuan di Bawah Rintik Hujan

Aku bingung. Perasaan apa ini?

Umurku sudah 40 tahun, punya istri dan  tiga anak, sedangkan Reni belum genap 23 tahun. Bahkan, aku sering memasang story di WhatsApp yang kuprivasi dan hanya untuknya. Ada perasaan lega saat ia membacanya, seolah gejolak rindu ini tersampaikan.

“Hei, Ridwan! Sudah kuingatkan berkali-kali, kau salah langkah!” sang nurani membentakku lagi.

Dan seperti biasanya aku terperanjat sesaat dan akhirnya mengiyakan nasihatnya. “ Perasaanku sudah makin dalam, aku tersesat!” pikiran normalku berkata demikian.

Mungkin gelagat itu terbaca oleh istriku. Suatu pagi, ia menyindir.

“Ehem…Tumben Mas akhir-akhir ini selalu wangi dan sangat rapi tiap mau ke sekolah. Puber kedua, ya?” Tatapannya penuh selidik.

“Ah…biasa saja. Kita kan guru, harus rapi dan wangi supaya murid tidak bosan dan mual karena gurunya kusut dan  bau,” kilahku.

“Kamu juga wangi, cantik dan rapi sekali setiap berangkat ke sekolah. Aku tak pernah protes kan?” aku menambahkan lagi sedikit argumen sebagai perlawanan tambahan padanya.

‘’Ya,” jawabnya pendek sambil menahan ketus di depan anak-anak yang siap berangkat ke sekolah.

Sebenarnya aku sadar, memang perubahan ini sangat nampak. Bahkan bayangan wajah Reni sering menyelinap disela-sela wajah anak dan istriku.

Benarkah puber kedua itu ada? Ah…entahlah.