Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 12): Anak Menghadapi Dunia Tanpa Pelindung
Anak Menghadapi Dunia Tanpa Pelindung (QS. Yusuf: 15)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Ada momen dalam hidup ketika pengkhianatan tidak lagi berupa rencana, tetapi menjadi tindakan.
Al-Qur’an menggambarkan peristiwa itu dengan kalimat yang sangat singkat, namun sarat makna.
“Maka ketika mereka membawanya dan sepakat untuk memasukkannya ke dasar sumur, dan Kami wahyukan kepadanya: ‘Sungguh, engkau kelak akan menceritakan kepada mereka perbuatan ini, sedang mereka tidak menyadarinya.’” (QS. Yusuf: 15)
Ayat ini seperti dua lapis kenyataan yang berjalan bersamaan. Di permukaan, ada tindakan kejam. Di kedalaman, ada perlindungan Ilahi.
Namun mari berhenti sejenak di lapis pertama.
“Mereka membawanya.”
Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi ia menyimpan jarak yang mulai diciptakan. Yusuf tidak lagi berjalan bersama sebagai saudara. Ia sedang digiring menuju tempat yang tidak ia tahu.
Lalu, “sepakat memasukkannya ke dasar sumur.”
Sepakat. Artinya, tidak ada yang membela. Tidak ada yang menarik tangannya kembali. Tidak ada yang berkata, “Cukup.” Di titik ini, Yusuf benar-benar sendirian secara manusiawi.
Sumur itu gelap. Dalam. Dingin. Ia bukan sekadar lubang di tanah. Ia adalah simbol keterputusan total. Tidak ada ayah yang memanggil namanya. Tidak ada pelukan yang menguatkan. Tidak ada rumah untuk kembali.
Dalam kajian tafsir, sering dijelaskan bahwa sumur tersebut cukup dalam, namun masih memungkinkan Yusuf bertahan. Artinya, ia tidak dilempar untuk langsung mati, tetapi untuk ditinggalkan. Dan ditinggalkan adalah bentuk luka yang berbeda.
Anak yang dikhianati oleh orang asing mungkin akan terluka. Tetapi anak yang dikhianati oleh keluarga akan mengalami retakan yang lebih dalam. Dunia yang sebelumnya terasa aman tiba-tiba menjadi ancaman.
Namun ayat ini tidak berhenti pada adegan kejatuhan.
