Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara — Penulis yang tinggal di Toboali

Dalam hiruk pikuk kehidupan modern saat ini, manusia kerap mengagungkan teknologi, kecepatan produktivitas, dan estetika masa muda. Umur yang semakin menua sering kali  malah dipandang sebagai penurunan dan kemunduran.

Namun, jika kita telaah secara reflektif dan eksistensial, usia lanjut itu sebenarnya bukan hanya sekedar fase biologis, tetapi juga sebuah pencapaian yang sarat akan makna, bahkan dapat dikatakan sebagai puncak perjalanan manusia.

Bisa sampai ke usia tua renta itu merupakan privilense yang tidak semua orang mampu mencapainya, melainkan ketetapan dari Tuhan Yang Maha Esa, serta hasil dari keberlangsungan hidup, ketahanan, dan keberhasilan manusia itu sendiri yang telah melewati berbagai dinamika perubahan zaman.

Baca Juga  Perlukah Penonton Film Dilindungi?

Realitanya saat ini, banyak generasi muda yang tidak dapat mencapai ke usia lanjut disebabkan oleh berbagai faktor. Sering kali kita jumpai mereka menjalani gaya hidupnya dengan tidak sehat, ada juga yang mengalami tekanan sosial, hingga risiko lingkungan.

Lihatlah data meninggal dunia di usia muda. Betapa banyaknya daun-daun berguguran sebelum sempat menguning. Realitas pahit ini mengingatkan kita bahwa keriput di wajah merupakan medali kehormatan yang diraih melalui peperangan melawan waktu, penyakit, hingga keputusasaan.

Jangan pernah menyesali uban atau malu dengan tongkat. Sebaliknya, anak muda seharusnya menunduk hormat, bukan karena belas kasihan, tetapi karena kekaguman.

Oleh karena itu, usia tua sebaiknya harus dipandang sebagai bentuk pencapaian yang luar biasa, juga sebagai prestasi kehidupan yang mesti dihargai, bukan ditakutkan apalagi disesalkan.

Baca Juga  Pendidikan Ajaran Rasulullah

Selain itu, usia tua juga menyimpan dua dimensi utama yang tidak tergantikan, yaitu pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan didapatkan melalui belajar dan pengalaman didapatkan dari hasil interaksi langsung dengan kehidupan.

Orang-orang tua adalah arsip hidup, mereka menyimpan sejarah, kegagalan, keberhasilan, serta kebijaksanaan. Semua itu terbentuk dari perjalanan panjang yang mereka lalui.

Dalam perspektif sosiologis, mereka adalah agen transmisi nilai yang menjembatani masa lalu, masa kini dan masa depan.

Dari kini dan ke depannya,  akan sangat berharga jika generasi muda dapat menata ulang orientasi hidup. Sebagaimana cita-cita tidak lagi hanya berhenti pada pencapaian material atau posisi sosial, tetapi juga mencakup keberlanjutan hidup dan usia mereka sendiri.

Baca Juga  Trilogi Jiwa Penulis: Tebar, Sebar, Sabar

Capailah umur tua dengan bermartabat, hidup sehat, dan bermakna. Akan tetapi, untuk mencapainya, diperlukan fondasi dan prinsip hidup yang kuat, seperti disiplin, kesadaran akan kesahatan, hingga spiritualitas yang wajib dijaga melalui doa dan refleksi diri.

Berkaitan dengan prinsip hidup seseorang. Menariknya, paradigma akan pribahasa klasik seperti “Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian” perlu dikaji ulang scara kritis. Dalam konteks jangka pendek, prinsip ini mungkin relevan sebagai strategi motivasional.