Perempuan yang Dirindukan Surga
Karya: Khoiriah Apriza
CERPEN, Cuaca sore ini cukup bersahabat. Tidak panas dan juga tidak hujan. Terlihat seorang gadis cantik dengan tongkat kayu berukir “Humaira” di dekat pegangannya.
Juga terdapat bandul sederhana sebuah kupu-kupu yang menghiasi tongkat tersebut. Gadis itu berjalan dengan menggerakkan tongkat nya pelan ke kanan dan ke kiri secara bergantian.
Dia lah Humaira, Seorang gadis cantik yang buta akibat kecelakaan, lima tahun yang lalu.
“Mbak Humaira, Mau buka puasa sama apa nanti?” tanya Mbok Lastri kepada majikannya.
“Kemungkinan aku buka puasa di panti Mbok,” jawab Humaira, Ia berjalan keluar rumah menuju bagasi mobilnya. Di belakangnya, Mbok Lastri mengikuti.
“Nanti aku pulangnya habis salat tarawih ya Mbok. Kalau bunda cariin, bilang aja aku ke panti,” ujar Humaira.
Ia memasuki mobil yang sudah di buka pintu nya dengan Pak Sugeng selaku sopir yang selalu mengantar Humaira ketika berpergian.
“Iya Mbak, Hati-hati dijalan ya,” ujar Mbak Lastri yang khawatir dengan majikannya itu.
“Iya Mbok, Assalamualaikum,” salam Humaira, kemudian mobilnya pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Di perjalanan, Humaira membuka jendela mobil. Ia dapat merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya yang putih bersih.
Tak lupa juga ada semburat kemerahan menghiasi pipi nya. Humaira tersenyum menikmati, Seolah ia bisa melihat pemandangan indah di luar sana.
Sudah lima tahun Humaira buta akibat kecelakaan yang terjadi saat pulang dari klub malam. Dulu, Humaira adalah anak yang nakal.
Tidak berhijab, tidak pernah beribadah, suka pacaran, bermain di klub malam dan masih banyak lagi. Namun, karena kecelakaan yang menimpa nya membuatnya tersadar dan berakhir tobat.
Rutinitas Humaira sehari-hari adalah mengajar di sekolah anak berkebutuhan khusus. Selain itu, jika ia ada waktu luang akan berkunjung ke panti asuhan.
Seperti jadwal nya, Hari ini Humaira mengunjungi panti asuhan yang biasa ia kunjungi.
Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, Akhirnya Humaira telah sampai di Panti asuhan Al Muhajirin. Pak Sugeng memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Kemudian ia keluar dari mobil dan segera membuka pintu mobil untuk Humaira.
Angin berhembus lembut mengenai wajah Humaira dan mengibarkan hijab putih segi empatnya.
Humaira tersenyum seraya mengucapkan terima kasih kepada Pak Sugeng. Ia berjalan dengan pelan menuju gedung panti yang bercat biru muda tersebut.
“Assalamualaikum Mbak Humaira,” salam Mila, kemudian ia menyalimi tangan Humaira, di susul oleh anak-anak yang lain.
“Waalaikumussalam, apa kabar adik-adik semua?” tanya Humaira dengan wajah nampak begitu bersinar berseri-seri.
“Alhamdulillah, Baik Mbak!” jawab mereka semua dengan semangat tak lupa dengan senyuman yang manis.
“Puasa semuanya?” tanya Humaira sambil tersenyum mendengar semangat anak-anak panti.
“Alhamdulillah, Puasa Mbak,” jawab mereka bersamaan.
“Alhamdulillah,” ujar Humaira masih tetap mempertahankan senyumannya.
“Masya Allah, Senyumanmu mampu membuatku ikut tersenyum Mbak,” celetuk seorang laki-laki dari balik pintu.
Ia menghampiri Humaira dan anak-anak yang berada di ruang bermain.
“Mas Sandi bisa saja,” ujar Humaira menundukkan pandangannya.
“Cie-cie,” goda Anak-anak panti sambil tersenyum jahil.
“Huss, Jangan seperti itu. Sudah lanjutkan belajar nya. Mas mau bersih-bersih mushola,” ujar Sandi mengingat kan, Ia kemudian pergi meninggalkan mereka semua setelah mengucapkan salam.
“Mbak, Abil mau tanya dong. Bagaimana cara kita ikhlas menerima cobaan yang telah Allah berikan kepada kita?” tanya anak laki-laki berkulit putih bernama Abil.
“Cara ya, kita yakin kan kepada diri kita. Bahwa, segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik untuk diri kita. Yakinlah, Bahwa Allah punya rencana terbaik untuk setiap hambanya. Memang mungkin berat menjalani cobaan tersebut. Tetapi yakin lah, segala sesuatu yang Allah berikan pasti ada hikmahnya,” jawab Humaira tersenyum.
“Mbak mau sedikit cerita. Dulu saat Mbak masih bisa melihat, Mbak itu suka berbuat maksiat. Terus jarang banget beribadah sama Allah. Suka jahatin orang, pokoknya banyak banget lah. Terus, Alhamdulillah Allah datangkan ujian kepada Mbak dengan cara kecelakaan yang membuat Mbak buta. Awalnya Mbak marah, dan tidak ikhlas sama takdir. Tetapi, Setelah Mbak berdamai dengan diri Mbak sendiri, dan percaya sama semua ketetapan Allah. Mbak bisa menerima semua secara perlahan. Alhamdulillah, Semenjak Mbak buta, tidak lagi melakukan kemaksiatan itu. Mbak jadi sadar, Kalau yang Mbak lakukan itu salah. Nah, dari cerita Mbak kita tau. Bahwa, di balik cobaan yang telah Allah berikan kepada kita pasti ada hikmahnya. Sekarang, Abil dan yang lainnya ngerti kan?” lanjut Humaira.
“Masya Allah, Ngerti Mbak,” jawab Abil dan yang lainnya.
“Alhamdulillah, sini peluk Mbak,” Humaira merentangkan tangannya, menyuruh semua anak-anak memeluk nya.
Tanpa disuruh dua kali, Anak-anak mendekat dan memeluk Humaira. Tanpa sadar, Humaira meneteskan air matanya. Dengan bertemu mereka, rasa syukur Humaira bertambah berkali-kali lipat.
***
“Mau beli takjil apa anak-anak?” tanya Humaira. Saat ini mereka semua sedang berada di pasar untuk berburu takjil.
Sandi dan Hamdan selaku guru ngaji di panti juga ikut mengawasi mereka. Tak lupa juga, Namira anak dari pemilik panti ikut membersamai.
“Mau es buah Mbak,” jawab Abdul semangat.
“Aku mau somay itu Mbak,” jawab Mila.
Anak-anak yang lainnya juga tak mau kalah menyebutkan makanan yang mereka mau.
“Kalian beli saja makanannya ya, biar Mbak yang bayar. Tapi, jangan serakah ya, beli sesuai kebutuhan. Nanti Mubazir,” ujar Humaira mengingatkan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.