Keturunan dari Perkampungan Ghaib (Tujuh Bubung Uma)
Selangkah ia melewati gerbang itu, maka berubahlah suasana alam yang ia pijaki saat itu. Kembalinya ia ke dunia nyata ternyata sudah menimbulkan banyak masalah.
Tiga hari ia berada di alam ghaib tersebut, ternyata di dunia nyata ia sudah hilang selama tiga bulan.
Ibunya yang sedang sakit, harus bersedih kehilangan putra satu-satunya selama tiga bulan lamanya. Namun kesedihan itu pudar ketika Along pulang kerumahnya yang berada di Dusun Timur itu.
Tangis bahagia ibundanya membuat Along tersentuh dan meminta maaf akan kepergiannya selama itu.
Di saat itu juga, Along menyampaikan kabar bahagia kepada ibunya bahwa ia akan meminang dan menikahi seorang perempuan bernama Sekar, tanpa memberitahukan kebenaran siapa sosok asli perempuan cantik itu.
Mendengar kabar itu, ibunya sangat berbahagia.
Sakit yang ia rasakan selama ini sontak membuatnya bersemangat untuk menyiapkan kedatangan menantunya.
Beberapa waktu berlalu, tibalah harinya yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini, tiga hari sebelum bulan purnama.
Along berpamitan serta meminta izin dan restu kepada ibunya untuk pergi meminang dan menikahi perempuan bernama Sekar.
Karena alasan desa yang sangat jauh membuat ia tidak ingin mengajak ibunya yang sedang sakit.
Jadi tinggalah ibunya seorang diri di rumahnya yang sepi sambil menunggu kepulangan anak dan menantunya dengan perasaan yang bahagia.
Tibalah Along dibongkahan batu kembar yang berada ditengah hutan yang jarang orang-orang jumpai.
Segala persyaratannya sudah ia hidangkan tepat di depannya, kemudian ia mulai pertapaannya.
Hujan, badai hingga petir dan kilat sambut menyambut pada malam-malam itu, seolah menjadi ujian untuknya.
Namun, tekad dan keiinginannya sangat besar sehingga semua yang terjadi ia biarkan berlalu tanpa sedikitpun ada keraguan dalam hatinya.
Tiga hari berlalu, bulan purnama pun sudah nampak pada langit yang terang tepat diatas kepalanya.
Angin kencang pada malam itu membuat Along terbangun dari pertapaannya, nampaklah gerbang yang ia lalui kemarin berselimuti kabut asap tepat dihadapannya.
Munculah kepala kampung bersama Sekar dan beberapa pengawalnya mendatangi Along.
Along pun lekas berdiri sambil tersenyum bahagia melihat kedatangan mereka.
Ritual pernikahan lintas alam itu dilakukanlah diantara gerbang alam manusia dan alam ghaib yang saling bertemu dan disaksikan oleh penduduk ghaib yang tak kasat mata pada malam purnama.
Beberapa mantra sudah diucapkan oleh kepala kampung kepada Along dan Sekar yang duduk berdekatan di hadapannya.
Semua syarat yang dihidangkan sudah mereka ambil sebagai gantinya sekar akan menjadi seorang manusia setengah jin dengan ditancapkannya satu buah paku besi tepat di atas kepala Sekar.
Kejadian itu membuat seisi hutan itu menjadi gemuruh dengan suara-suara binatang yang ada disekitarannya.
Setelah ritualnya selesai, kepala kampung berpesan kepada mereka.
“Ketahuilah ini adalah pernikahan pertama dan akan menjadi terakhir kalinya, jangan sesekali engkau khianati Sekar wahai anak muda, engkau harus patuh dengan segala konsekuensinya. Jika melanggar, engkau akan kehilangan nyawamu sendiri, dan jagalah tusuk paku itu, apabila sekali tercabut maka Sekar tidak akan lagi bersamamu! Setelah ini akan kami tutup dan jaga gerbang ini!” ucap kepala kampung.
“Baiklah, Aku berjanji demi hidup dan mati ku, Aku tidak akan mengkhianati Sekar, karena dialah pelita hati ku saat ini!” jawab Along.
“Sesungguhnya kami mengetahui isi hati dan niat baik buruk mu, akan banyak ujian yang akan kalian hadapi, akan banyak rintangan yang silih berganti, berhati-hatilah dengan malapetaka kalian sendiri, yang terjadi akan terjadi!” kata kepala kampung.
Selesailah ritual yang terjadi pada malam purnama itu, Along dengan bahagianya membawa Sekar pulang kerumahnya.
Ibunya yang sudah menanti berhari-hari bisa bernafas lega melihat anak dan menantunya pulang kerumah.
Berita itu terdengar ke seluruh penjuru Dusun Timur hingga ke Dusun Barat.
Kecantikan Sekar seperti bidadari di desa tersebut, tidak ada yang menyamai kecantikannya.
Keberadaan Sekar membuat para dukun yang berada di Dusun Timur menjadi penasaran, dan berniat ingin merebutnya dari Along.
Segala sihir pelet sudah dikirimkan ke Sekar.
Namun semua itu sia-sia, karna yang disihirnya adalah seorang yang berasal dari golongan jin setengah manusia.
