Karya: Sheila Fiorencia Caroline

Sebuah ruangan gelap dan kosong. Itulah hal pertama yang terlintas di kepala Emilia saat pertama kali membuka matanya di tempat yang sama sekali tidak diingatnya. Dia harusnya sedang tidur dengan teman sekamarnya, Sarah.

Buruknya lagi, dia bangun dengan tubuhnya yang terikat di atas kursi plastik putih yang kontras dengan ruangan. Emilia berteriak yang ia bisa, namun yang terdengar justru gumaman tidak jelas. Seketika itu ia baru menyadari lakban yang menutupu mulutnya sedari tadi.

 Keringat menetes dengan deras dari kening dan rambutnya. Sekujur tubuhnya terasa kram dan duduk terikat bukanlah posisi yang bagus. Dia kembali berteriak, tanpa peduli seseorang akan mendengarnya atau tidak.

Dia akan terus bersuara sampai tenggorokannya berdarah. Emilia tidak tahu mengapa ia melakukannya, pikirannya kacau.

Sebuah pintu yang tidak terlihat sedari tadi tiba-tiba saja terbuka perlahan. Sesosok pria tinggi muncul dari balik bibir pintu. Pria itu membawa gunting di tangannya. Seluruh bulu kuduk Emilia berdiri, ketakutan menguasainya.

Pria itu berjalan dengan pelan mendekati Emilia sembari menodongkan guntingnya ke arah Emilia. Semakin dekat, dekat, dekat, dekat, sampai wajahnya sampai ke wajah Emilia. Gunting berada di belakang kepala Emilia. Sang pria mendekatkan bibirnya ke telinga Emilia, dia mulai menggumamkan beberapa patah kata yang membuat hati Emilia menjerit.

“Kita akan hidup bersama.”

*****

Baca Juga  Liburan Menyenangkan di Pantai Rambak Sungailiat, Pesonanya Bikin Betah

Orang-orang awam mengatakan hari esok akan jauh lebih baik. Mungkin sebaiknya mengkondisikannya pada situasi tertentu. Hal pertama yang dirasakan oleh Emilia saat terbangun dari tidurnya adalah panik. Sarah tidak ada di sebelahnya.

Dia ingat betul Sarah memeluknya sangat erat semalam sampai tidak mungkin baginya untuk lepas dari itu. Belum lepas awan hitam dari kepalanya, Sarah justru muncul sambil berteriak dari dalam kamar mandi yang membuat Emilia terlompat dari kasurnya.

“Sarah!!”

Sarah membalasnya dengan tertawa terbahak-bahak sambil berjalan dengan santai ke lemari pakaian. Emilia memicingkan matanya geram, “Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?”

“Itu berhasil, kan? Tampaknya kau lebih baik daripada semalam,” ujar Sarah dengan santai.

Baca Juga  Tujuh Karya Keigo Higashino, Novel Angsa dan Kelelawar Rilis Di Indonesia

“Tidak lucu, Sarah. Sangat tidak lucu.”

“Ssst! Sudah, sudah, sekarang kau mandi dan bersiap-siap. Jam setengah 9 kita sudah harus pergi.”

“Pergi? Ke mana?”

“Oh, itu rahasia. Sudahlah, sana mandi.” Setelah mengoceh, Sarah menyeret Emilia ke kamar mandi. Hari akan sangat panjang.

*****

Jalan-jalan yang direncanakan Sarah sebenarnya menyenangkan. Mereka pergi berlibur Taman Mini Indonesia Indah, mengambil banyak foto berharga, lalu makan di Cafe Hakuna Matata. Sarah sengaja menabung untuk mempersiapkan liburan dengan Emilia dan Emilia tidak bisa lebih berterima masih untuk itu.

Sahabatnya yang benar-benar pengertian untuknya. Sayangnya, bahkan saat liburan menyenangkannya, mimpi buruknya masih mengganggu pikirannya.

Sarah adalah anak orang kaya raya yang ingin hidup mandiri. Hebatnya, walaupun sudah hidup enak, dia tetap seorang pekerja keras.

Baca Juga  Doaku dan Doamu Menembus Langit yang Sama

Dia bahkan menghasilkan banyak uang hanya dengan menulis. Emilia adalah penggemar utama novel-novel Sarah. Tidak heran dia berani merencanakan liburan yang mahal bersama Emilia di sela-sela kehidupan kos.

Mereka pulang pada sore hari dan menemukan beberapa teman satu kos mereka sedang mengerubungi Bu Ratna. Emilia tidak terlalu mempedulikannya, namun Sarah memutuskan dia harus tahu apa yang terjadi.

“Mungkin itu masalah serius.” Begitu kira-kira alasan Sarah.

Emilia melenggok masuk ke kamarnya. Begitu membuka kunci dan masuk, Emilia terkejut bukan main melihat kamarnya berantakan. Seingatnya kamar mereka rapi sebelum pergi dan mereka membawa kunci utama dan kunci cadangan bersama mereka.

Sebuket mawar merah hancur berserakan di lantai, sekotak cokelat yang tutupnya terbuka juga tergeletak di lantai, dan surat-surat bertebaran di lantai dan kasurnya. Anehnya, surat yang semalam lupa dia buka masih berada di tempatnya. Masih dalam keadaan kaget dan bingung, tiba-tiba Sarah muncul dari belakangnya.