Oleh: Sobirin Malian — Dosen FH UAD

Indonesia sesungguhnya tidak pernah kekurangan orang baik. Yang kita krisiskan hari ini adalah keberanian mereka untuk berdiri bersama cahaya. Sebab terlalu lama negeri ini dididik oleh rasa takut: takut miskin, takut berbeda, takut kehilangan jabatan, hingga takut melawan arus kebohongan yang celakanya sudah dianggap sebagai kebiasaan.

Akibatnya, korupsi tumbuh subur bukan hanya di meja-meja kekuasaan, melainkan menjalar ke lidah yang memuji demi keuntungan, ke hati yang menjual nurani demi kenyamanan, dan ke mata yang melihat salah namun memilih bungkam. Di tengah riuh rendah kepalsuan itu, kita pun tertegun bertanya: Ke mana perginya orang-orang baik?
Mungkin, mereka masih ada.

Baca Juga  HUT Sungailiat: Bukan Soal Meriah, Tapi Soal Arah

Mereka sedang bersila di pasar kecil sembari jujur menimbang dagangan. Mereka adalah guru desa yang tetap mengajar meski hidupnya nyaris terlupakan, petani yang menanam dengan selipan doa, atau ibu yang mendidik anaknya agar tak menyentuh yang bukan haknya. Mereka adalah pegawai kecil yang tegas menolak suap meski gajinya tak cukup untuk membeli mimpi.

Mereka ada, namun cahaya mereka tercerai-berai. Di sinilah letak tragedi kita: bahwa kejahatan yang terorganisir dengan rapi akan selalu mengalahkan kebenaran yang tercerai-berai.

Sementara orang baik sibuk dengan kesalehan pribadinya masing-masing, kegelapan justru giat bekerja sama. Padahal, Rasulullah saw telah mengingatkan bahwa iman bukan sekadar urusan batin, melainkan aksi nyata: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Baca Juga  Keluar dari Jebakan Waktu