Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara

Alkisah pada zaman dahulu kala ada satu desa di wilayah selatan Pulau Bangka yang sengaja memisahkan diri sehingga terbagi menjadi dua dusun yaitu Dusun Barat dan Dusun Timur.

Dusun Barat dikenal dengan daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam, masyarakatnya pun dikenal dengan masyarakat yang religius.

Sedangkan Dusun Timur dikenal sebagai dusun kecil yang sangat suram dan mengerikan, masyarakatnya masih mengenal hal-hal ghaib yang sudah ada sejak dahulu kala.

Kedua Dusun ini tidak pernah akrab walaupun berada di satu desa, karena selalu berbeda pandangan dalam setiap hal apa pun seperti tata cara berkebun, berladang, beternak hewan, ritual-ritual keagaman, hingga yang bersifat ghaib.

Kehidupan masyarakat di Dusun Barat sangat berbeda jauh dengan kehidupan yang dialami oleh masyarakat Dusun Timur.

Hasil kebun serta ternak hewan yang sangat berlimpah ruah di Dusun Barat, tidak sebanding dengan di Dusun Timur yang hasilnya sangat tidak memadai dan tidak berkecukupan.

Maka dengan kepercayaan yang mereka anut, para dukun yang berada di Dusun Timur tidak tinggal diam, sehingga dikirimkanlah sihir-sihir ghaib yang membuat satu Dusun Barat ketakutan dan kelabakan.

Akan tetapi, semua itu tidak berlangsung lama, Dusun Barat yang meyakini nilai-nilai agama Islam dengan mengadakan doa bersama masyarakat, membuat sihir-sihir itu menjadi hilang dan kembali terpental ke para dukun yang berada di Dusun Timur.

Perperangan antara sihir dan doa itu terus dilakukan, sehingga membuat Dusun Timur semakin dijauhi oleh orang-orang dari Dusun Barat hingga dari desa-desa lainnya.

Kondisi itu membuat sebagian masyarakat di Dusun Timur seperti anak-anak dan para pemuda yang tidak mengetahui apa pun juga dijauhi akibat ulah dari para dukun yang jahil dan dilumuri rasa kebencian itu.

Salah satunya pemuda yang bernama Along.

Along adalah seorang pemuda yang berumur sekitar 29 tahun. Selama ini ia tidak bisa berteman dengan para pemuda yang berada diluar dusun, akibat adanya larangan dari para orang tua dan tokoh adat di dusun tersebut.

Kesendiriannya itu membuat ia menjadi sosok yang suka menyendiri dan menghabiskan waktunya dengan berkebun dan mencari kayu bakar di hutan.

Melihat para pemuda lainnya yang berada di Dusun Timur itu sudah pada menikah dengan pasangan dari dusun itu sendiri, tersisalah Along seorang yang belum menikah di usianya yang sudah mendekati kepala tiga.

Orang tuanya pun sudah sakit-sakitan, harapan terbesar dari orang tuanya adalah melihat Along bisa berumah tangga seperti para pemuda lainnya yang berada di Dusun Timur.

Baca Juga  Uji Publik, KPU Kota Tampung Usulan Pergeseran Kursi DPRD Pangkalpinang

Harapan itu semakin berat untuk Along tunaikan ketika ayahnya meninggal dunia dan tinggalah Ibunya seorang yang sedang sakit, kondisi itu membuat Along semakin khawatir dan merasa sepi, dikarenakan di desanya yang masyarakatnya juga bersikap menutup diri.

Kesepian dan kebosanan Along hanya bisa ia buang dengan mencari kayu bakar dihutan.

Di suatu harinya saat Along mencari kayu bakar di hutan, tanpa disadari ia telah memasuki hutan yang tak biasanya ia lewati selama ini.

Ia pun merasa keheranan karena selama ini ia tak pernah melihat jalan dan hutan yang gelap serta ditumbuhi oleh pohon-pohon besar nan tinggi.

Banyak burung Pergam di sekitaran pohon-pohon itu, serta bunyi-bunyi aneh di sekitarannya membuat ia ingin lekas pulang, namun jalan yang ia lalui sudah tertutup dengan semak belukar yang menutupi arah jalan pulangnya.

Hanya ada satu jalan tepat berada di depannya, seperti gerbang yang terbentuk dari dedaunan pohon rindang.

