Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 4)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

“Apalah arti sebuah nama?” begitu ujar Shakespeare. Tapi dalam Islam, nama bukan sekadar identitas. Ia adalah doa, harapan, dan cermin nilai. Nama bisa menjadi penyemangat, atau sebaliknya, membawa beban psikologis seumur hidup. Maka dari itu, saat sang bayi yang kelak membawa risalah langit lahir ke dunia, ia diberi nama yang tidak biasa: Muhammad – yang banyak dipuji.

Ketika Rasulullah Saw lahir, kakeknya, Abdul Muthalib, langsung membawanya ke Ka’bah. Bukan untuk dipersembahkan ke berhala, seperti tradisi sebagian orang Quraisy kala itu, tapi justru mengangkatnya ke langit, sebagai simbol pengakuan bahwa anak ini adalah milik Allah dan akan menjalani misi suci dari-Nya. Nama “Muhammad” yang ia berikan, bukanlah nama yang umum di kalangan Arab. Bahkan belum pernah ada nama itu sebelumnya. Saat ditanya kenapa tak memberi nama seperti nama-nama leluhur, Abdul Muthalib menjawab, “Aku ingin dia dipuji oleh penduduk langit dan bumi.”

Baca Juga  KPU Pangkalpinang Resmi Melantik 35 Panitia Pemilihan Kecamatan

Nama ini mengandung makna mendalam. Dari akar kata “حَمِدَ” yang berarti pujian, “Muhammad” berarti “yang banyak dipuji”. Dan benar saja, tak ada nama yang lebih banyak disebut, ditulis, dan disandingkan dengan nama Allah dalam azan, selawat, dan zikir umat manusia, selain nama Muhammad.

Tentang nama, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian. Maka perbaikilah nama-nama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Dalam hadis lain: “Berilah nama dengan nama-nama para nabi. Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim)

Psikologi Identitas: Nama dan Diri

Dalam ilmu psikologi identitas, nama berperan besar dalam pembentukan konsep diri. Anak yang tumbuh dengan nama yang bermakna positif akan lebih percaya diri, lebih mudah merasa diterima, dan memiliki ikatan emosional dengan nilai-nilai di balik namanya. Nama juga memperkuat keterhubungan sosial, menumbuhkan rasa memiliki, dan pada kasus seperti nama “Muhammad”, bisa menjadi sumber inspirasi untuk meneladani sosok besar yang menjadi panutannya.

Baca Juga  Update Weton Jawa, Kamis Wage 29 Desember 2022: Kerap Dapat Masalah, Berikut Ulasannya