Oleh: Syabaharza

Suara klakson kapal Ferry Roro siang itu menggema memecah konsentrasi para penumpang. Bunyi yang sangat nyaring itu pertanda bahwa sang kapal siap untuk berlayar. Penumpang yang tadinya asyik mengobrol satu sama lain mendadak menghentikan sebentar perbincangannya.

Semua mata tertuju ke pelabuhan yang terbesar di provinsi itu. Sebuah pelabuhan yang baru saja diresmikan beberapa bulan lalu. Peresmian itu dikebut demi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna jasa pelayaran. Dua tiang pancang yang kokoh tertancap di ujung pelabuhan. Tali-tali pengait kapal satu persatu sudah dilepaskan anak buah kapal.

Bagi sebagian orang yang baru menggunakan jasa kapal Ferry jenis Roro ini, prosesi keberangkatan kapal menjadi pemandangan yang tidak boleh dilupakan. Setiap detik dari prosesi itu seakan menjadi tontonan berharga yang tidak boleh dilewatkan. Bahkan penumpang jenis ini akan rela meninggalkan aktivitasnya demi untuk menyaksikan urutan dari proses berangkatnya sang kapal.

Jika sedang makan, maka mereka rela meninggalkan makanannya, jika sedang bermesraan dengan pasangannya, mereka pun rela berhenti sejenak bahkan ketika dalam toilet pun mereka tetap menyempatkan mengintip dari jendela kecilnya.

Perlahan tapi pasti, kapal raksasa itu mulai berpamitan dengan pelabuhan yang menghubungkan dua pulau itu. Auman mesinnya mulai kentara. Suara khas yang selalu membawa kedamaian bagi penumpangnya yang mempunyai asa untuk segera berjumpa dengan keluarga atau orang terkasihnya. Badan kapal yang tinggi dan besar menambah gagah visualnya.

Baca Juga  Ibu

Baling-balingnya yang juga besar mulai memutar dengan kuat. Putaran baling-baling itu membuat air di bawahnya bergejolak. Air laut itu menggelinjang dengan sangat luar biasa meninggalkan buih-buih putih. Buih-buih itu sangat banyak dan seolah menyampaikan salam perpisahan.

Kapal itu tidak hanya mengangkut penumpang berjenis manusia, tetapi juga mengangkut berbagai kendaraan. Dari kendaraan roda dua sampai kendaraan lebih dari empat roda. Saking besarnya sang kapal, berates kendaraan mampu ditampungnya. Kendaraan itu disusun sangat presisi, harus diakui itu adalah keahlian para ABK. Terlihat sekali kalau mereka sudah berpengalaman dalam membariskan kendaraan dalam kapal.

Penyusunan itu tidak sembarang orang bisa, karena jika salah dalam penempatan bisa berakibat sangat fatal. Dari informasi yang didapat, jika terjadi kesalahan dalam penyusunan kendaraan maka bisa saja terjadi musibah, semisal kapal akan oleng ke kiri atau ke kanan karena proporsi berat kiri dan kanan tidak seimbang.

Di bagian atas kapal sudah disediakan tempat istirahat untuk para penumpang. Karena kapal ini terbilang sangat mewah, maka tempat istirahat penumpang dibagi menjadi dua tipe. Ada yang memang berbentuk kursi dengan busa yang masih empuk dan ada yang berbentuk seperti tempat tidur dua tingkat. Untuk mendapatkan tempat bagi para penumpang itu pun tidak perlu memakai nomor antre, syaratnya hanya siapa cepat ia dapat dan sesuai dengan selera masing-masing.

Bagi yang menyukai kursi sebagai tempat istirahat maka boleh memiliki kursi selama pelayaran, begitu juga bagi yang senang dengan tempat tidur maka dipersilakan istirahat di sana. Istimewanya tempat istirahat dalam kapal itu juga dilengkapi dengan pendingin ruangan. Sebuah televisi juga disediakan untuk memanjakan penumpang. Hanya saja remote controlnya dikuasai oleh pemilik kapal, sehingga penumpang harus memaksakan diri untuk suka terhadap film yang diputar.

Baca Juga  Pulang (Kaeru)

Bagi para penumpang yang ingin bebas minum kopi, merokok, atau ingin menikmati desiran angin laut, maka dapat memilih beristirahat di bagian paling atas kapal. Di bagian paling atas kapal itu hanya disediakan tempat duduk seadanya. Kursinya lebih mirip kursi didepan ruang tunggu IGD rumah sakit pada umumnya. Tiga atau empat kursi terbuat dari besi dilas menjadi satu.

Minusnya ruangan paling atas ini tidak ada filter terhadap berbagai bau yang menyengat. Semua bau-bauan dengan mudah menyerang ruangan yang sering disukai para backpacker itu. Bagi para pelancong dengan ciri khas tas ransel di punggungnya itu, ruangan paling atas kapal menjadi primadona dan terkadang mereka rebutan untuk mendapatkannya.

***

“Bapak sendirian?”

Seorang penumpang backpacker menghampiri seorang pria tua yang duduk di sudut ruangan paling atas kapal. Baju dan celana yang dikenakan bapak itu sangat sederhana, sarung warna merah marun dililitkan di pinggangnya. Sebuah kopiah hitam yang tidak hitam lagi menempel di kepalanya. Posisi kopiah itu pun tidak presisi, sedikit miring ke kanan. Sebuah kantong plastik kecil warna hitam dipegangnya dengan sangat erat. Tampak isi kantong plastik sangat berharga bagi si bapak.

Baca Juga  Senyum di Akhir

Bapak itu tidak menjawab pertanyaan penumpang backpacker, bapak itu hanya menganggukkan kepalanya turun naik.

“Bapak mau ke mana?”

Sambil duduk di dekat sang bapak, penumpang backpacker itu kembali bertanya.

Bapak itu masih membisu. Tampak ada kebingungan dari wajahnya. Seperti ada yang ingin disampaikannya, tapi tidak bisa diungkapkan. Bibirnya mulai bergetar seolah akan mengeluarkan kata-kata. Namun kata-kata yang ditunggu penumpang backpacker tidak muncul juga.

“Bapak mau menemui seseorang ya?”

Penumpang backpacker itu tidak putus asa. Ia terus berusaha menggali informasi tentang si bapak.

Mendapat pertanyaan terakhir itu, mimik muka si bapak drastis berubah. Dari raut mukanya tampak bapak itu menyimpan sesuatu rahasia yang lama terpendam. Sang penumpang backpacker bisa menangkap perubahan itu. Sehingga ia semakin bersemangat untuk melontarkan pertanyaan lanjutan.

“Apakah Bapak mau menemui istri?”

“Istri saya sudah meninggal.”

Penumpang backpacker itu merasa bersalah mengajukan pertanyaan itu.

Suasana mendadak menjadi canggung. Pertanyaan terakhir seolah kembali menjadi penghalang untuk mengorek informasi dari sang bapak.

Hembusan angin laut membelai lembut wajah penumpang yang berada di ruang paling atas kapal. Ternyata kapal itu sudah berada di tengah laut lepas, sehingga tidak bisa lagi dilihat daratan, yang tampak hanya birunya air laut yang bergelombang. Terlihat juga penumpang yang lain sudah terlelap dalam mimpinya.

“Atau bapak mau menemui anak ya?”