Sambil membawa kayu bakar yang ia pikul dipundaknya, ia telusuri jalan itu dengan penuh kehatian-hatian mendengar gemuruh suara aneh yang berada di hutan tersebut.

Sampailah ia melewati gerbang dedaunan itu, suasana pun berubah, cahaya mentari seolah redup tapi tidak menunjukkan awan yang mendung, serta cahaya mentari yang menguning bak petang yang akan berganti dengan malam.

Nampak dari kejauhan ia melihat rumah yang beratap daun kabung dan berdinding kulit kayu.

Lalu ia dengan cepat mendekatinya, dan rumah tersebut berjumlah 7 (tujuh) bangunan yang berbentuk sama.

Keberadaan rumah itu seperti kampung kecil dan dihuni oleh banyak orang yang tidak tahu dari mana asalnya.

Di sekitarannya juga ditumbuhi pohon-pohon pelawan serta buah-buahan yang tumbuh subur dan besar-besar, tidak seperti yang ada di dunia nyata.

Along pun merinding ketakutan melihat hal tersebut, tetapi rasa takutnya hilang saat ia melihat penduduknya juga merupakan orang-orang yang memiliki wajah cantik dan tampan yang berada dihadapannya.

Selama hidupnya ia tidak pernah melihat adanya perempuan dan lelaki yang secantik dan setampan ini di perkampungan manapun.

Dengan lemah lembut Along menyapa semuanya.

Sapaan Along dibalas oleh penduduk di perkampungan itu. Mereka tersenyum seolah menyambut kedatangan Along yang sudah diketahui oleh mereka.

Mereka mengajak Along bertemu dengan kepala kampungnya yang berada di dalam rumah. Rumah kepala kampung itu terletak di tengah-tengah dari rumah lainnya.

Rumah itu seperti rumah panggung yang berlantai papan beralaskan tikar pandan yang masih harum aromanya. Di dinding-dinding rumahnya dihiasi beberapa kepala rusa.

Baca Juga  Dibesarkan Kakek dan Paman, Sebuah Kolaborasi Pengasuhan

Setelah bertemu dengan kepala kampung itu, Along bertanya akan keberadaannya.

“Di mana saya saat ini?” tanya Along.

“Tenanglah wahai anak muda, takdirmu lah yang menuntun mu kesini! Engkau sedang tersesat. Sungguh kami mengetahui niat baik dan buruk seseorang, jika engkau memiliki niat buruk datang ke sini, maka kami sudah mengetahuinya saat engkau melangkahkan kaki,” jawab kepala kampung.

“Iya, aku tidak pernah berniat untuk datang kesini, namun aku merasa heran dengan adanya keberadaan perkampungan ini, karena sebelumnya aku tidak pernah mendengar dari orang tua ku bahkan orang-orang yang ada di dusun ku,” ucap Along.

“Benar, wahai anak muda, dan engkau akan mengalami kelelahan jika engkau memaksakan diri ingin pulang kembali, sebaiknya engkau beristirahatlah di perkampungan kami, hari akan berganti malam, akan tiba nantinya waktu dan pilihan apakah engkau bisa pulang atau tidak! Karna kami tahu isi hati mu!” jawab kepala kampung.

Mendengar itu, Along merasa aneh dan resah. Tak lama masuklah seorang perempuan yang sangat cantik berambut hitam panjang dan sedikit pirang, bermata coklat dan berkulit putih hingga membuat Along terpana melihatnya.

Maksud kedatangan perempuan itu adalah mengantarkan hidangan air minum.

Kepala Kampung mulai membaca hatinya Along, ia hanya diam dan mempersilahkan Along untuk meminumkan air yang sudah dihidangkannya.

Sudah 3 (tiga) hari Along berada di perkampungan itu, tak pernah ia rasakan seperti pagi dan siangnya di dunia nyata, hanyalah petang sebagai pagi dan siangnya dan gelap sebagai malamnya.

Namun, keakraban yang tidak pernah ia rasakan selama ini membuatnya merasa nyaman, damai dan tentram.

Kebahagiaan itu tidak bisa ia bayarkan di dunia nyata.

Ketertarikan dan kedekatannya dengan salah satu perempuan yang berada di perkampungan itu diketahui oleh kepala kampung.

