Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 26): Ayah yang Kembali Diuji (QS. Yusuf: 63–67)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Perjalanan saudara-saudara Yusuf dari Mesir menuju rumah mereka membawa dua hal sekaligus. Harapan dan kegelisahan.

Mereka berhasil mendapatkan bahan makanan. Tetapi ada syarat yang harus mereka penuhi jika ingin kembali lagi: mereka harus membawa adik mereka, Bunyamin.

Sesampainya di rumah, percakapan yang tidak mudah pun terjadi.

Al-Qur’an menggambarkan permintaan mereka kepada ayah mereka:

“Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat bahan makanan lagi, maka izinkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat bahan makanan, dan kami benar-benar akan menjaganya.’”
(QS. Yusuf: 63)

Kalimat ini pasti mengguncang hati Nabi Ya’qub.

Baca Juga  Ramadan: Aku akan Segera Pergi, Ibadahmu Jangan Sampai Berhenti

Permintaan yang hampir sama pernah ia dengar bertahun-tahun sebelumnya. Ketika itu mereka juga meminta izin membawa Yusuf keluar bersama mereka. Mereka juga berjanji akan menjaganya.

Dan peristiwa itu berakhir dengan kehilangan yang sangat menyakitkan.

Karena itu respons Nabi Ya’qub penuh kehati-hatian.

“Apakah aku akan mempercayakan dia kepada kalian seperti aku pernah mempercayakan saudaranya dahulu?”
(QS. Yusuf: 64)

Kalimat ini menyimpan luka yang sangat dalam.

Seorang ayah tidak mudah melupakan kehilangan anak. Apalagi jika kehilangan itu terjadi karena pengkhianatan dari anak-anaknya sendiri.

Namun menariknya, Nabi Ya’qub tidak berhenti pada kecurigaan. Ia tidak membiarkan luka masa lalu berubah menjadi keputusasaan.

Ia melanjutkan dengan kalimat yang sangat indah.

Baca Juga  Rahasia Puasa di Hari ke-7: Sudahkah Hatimu Tersingkap Sebelum Terlambat

“Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”
(QS. Yusuf: 64)

Di sinilah terlihat perbedaan antara trauma yang menghancurkan dan trauma yang dimaknai dengan iman.

Nabi Ya’qub tidak menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada anak-anaknya, tetapi ia juga tidak membiarkan ketakutan menguasai hidupnya. Ia menggantungkan penjagaan kepada Allah.

Ini adalah bentuk tawakkal yang sangat matang.

Tak lama kemudian saudara-saudara Yusuf membuka karung-karung mereka dan menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Barang yang mereka gunakan untuk membayar bahan makanan ternyata dikembalikan.

Al-Qur’an menyebutkan kisah ini:

“Ketika mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang mereka yang dikembalikan kepada mereka.”
(QS. Yusuf: 65)