Oleh: Eriyana, S.Pd — Kepala Sekolah TKIT Sohibul Qur’an Toboali

Di saat orang membicarakan pendidikan Islam, bayangan yang muncul sering hanya sebatas pelajaran mengaji di sekolah, kitab kuning di tangan ustaz, atau petuah yang mengalun dari mimbar masjid. Padahal, jika kita membuka kembali halaman-halaman sejarah peradaban Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang jauh lebih vital. Ia bukan sekadar kegiatan belajar, melainkan nadi yang menggerakkan umat, ruh yang membuat masyarakat muslim pernah berdiri sebagai bangsa paling maju pada zamannya.

Yang membuat pendidikan Islam berbeda adalah fondasinya: belajar dipandang sebagai bentuk ibadah, bukan sekadar jalan menuju profesi. Dua ayat Al-Qur’an yang begitu pendek, namun monumental, telah membangun kesadaran itu.

Pertama, perintah “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (QS. Al-‘Alaq: 1). Membaca di sini bukan sekadar mengeja, tetapi membaca dunia, membaca diri, membaca tanda-tanda kebesaran Allah. Kedua, janji Allah dalam QS. Al-Mujadilah: 11 bahwa orang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya. Dua pesan ini sudah cukup untuk menggerakkan generasi awal umat Islam mengejar ilmu tanpa henti.

Baca Juga  Merawat Kedamaian Bangsa

Sejarah mencatat, ruh ini melahirkan peradaban besar. Meski teknologi kala itu tidak semaju sekarang, kualitas manusianya luar biasa. Mereka membangun ilmu dengan kesungguhan, etika, dan rasa ingin tahu yang tulus.Salah satu contoh yang paling sering disebut adalah Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. Ia bisa saja hanya menjadi ilmuwan biasa, tetapi lingkungan intelektual Bayt al-Hikmah, perpustakaan dan pusat riset terbesar di zamannya, menjadi rumah yang memperkaya pikirannya.

Di sana, para ilmuwan menerjemahkan naskah dari Persia, India, Yunani, dan Romawi. Diskusi tidak dibatasi kotak disiplin. Mereka bisa membahas fikih pada pagi hari, lalu memecahkan persoalan matematika atau astronomi pada sore harinya. Kreativitas tidak dicurigai; intelektualitas tidak dibungkam.Lain lagi dengan Andalusia.

Baca Juga  Selamat Jalan Pipiet Senja, sang Pejuang Kata dan Cahaya Literasi

Pada masa kejayaannya, Cordoba tidak hanya dikenal karena arsitekturnya yang megah, tetapi juga karena peradaban literasinya. Perpustakaannya menyimpan ratusan ribu naskah, ang­ka yang bahkan untuk ukuran dunia modern pun mengagumkan. Anak-anak dibesarkan dengan budaya membaca dan menghargai ilmu.

Orang tua merasa bangga ketika anak mereka belajar, bukan saat mereka menjadi kaya. Para ulama pun memadukan akhlak dengan kecerdasan, sehingga ilmu yang tumbuh bukan hanya meng­asah otak, tetapi juga menumbuhkan jiwa.Jika dirangkum, pendidikan Islam berdiri di atas empat pilar besar:

Pertama, pendidikan berorientasi pada pembentukan adab. Ilmu tanpa akhlak tidak dianggap sebagai pencapaian. Prinsipnya sederhana: orang yang berilmu harus semakin takut berbuat zalim karena ia sadar Allah mengawasinya.

Baca Juga  Bak Jamur Tiram

Kedua, tidak ada jurang antara ilmu agama dan sains. Para ilmuwan Muslim tidak pernah menimbang mana yang lebih “penting”. Bagi mereka, semua pengetahuan adalah pintu menuju pemahaman tentang Sang Pencipta.

Ketiga, keteladanan menjadi metode utama. Guru dipandang sebagai figur moral, bukan sekadar penyampai materi. Murid belajar bukan hanya melalui penjelasan, tetapi dari bagaimana gurunya hidup.