Oleh: Iyek Aghnia — Penulis yang tinggal di Toboali

“Kritik mungkin tidak menyenangkan, tetapi itu perlu. Itu memenuhi fungsi yang sama dengan rasa sakit di tubuh manusia. Itu menarik perhatian pada keadaan yang tidak sehat.” (Winston Churchill )

Kritik sering kali dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Banyak orang merasa tersinggung ketika menerima kritik.

Reaksi ini wajar, karena kritik sering kali menyentuh aspek yang mungkin belum kita sadari atau terima.

Namun, jika kita mampu mengubah perspektif kita terhadap kritik, kita bisa melihatnya sebagai alat yang berharga untuk berkembang, bukan sebagai ancaman atau merusak citra diri.

Kritik bisa menjadi teman berpikir yang membantu kita merenungkan keputusan, tindakan, dan langkah-langkah ke depan dengan lebih bijaksana. Apalagi sebagai pengemban amanah rakyat.

Baca Juga  Nyelangkit Prestasi

Kritik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sosial. Kritik muncul disebabkan dari perbedaan pandangan maupun pendapat atas suatu kebijakan ataupun suatu permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Dalam Islam, kritik termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Namun, tujuan utama kritik bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memperbaiki.

Rasulullah saw mencontohkan cara menegur yang penuh hikmah, lembut, dan menjaga kehormatan orang lain. Oleh sebab itu, kritik harus disampaikan dengan adab dan niat yang lurus.

Pada sisi lain, diamnya suatu kelompok atau suatu warga masyarakat dalam melihat kebermajuan suatu pemerintahan bukanlah berarti warga atau kelompok masyarakat itu puas atas produk sebuah kebijakan publik yang dibuat oleh sebuah pemerintahan.

Baca Juga  Kejari Bangka Selatan dan Kampanye Melawan Korupsi

Bisa jadi diamnya dan tidak bersuaranya warga dan sebuah kelompok masyarakat itu mencerminkan sebuah kondisi yang tidak peduli.

Semua itu bisa diartikan sebagai suatu sikap apatis atau ketidakpedulian warga atas produk suatu pemerintahan.

Dan fenomena apatisnya warga terhadap sebuah produk pemerintah yang inheren dengan sikap masa bodoh menunjukkan sebuah kemunduran bagi sebuah pemerintahan.

Bagaimana pun juga sikap kritis sekelompok orang atau warga masyarakat sangat penting dalam membangun kebermajuan sebuah pemerintahan.

Tanpa sikap kritis dari warga atau sekelompok warga, tentu sebuah pemerintahan tidak dapat menilai performance kinerjanya dan produk yang dihasilkannya untuk kepentingan publik.

Kritik sering terasa tidak nyaman, tetapi justru di situlah letak kepedulian yang sesungguhnya. Orang yang mau mengkritik berarti ia masih memperhatikan arah hidupmu, masih peduli apakah kamu berkembang atau justru terjebak dalam kesalahan yang sama. Kritik adalah bentuk perhatian yang tidak selalu manis, tapi jujur.

Baca Juga  Benarkah Narasi untuk Kepentingan Rakyat yang Disenandungkan Pemimpin, Memang untuk Kepentingan Rakyat?

Ibn Hazm menekankan bahwa hubungan yang sehat bukan yang selalu menyenangkan, melainkan yang berani menghadirkan kebenaran.

Seseorang yang benar-benar peduli tidak akan membiarkan temannya terus salah hanya demi menjaga suasana tetap nyaman. Ia tahu bahwa diam bisa menjadi bentuk pengabaian.

Kebebasan berbicara merupakan buah pikiran yang otonom.
Dilindungi oleh konstitusi negara. Menjadi elemen penting dalam membangun kebermajuan sebuah pemerintahan.