Yang artinya biar tanah Pering menjadi hancur lebur oleh penguasa, namun nilai harga diri, harkat martabat dan semangat perjuangan rakyat Pering tidak akan pernah berubah.

Suasana larut pada hari itu, sudah sekian lama mereka terjebak didalam ilusi penguasa.

Jantung berdegup kencang, Pedang Krio Panting sudah terbuka, kilauan kilatan pedangnya mengobarkan api semangat kemenangan dan penaklukan, hingga tersusunlah strategi dan rencana, hasil buah kata dari tajamnya lidah.

Tidak ada lagi yang berbantah, semua berujung harap bukan lagi pasrah.

Perlawanan sudah dimulai, mana kala ledakan-ledakan sudah terdengar, penyusupan ke markas penguasa seperti pemangsa yang mahir.

Akan tetapi, para pengkhianat juga tidak tinggal diam, mereka segera melaporkan kepada mata-mata penguasa yang saat itu dikuasai oleh Belanda.

Baca Juga  Ibu Pertiwi Menangis

Bahwa dalang perlawanan ini adalah Krio Panting yang selama ini mereka cari-cari.

Terdengarlah kabar keberadaan Krio Panting di Tanah Pering, membuat ia juga diburu oleh penguasa saat itu.

Darah tertumpah membanjiri tanah, hiruk pikuk teriakan perlawanan menjadi sebuah pengorbanan. Jiwa gugur tak terhitung jumlahnya.

Para pengkhianat dengan mudahnya menyusup hingga tertangkaplah Krio Panting oleh Belanda.

Ia dihukum, dipenggal, dipisahkan tubuhnya yang dimakamkan di Tanah Pering, namun kepalanya dibawa ke Bumi Sriwijaya.

Kejadian itu menyisakan kenangan pahit bagi sebagian rakyat di Tanah Pering.

Kejadian “Tanah Pering Hancur Lebur, Cupak Dan Gantang Takkan Berubah”, menjadi nyata dan meninggalkan kepedihan tanpa belas kasihan.

Baca Juga  Polda Babel Turunkan Tim Gabungan Buru Dua Perampok Toko Emas di Payung

Akan tetapi, sepahit apa pun yang terjadi, rakyat Pering tetap memegang teguh pendiriannya.

Tiada lagi pemimpin mereka, kekecewaan, kegagalan, menenggelamkan mimpi dalam lelah tiada berkesudahan. Mengkerdilkan mereka hingga menutup diri, tertutup rapat dan terkunci.

Hingga setelah sekian lama berlalu, rakyat pering ingin menghilangkan jejak kejadian di Tanah Pering dari ingatan semua orang.

Sudah cukup, jangan ada lagi tangis yang tumpah sirami jiwa-jiwa baru, maka penduduk yang tersisa mengganti nama Tanah Pering menjadi Payung“.

Penamaan ini memiliki makna yang mirip dengan sosok yang melegenda di hati mereka yakni Krio Panting sebagai sang pelindung dan peneduh hati.

TAMAT

Penulis adalah Pamong Budaya Bangka Selatan

Baca Juga  54 Pegawai Basel Disanksi Surat Peringatan, BKPSDM: Tidak Ikut Apel Potong TPP