Legenda Tanah Pering (Krio Panting)
Karya: Dwikki Ogi Dhaswara
Tur Kemuning Lentur..
Kemuning Lentur Karna Buah..
Biar Pering Hancur Lebur..
Cupak dan Gantang Takkan Berubah..
Satu ucapan yang menghidupkan suasana, hidupkan semangat perjuangan, hidupkan api kebenaran, tak terbatas ruang dan waktu dari anak-anak sampai yang tua berkumpul menjadi satu di tanah perjuangan, memerahkan cahaya semangat dan memutihkan pelita jiwa untuk membela tanah tercinta.
Kepalan tangan mengepal diangkat setinggi mungkin, beranjak dari peraduan hentakan kaki, sorak sorai bergelora dan membahana, bukan hanya ocehan semata, tapi persembahan kata yang paling sempurna sepanjang masa.
Untaian kata yang tersusun rapi pada hari itu, telah mengubah raga yang letih, mengubah resah yang mendulang, menjadi seberkas cahaya untuk kembali melangkah, dari seorang pemimpin yang terkenal di Tanah Pering yaitu sang pelindung atau dikenal sebagai Krio Panting.
Ucapan Krio Panting mampu membuat rakyat Pering tegap berdiri menjunjung tinggi martabat dan harga diri tanah mereka dari penguasa-penguasa yang zolim hingga penjajahan yang selama ini membuat mereka menderita dan gugur berkalang tanah.
Sedangkan perlindungan yang harusnya mereka dapatkan selama ini hanyalah sia-sia, para penguasa seolah memperdaya dan mengkhianati mereka, semesta serasa hampa hingga melepas nyawa untuk merdeka.
Air mata anak-anak hingga orang tua membasah dan mengering di wajah mereka yang lelah.
Rintihan jiwa pada peperangan, pembunuhan, ketimpangan, kemiskinan, kelaparan menyelimuti ketidakadilan yang penuh rintangan.
Harapan rakyat Pering dijatuhkan pada pundak Krio Panting sebagai sang pelindung pada saat itu.
Ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang berani menyuarakan keadilan untuk melindungi rakyat Pering hingga tanah tercinta.
Selain sebagai pemimpin di Tanah Pering, Krio Panting juga dikenal sebagai peneduh hati rakyat Pering, karena sosoknya yang teladan, pengajar dan pembimbing tanpa tanda jasa.
Semangat cerianya selalu mengiringi di setiap hari, bukan harta benda yang ia cari, melainkan dengan ilmu ia mengabdi.
Bercita-cita memajukan peradaban manusia, luas ilmu, bijak bertindak tanpa basa basi yang ia berikan namun tak harap kembali.
Menjadi pandu untuk rakyat Pering meninggalkan keterpurukan.
Sedangkan para penguasa pada saat itu, memperalat mereka dengan ketidakadilan, ketidakwajaran, dan tidak manusiawi.
Mereka diperalat oleh penguasa di tanah Bangka yang pada saat itu berada dalam penguasaan Belanda di Bumi Sriwijaya.
Mereka diperalat untuk mengeruk hasil kekayaan alam dari Tanah Pering kemudian dikirimkan ke negeri mereka.
Di sisi lain mereka juga harus berjuang untuk melawan para pengkhianat yang memihak kepada penguasa.
Sungguh hancur dan tersiksa hati mereka, maka dari itu perlawanan yang mereka dengungkan adalah puncak penderitaan yang mereka alami sejak lama.
Biar Pering Hancur Lebur, Cupak dan Gantang Takkan Berubah.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.