Oleh: Nurul Janah Gustina – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Sore itu cerah. Namun gelap, berat, dan berangin baginya. Sore itu, di toko ayam goreng, banyak kepala tanpa wajah tersenyum ceria. Banyak keluarga tanpa nama makan bersama.a dan banyak remaja menabur asmara. Meja depannya penuh akan suka cita. Tetapi mata setengah terb(l)uka dan tertutup rambutnya masih dapat melihat singgasananya di sudut sana. 1 meja. 1 kursi. Di tempat titik buta. Tanpa sedikitpun interaksi dengan manusia.

Dia meletakkan tas hitamnya di atas meja. Merogoh kocek yang tak seberapa. Lalu pergi untuk memesan 1 ekor ayam krispi pedas. Level tertinggi. Memastikan untuk mendapatkan yang masih panas, dia kembali dengan mejanya yang naas, tidak diperhatikan orang. Tangannya yang kurus namun tidak ramping terjulur ke dalam tas hitam lamanya. Menggapai kotak bekal yang megap-megap ingin dibuka, lantaran memamerkan sayuran segar di dalamnya. Baru dicuci. Masih hijau. Yang tak sabar bertemu teman merahnya, ayam krispi pedas yang masih panas.

Baca Juga  Sungai yang Menghidupkan

Dia mengangkat pandangannya ketika pesanannya datang. 1 ekor ayam krispi pedas. Lengkap dengan saus tambahan dan saus lain. Yang tak pernah dirasa penasaran. Keningnya kian mengerut. Tangannya yang ingin menggapai paha ayam terhenti. Lalu diturunkan kembali. Bertanya-tanya apakah dirinya pantas untuk dapat memakan seluruh pesanannya sendiri. Atau kah dirinya pantas mewujudkan keinginan yang menyiksa hati.

Dia masih mengerutkan kening. Separuh matanya suram dan kelam, penuh cobaan dns pengalaman. Separuhnya berair dan tersiksa, penuh keinginan putus asa yang membara, tidak tahu apa-apa tentang dunia. Lalu diambilnya 1 potong paha ayam itu, digigitnya dengan lambung penuh dengan makian dan hati penuh keinginan.

Asam lambungnya menggelegak dengan banyak kemungkinan. Dikunyahnya perlahan-lahan, tak se -pelan matanya yang kian memerah seperti saus ayam. Tak selambat matanya yang suram itu berair penuh penyalahan. Matanya melihat tepung yang mengerut begitu renyah dengan alis penuh perlawanan batin. Mulutnya mengunyah dengan lembut dan perhatian. Setiap indra perasa di mulutnya aktif. Tak terkecuali hati dan pikirannya.

Baca Juga  Lilin

Sore itu, dia gila. Emosi dan jiwanya tak akur. Tertahan dalam satu wadah–raganya. Sore itu, dia melahapnya dengan sengsara dan suka cita. Dengan binar bahagia dan air mata. Dengan sekotak sayur segar sebagai selingan ayam krispi pedasnya. Dia melahapnya tanpa suara, dengan air mata.

“Ayolah, dia hanya kepedasan! Tapi sok kuat! Kupikir dia betulan gila. Kenapa ini menjadi sangat dramatis?” Gadis itu berkata dengan wajah bau kepada kakekknya yang masih terhanyut drama ceritanya. Yang sekarang tersadar lalu dengan wajah kesal namun tak berdaya hingga menjadi sabar menatap wajah cicitnya. Masih tersenyum dan menyuruh makhluk kecil itu bersabar. Kemudian tetap kukuh melanjutkan ceritanya.

Baca Juga  Kau Ingin Abadi

Dia dalam delima.

“Hah? Delima? Kok bisa? Kan itu keci- OOH DILEMA! Ya ampun kek.” Makhluk kecil itu sempat keluar dari dunia imajinernya lantaran ada seorang pemuda penuh drama di warung ayam goreng tiba-tiba masuk dalam buah delima yang tak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa. Pemandangan yang gila.

Ya, pemuda itu dalam dilema. Dia makan dengan bahagia, namun juga sakit yang mencabik jiwa. Dia makan 1 ekor ayam krispi pedas sendirian. Itulah masalahnya. Sedangkan di rumahnya lauk paling mahal adalah ikan yang 10 ribu harganya per kilo. Dan beras bisa jadi habis malam ini. Di rumahnya hanya ada ibunya. Ayahnya pergi mencari rezeki yang tak tentu setiap harinya. Tak tahu kapan berlibur, tak tahu kapan pulang.