Amarah di Istana, Pusara di Ujung Desa

Oleh: Pecinta Damai

Di ufuk timur Kerajaan Babak Belur, dua puncak menara berdiri angkuh, saling menantang awan. Menara Perak milik Jenderal Mat Angin dan Menara Emas milik Gubernur Mat Laut. Dahulu, keduanya adalah sahabat karib dalam satu negeri yang membebaskan negeri ini dari penjajahan. Kini, mereka adalah dua kutub magnet yang saling tolak-menolak, membelah rakyat menjadi dua kubu yang dipaksa membenci satu sama lain.

Pertikaian bermula dari hal sepele: pembagian wilayah tambang di perbatasan. Namun, bagi dua ego yang telah membesar setinggi gunung, ini bukan lagi soal tambang, melainkan soal siapa yang paling berkuasa.

Baca Juga  Pantun-Pantun Semangat Literasi (Bagian I): Urang Kite Maco Nulis

Jenderal Mat Angin menutup akses jembatan utama dengan dalih keamanan militer. Sebagai balasan, Gubernur Mat Laut menghentikan pasokan pangan dari lumbung kota ke barak-barak dan desa-desa pendukung Mat Angin.

“Biarkan mereka kelaparan,” ujar Mat Laut sambil memotong daging steaknya yang berlemak. “Agar mereka tahu bahwa pedang Mat Angin tidak bisa memberi mereka makan.”

Di sisi lain, Mat Angin tertawa sinis. “Biarkan kota itu membusuk dalam sampah. Tanpa tentaraku, mereka akan hancur oleh perampok dalam semalam.”

Di tengah ego yang membara, hiduplah seorang petani bernama Mat Damai di Desa Bahtera. Desanya tepat berada di antara dua menara tersebut. Mat Damai tidak peduli siapa yang paling hebat, yang ia tahu adalah anak bungsunya, Siti, sedang demam tinggi.

Baca Juga  Gigil Rindu