Sehingga tibalah waktu dan pilihan untuk kepulangan Along ke dunianya.

Along dipanggil kembali ke rumah kepala kampung. Duduk berhadapan, dengan penuh keyakinan dan keberaniannya, Along mengutarakan isi hati dan perasaannya kepada kepala kampung. Bahwa ia menyukai seorang perempuan di perkampungan itu yang bernama Sekar.

Di saat itu juga kepala kampung itu memberitahukannya bahwa perkampungan ini adalah perkampungan ghaib dan dihuni oleh makhluk-makhluk yang berbeda dengan manusia.

Mendengar itu, Along menjadi terkejut dan tidak menyangka bahwa ia sedang berada di dunia ghaib.

Perasaannya yang tulus akan cintanya itu, membuatnya tak peduli dan terus bertekad ingin meminang seorang perempuan yang bernama Sekar.

Baca Juga  Dinda Rembulan Emron Pastikan Diri Maju Dalam Pencalonan DPD RI

Dipanggilkanlah juga Sekar ke rumah kepala kampung, mereka berdua bersama-sama mengutarakan perasaan mereka, bak dua hati insan yang sudah saling menyatu.

Akhirnya lahirlah sebuah keputusan dari kepala kampung.

Keputusan itu mengenai pilihan untuk Along, bahwa sudah tiba hari untuk ia pulang ke dunianya, jika ia tidak ingin pulang maka ia sama dengan meninggal dunia di tempat itu, dan jasadnya akan dihantarkan di perbatasan hutan.

Pernyataan itu, membuat Along bimbang karena teringat akan ibunya yang seorang diri dan sedang sakit.

Kembali ia memohon kepada kepala kampung untuk mencari jalan keluar sesuai dengan harapannya.

Sekar pun menangis meminta restu kepada kepala kampung sambil menundukan kepalanya.

Akhirnya permintaan mereka ditanggapi oleh kepala kampung.

Di saat itu juga Along diberikan syarat untuk mempersiapkan syarat-syarat yang harus disiapkannya.

Syarat-syarat itu adalah sesaji yang berisi 7 (buah) buah canting seperti capui yang terbuat dari kuningan.

Isi canting tersebut adalah sesajian seperti gambir, kapur sirih, tembakau sugi, racikan pinang, cengkeh, daun sirih, serta daun keremuse.

Tujuh canting tersebut melambangkan tujuh bubung uma (tujuh bangunan rumah), sedangkan sirih dibuat tujuh bagian, dalam satu bagian ada 7 (tujuh) lembar daun sirih, sehingga jumlah daun sirih tersebut sebanyak 49 (empat puluh sembilan) lembar, yang melambangkan “angka karma” yang artinya hubungan api kembar.

Karma memainkan peran yang sangat penting.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh kepala kampung, ketika dua orang bersatu dalam hubungan itu bisa berupa karma positif atau negatif.

Ada sesuatu yang perlu ditangani dalam kehidupan ini, seperti halnya sebagai pengingat bahwa apa yang terjadi akan terjadi, dan apa yang engkau keluarkan ke alam semesta akan kembali kepada engkau pula.

Sedangkan di bawahnya terdapat suatu barang berharga, seperti cincin dan satu buah paku besi berukuran jari telunjuk yang nantinya akan dijadikan pengikat (tali janji).

“Ketika semuanya lengkap, tiga hari sebelum bulan purnama tiba, bertapalah engkau di bongkahan batu kembar yang berada di tengah hutan tempat biasanya engkau mencari kayu bakar,” ucap kepala kampung.

Setelah itu, kepala kampung bersama Sekar dan pengawalnya mengantarkan Along kedepan pintu gerbang perkampungan mereka.

Sebelum melangkah melewati gerbang itu, Along berpesan kepada Sekar, bahwa ia akan membawa persyaratan itu, dan menepati janjinya untuk menikahi Sekar.

“Tunggulah, aku akan datang menjemputmu dan menyiapkan segalanya, aku tak peduli tentang siapa dirimu, ketulusan ku ini akan merobohkan segala-galanya, bahkan Pepohonan, Bebatuan, hingga Tembok-Tembok Besar hanya dengan sehelai Daun,” ujar Along kepada Sekar.