Mencuri Ilmu
Oleh: Syabaharza
“Prok………prok……..prok………..”
Tepuk tangan bergemuruh di dalam ruang kantor kepala desa. Diiringi ucapan selamat dari semua warga yang hadir, tampak sesosok anak laki-laki yang masih berusia sekitar 11 tahun berdiri termangu. Tangannya dibiarkan teruntai. Sesekali tangan itu diangkat untuk menerima tangan lain yang mengucapkan kata selamat. Sebagian warga masih penasaran dengan prestasi yang diraih anak itu.
Tidak ada yang menyangka ternyata anak laki-laki itu berhasil menyabet juara lomba menghitung cepat pelajaran matematika yang diselenggarakan oleh kepala desa. Keheranan warga dikarenakan anak laki-laki itu dikenal sebagai anak putus sekolah dan tidak pernah ikut pembelajaran di mana pun.
Selama ini warga mengira ia adalah anak yang memiliki IQ di bawah rata-rata. Justifikasi tersebut berdasarkan atas tingkah laku anak laki-laki itu yang lebih banyak tidak nyambung ketika diajak berbicara. Jangankan membahas pertanyaan yang berat ditanya penjumlahan dasar saja ia tidak bisa menjawabnya. Bahkan dalam menghitung uang yang dipegangnya saja terkadang ia keliru.
Hal itu berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Sehingga di saat ia memberanikan diri ikut lomba tentang matematika, semua orang mencibirnya bahkan terkesan menghinanya. Hampir seluruh warga menolaknya untuk menjadi peserta, untung kepala desa bersikap adil. Sang kepala desa memberikan kesempatan kepada anak laki-laki itu untuk mendaftar dan mengikuti lomba. Alasan kepala desa adalah demi keadilan terhadap sesama.
Selain izin kepala desa, ada seseorang lagi yang membuat anak laki-laki itu berani untuk mengikuti perlombaan. Semangat dari seseorang itulah yang membuat anak laki-laki itu berani menerima tantangan yang mungkin saja akan menurunkan harga dirinya. Bagaimana tidak, yang dihadapinya dalam lomba tersebut adalah anak-anak yang sudah terlatih setidaknya di tempat mereka sekolah.
Ada juga peserta yang sengaja dileskan orang tuanya demi menghadapi event tersebut. Apalagi lomba itu diikuti oleh beberapa desa yang lain, artinya walaupun ia memiliki kemampuan yang mumpuni terkait per-matematika-an, peluang untuk juara tetap saja kecil. Tapi, dengan semangat dari seseorang yang merupakan teman karibnya itu, ia memberanikan diri mengadu nasib.
*****
“Prul, ini ada lomba tentang matematika, kamu ikut ya!”
Temannya menyodorkan sebuah brosur dengan penuh semangat.
“Aku yakin kamu pasti menjadi pemenangnya!”
Temannya terus meyakinkan agar ia bersedia ikut perlombaan tersebut.
“Kamu saja, aku malu”
Ia menolak dengan halus, sambil jari tangannya saling berpegangan.
“Kalau aku tidak memiliki skill di bidang itu, kalau kamu aku yakin pasti bisa”
Temannya terus meyakinkan, sambil mengutarakan sebab ia tidak ingin ikut.
“Aku juga sama, tidak memiliki ilmu apa pun”
“Keseharianku hanya pengembala kambing, mana sempat aku belajar”
“Hey….Semprul, kau harus ikut lomba ini, karena kau mempunyai skill untuk itu”
Kali ini suara temannya sedikit meninggi, sambil memanggil nama aliasnya.
Jika temannya sudah memanggil nama palsunya itu, anak laki-laki sudah faham bahwa temannya itu memang tidak main-main.
Nama aslinya bukan seperti yang disebutkan temannya tadi, tapi ia lebih nyaman jika dipanggil dengan nama itu. Sehingga sampai sekarang tidak ada yang tahu nama aslinya selain kedua orang tuanya. Tapi tampaknya rahasia nama aslinya itu akan terus menjadi misteri, karena kedua orang tuanya sudah meninggal semenjak ia berusia tiga tahun. Sehingga tidak akan ada lagi yang dapat mencari informasi tentang nama aslinya.
“Baiklah, aku siap ikut lomba itu”
Akhirnya si Semprul takluk juga oleh bujukan temannya.
Begitulah kronologinya sehingga si Semprul mau mengikuti perlombaan tersebut.
*****
Keberhasilan anak laki-laki yang dikenal tidak pernah makan bangku sekolahan itu begitu cepat tersebar ke penjuru desa. Foto-fotonya ketika menerima piala dan ucapan selamat dari penonton sekarang menghiasi beberapa platform media sosial.
Di grup WhatsApp milik pemerintah desa ramai dibahas tentang prestasinya yang di luar dugaan. Anak laki-laki itu sekarang ibarat seorang selebriti yang terkenal. Setiap hari ada saja topik yang dibicarakan tentang dirinya. Di berbagai tempat pun tema yang diobrolkan pasti membahas tentang dirinya. Di warung kopi sampai di tempat pemandian selalu saja ada namanya diperbincangkan.
Namun setiap sesuatu pasti ada saja yang akan mencari-cari sisi negatifnya. Ada yang menganggap keberhasilan anak laki-laki itu suatu yang tidak wajar. Sehingga ada saja yang berusaha mencari-cari kelemahan anak laki-laki itu bahkan ada yang menghubung-hubungkan kemenangan anak laki-laki itu dengan dunia mistis.
Ada sebagian orang yang berasumsi bahwa keberhasilan anak laki-laki itu dibantu oleh makhluk halus. Makhluk halus berperan penting ketika anak laki-laki mengerjakan soal yang diberikan saat lomba. Karena dibantu makhluk halus itulah si anak laki-laki dengan mudah mengerjakan semua soal yang diberikan.
“Aku yakin ia pasti menggunakan kekuatan gaib”
Seloroh seorang pria paruh baya berkumis tebal sambil memakan pisang goreng di sebuah warung kopi. Kumisnya sudah mulai memutih, giginya sudah mulai rompang, sehingga terkadang potongan pisang goreng terjun dari sela-sela giginya.
“Betul juga itu, mana mungkin ia sehebat itu kalau tidak ada bantuan makhluk halus”
Seorang pria yang seumuran menimpali. Pria yang satu ini sedikit lebih rapi wajahnya, karena tidak memiliki kumis dan janggut. Pria ini juga memasukkan sebuah pisang goreng ke mulutnya.
“Aku juga sependapat dengan kalian”
