Anatomi Kultus dan Batas Relasi: Mengapa Glorifikasi Berujung pada Tragedi
Oleh: Sobirin Malian — Dosen FH UAD
Pencabulan puluhan santriwati di berbagai pondok pesantren dan lembaga pendidikan agama belakangan ini bukanlah sekadar kasus kasuistik ini adalah fenomena gunung es. Tragedi ini menjadi bukti nyata bahwa dosa dan khilaf dapat tumbuh subur di lahan subur bernama nasab yang dikultuskan, status sosial yang diglorifikasi, dan sosok yang disucikan seolah tidak bisa berbuat salah.
Daya Rusak Glorifikasi dan Kultus Individu
Secara sosiologis, glorifikasi adalah aksi melebih-lebihkan seseorang hingga terkesan sempurna tanpa cela. Sementara kultus adalah sistem pengabdian atau loyalitas berlebihan terhadap tokoh yang dianggap suci. Keduanya melahirkan sikap taqlid buta, menghilangkan akal sehat, dan cenderung mistis.
Dalam perspektif Muhammadiyah, gerakan melawan Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat (TBC) bukan sekadar soal pemurnian ibadah, melainkan sebuah demokratisasi spiritual. Tujuannya jelas: mencegah manusia menjadi “tuhan-tuhan kecil”. Orang alim yang ditahayulkan dan dikeramatkan sangat berbahaya; ibarat senjata mematikan di tangan orang yang salah. Di Muhammadiyah, pimpinan tidak ada yang kebal kritik, karena kesucian mutlak hanya milik Allah.
Tinjauan Psikologis: Penghancuran Ego dan Grooming Spiritual
Secara psikologis, lingkungan yang sangat kultus menciptakan undue influence (pengaruh yang tidak semestinya). Di sinilah terjadi mekanisme yang merusak:
1. Disonansi Kognitif: Ketika tokoh yang disucikan melakukan kejahatan, pengikut mengalami gejolak batin. Namun, karena doktrin “kualat” sudah tertanam di amigdala (pusat rasa takut), mereka melakukan penyangkalan (denial) dan justru mencari pembenaran atas perilaku bejat sang tokoh.
2. Mitos sebagai Alat Subordinasi: Cerita khurafat seperti bisa terbang, memadamkan api jahanam, hingga bertemu Tuhan adalah bahan bakar glorifikasi. Secara psikologis, ini melumpuhkan nalar kritis santri sehingga mereka merasa tidak layak menilai etika sang guru.
