Mencuri Ilmu
Sekarang giliran pemilik warung mencoba bersekongkol dengan kedua pria tadi, sambil membawa dua gelas kopi hitam.
“Dia kan tidak pernah sekolah, dan juga tidak pernah kita lihat dia belajar dengan seseorang”
Pemilik warung kembali mengutarakan pendapatnya, seolah ingin ikut dalam argumen kedua pria tadi.
“Nah…maka dari itu aku curiga tadi”
Pria berkumis putih menyahut apa yang disampaikan pemilik warung, diikuti anggukan dari pria berwajah rapi tadi.
“Kalau memang hal itu benar, maka kita harus bertindak, kita harus melaporkannya kepada kepala desa”
Pemilik warung memberikan pendapatnya kembali, tapi nadanya seperti memprovokasi kedua pria itu.
Kedua pria itu mengangguk bersamaan seperti mendapat komando. Sambil mereka menyeruput kopi yang masih mengeluarkan asap.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam”
Kedua pria dan pemilik warung spontan menjawab salam yang tiba-tiba itu. Mereka melihat kearah orang yang memberikan salam. Sontak saja obrolan mereka terhenti tatkala melihat siapa yang datang.
“Lagi membicarakan apa nih, tampaknya serius betul”
Orang yang baru datang itu ternyata teman si Semprul. Kedua pria dan pemilik warung tahu betul bahwa orang itu selalu mendukung si Semprul dalam setiap kegiatan. Sehingga akan beresiko jika mengutarakan niat mereka tadi kepada orang itu.
“Tidak apa-apa, cuma berbincang ringan saja”
Setelah itu oborolan mereka berubah topik. Teman si Semprul turut memesan kopi dan ikut larut dalam obrolan. Sementara kedua pria dan pemilik warung masih menyisakan tanda tanya prihal keberhasilan si Semprul sang anak laki-laki yang sudah menjuarai perlombaan matematika itu.
*****
Sore itu, di balik sebuah gubuk tampak seorang anak laki-laki mengendap di samping dinding yang terbuat dari papan. Di tangannya tampak sebuah buku dan alat tulis. Setelah mendapatkan posisi yang baik, ia langsung menempelkan telinganya ke dinding gubuk. Di dalam gubuk ada beberapa anak seusianya sedang khidmat mendengarkan penjelasan dari seorang perempuan yang berusia sekitar 40 tahun.
Perempuan itu ternyata seorang guru les privat. Spesifikasi keahlian perempuan itu adalah guru matematika. Beberapa anak yang ada dalam gubuk itu ternyata sedang mengikuti les matematika. Anak-anak itu merupakan siswa dari sekolah di desa itu.
“Hayo….lagi apa kamu Prul”
Tiba-tiba anak laki-laki yang menempelkan telinganya tadi terkejut. Ia secepat kilat menjauh dari dinding gubuk. Begitu ia mengetahui siapa yang datang, ia sedikit agak lega walaupun sebenarnya ia merasa malu.
“kenapa kamu bisa tahu aku di sini”
Masih dalam keadaan kaget, Semprul bertanya kepada temannya yang masih berdiri di hadapannya.
“Aku sudah tahu dari pertama kamu ikut belajar secara sembunyi-bunyi di sini”
“jadi……”
“Iya, aku sudah tahu sejak lama, makanya aku menyuruhmu untuk ikut lomba itu”
Belum sempat Semprul bertanya, temannya sudah menjelaskan panjang lebar. Semprul terperangah, rasa malunya semakin menebal. Ia malu jika temannya itu membocorkan rahasianya selama ini. Ia malu jika ketahuan selama ini ia ikut belajar secara sembunyi-sembunyi.
Semprul sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu, namun keinginannya untuk belajar membuat ia nekat melakukan itu. Sebenarnya Semprul ingin ikut belajar secara langsung di dalam gubuk bergabung dengan anak-anak yang lain. Tapi ia malu karena tidak mempunyai biaya membayar uang jasa guru, akhirnya ia memberanikan diri ikut belajar dengan cara seperti itu.
“Walaupun ilmu yang kau dapatkan ini bisa dikategorikan hasil mencuri, tapi aku tidak bisa menyalahkanmu juga”
Semprul hanya tersenyum getir
“Tapi, jika kau mau ikut belajar secara legal, aku siap membantu berbicara dengan bu guru itu, masalah biaya nanti kita usahakan bersama”
Mendengar saran dan masukan dari temannya itu, Semprul tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menatap tajam temannya itu. Rasa haru menyeruak ke dalam hatinya. Lalu ia memeluk temannya itu dengan penuh rasa persaudaraan dan bangga.
“Terima kasih ya, hanya engkau yang bisa mengerti denganku”
Kata-kata itu terucap dengan tulus dari bibir Semprul dan pelukannya semakin erat. Pelukan itu semakin hangat mengalahkan dinginnya angin sore itu.
*****
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]