Para dukun di Dusun Timur ketakutan dengan keberadaan Sekar.
Sesekali mereka menjumpai Sekar yang sedang berada di halaman rumah Along. Pada waktu itu, Sekar dengan tatapan tajamnya membuat para dukun itu semakin ketakutan.
Kondisi itu membuat para dukun berkumpul dan membahas mengenai keberadaan Sekar yang tidak tahu dari mana asal usulnya.
Kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Sekar pun mereka tidak berani.
Hingga bertahun-tahun berlalu, Sekar dan Along diangugerahi tiga orang anak yang terdiri dua anak perempuan yang sangat cantik jelita dan satu anak laki-laki yang tampan dan rupawan.
Mereka sangat mirip dengan Sekar, berkulit putih, berambut hitam sedikit pirang dan bermata coklat nan indah.
Kehidupan Along dan Sekar sampai saat itu diuji dengan segala kekurangannya, untuk makan pun mereka saling berbagi.
Walaupun sedikit tapi mereka bahagia dengan cara mereka sendiri.
Kondisi itu menjadi olok-olokan oleh masyarakat di Dusun Timur yang awalnya sudah dihasut oleh para dukun yang jahil dan iri akan kebahagiaan mereka.
Sampailah batas kesabaran Sekar melihat dan merasakan apa yang terjadi menimpa mereka.
Tibalah di suatu malam, disaat bulan purnama sedang menampakan cahayanya.
Sekar yang sedang mengandung anak keempat mereka dengan diam-diam menemui para dukun yang jahil di Dusun Timur itu.
Tatapan matanya yang tajam dan nyanyian kidung malam yang sangat khas dari alamnya yang dulu dilantunkan pada malam itu sehingga membuat para dukun bertekuk lutut dan menyerah di hadapan Sekar.
Kejadian itu diampuni oleh Sekar, yang tidak ingin menimbulkan masalah lainnya di kemudian hari.
Akan tetapi, sifat buruk dari para dukun itu kembali mengusik kehidupan Sekar dan keluarganya.
Para dukun menghasut dan menyebarkan berita kepada masyarakat Dusun Timur, bahwa Sekar adalah jelamaan dari golongan jin yang jahat. Mereka menamainnya sebagai PETIANAK.
Berita itu terdengar sampai ke keluarga Sekar dan Along. Ibu mertua dan anak-anaknya merasa terganggu dengan adanya kabar berita itu.
Namun, Along berhasil meyakinkan keluarganya bahwa berita itu tidak benar.
Tak mampu menahan rasa malu yang ia alami demi anak-anak dan keluarganya, Sekar membuat keputusan yang akan ia tanggung sendiri.
Di malam harinya tepat di malam kedua bulan purnama, ia meminta kepada anak sulungnya yang perempuan untuk mencabut paku yang tertusuk dikepalanya.
Setelah dicabut, ia lekas pergi tanpa menoleh ke belakang untuk melihat anaknya itu.
Dengan rasa heran, anak sulungnya lekas memberitahukan kejadian itu kepada ayahnya.
Along terkejut bukan kepalang, sambil menangis ia mencari keberadaan Sekar.
Namun, pada malam itu juga para dukun-dukun yang jahil di Dusun Timur itu tewas mengenaskan.
Untuk terakhir kalinya, bertemulah Sekar dengan Along yang sudah mencarinya kemana-mana.
Pada saat itu Sekar meminta maaf sudah mengkhianati Along. Ia tak sanggup menahan cobaan yang mereka tanggung bersama keluarga dan anak-anaknya yang tak bersalah.
Untuk itu, Sekar ingin menanggung karma itu sendiri dan menghadapi melapetaka yang sudah ia rasakan saat ini.
Akan tetapi, Along tidak ingin melihat Sekar menanggungnya sendiri. Along ingin mengikuti Sekar dan tetap bersama-sama sampai akhir hayatnya pun tiba.
Namun, kemauan Along itu ditolak oleh Sekar.
“Biarkanlah aku menanggungnya sendiri, aku sudah siap menerima apa pun yang akan terjadi, jagalah anak-anak kita! jika engkau pun tiada, maka anak-anak kita pun akan semakin sengsara! Jagalah rahasia ini kepada mereka, aku tidak bisa lagi bersama mu, biarkan aku menanggung hukuman yang sudah aku perbuat!” ucap Sekar.
Along hanya bisa menangis dan berpasrah diri akan kepergian Sekar. Disaat itu juga hilanglah Sekar dari hadapannya.
Setelah selesai kejadian itu, kematian para dukun-dukun jahil di Dusun Timur menjadi kabar baik yang sampai ke seluruh penjuru desa mana pun.
Jarak dan dinding pemisah yang selama ini dirasakan antara Dusun Barat dan Dusun Timur sekarang sudah roboh dan kembali bersatu.
Anak-anaknya pun menjadi lupa akan kepergian ibunya. Semua itu digantikan oleh keberadaan masyarakat yang sudah bersatu dan ramai menunjukkan kebersamaan dan persaudaraan di desa tersebut. Desa Manakah itu?
TAMAT
Penulis adalah Pamong Budaya Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.