Atas Nama Pembangunan, Hutan Papua Dikorbankan
Oleh: Adithiya Saputra — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung
Hutan papua, terkenal dengan kawasan hutan tropis terbesar dengan keanekaragaman hayati, namun saat ini hal tersebut mungkin hanya akan jadi bayangan masa lalu, akibat banyaknya penggusuran hutan adat demi kelanjutan food estate dan proyek perkebunan masyarakat. Papua menghadapi ancaman akan hilangnya tanah lelubur mereka akibat dari industri sawit dan proyek strategis nasional.
Atas nama “ketahanan pangan” dan transisi energi, masyarakat adat di Marauke, Boven Digoel dan Mappi mulai kehilangan ruang hidup mereka akibat dari pembukaan hutan dalam skala besar, jutaan hektar hutan di papua akan dibangun perkebunan kelapa sawit, tebu bioetanol, sampai kawasan pangan industri
Fenemona ini menunjukan bahwa persoalan hutan bukan hanya sekadar isu lingkungan tetapi sudah masuk menjadi bagian dari politik sumber daya terlihat dari bagaimana negara, perusahaan, dan masyarakat saling memperebutkan akses dan kekuasaan atas sumber daya alam. Dalam kasus ini masyarakat adat seperti papua biasanya menjadi pihak yang paling lemah dalam relasi tersebut.
Konsep perhutanan sosial sebenarnya hadir untuk menjadi solusi bagi masyarakat agar memperoleh hak resmi dalam mengelola hutan secara lestari, dengan program ini diharapkan bisa menciptakan pemerataan akses sumber daya, mengurangi konflik agraria dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. Namun pada kenyataannya implementasi perhutanan sosial masih menghadapi banyak tantangan terutama ketika berhadapan dengan kepentingan investasi dalam skala besar.
Berdasarkan data dari badan pusat statistik ekspansi perkebunan kelapa sawit di papua terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS tahun 2024, total luas perkebunan kelapa sawit di papua mencapai sekitar 234.849 hektare.
Ribu hektare terutama di Papua Selatan yang menjadi wilayah dengan perkebunan kelapa sawit terbesar, yaitu sekitar 97.831 ribu hektare atau sekitar 41,66 % dari total perkebunan kelapa sawit di Papua diikuti Papua Barat sekitar 53.047 ribu hektare dan Provinsi Papua sekitar 42.171 ribu hektare.
Pemerintah daerah Papua Selatan sendiri menyebutkan bahwa sektor kelapa sawit menjadi salah satu bagian terpenting dalam menopang ekonomi daerah. Kawasan Merauke, Boven Digoel, dan Mappi kini telah berubah menjadi pusat konsentrasi perkebunan sawit dan proyek bioenergi.
Namun disisi lain, masyarakat adat Papua memandang hutan bukan hanya sebagai sumber ekonomi tetapi bagian dari identitas budaya dan spiritual mereka. Oleh karena itu banyak masyarakat adat Papua mulai memasang salib merah di hutan hutan adat mereka sebagai simbol perlawanan. Mereka menolak keras tanah adat yang mereka jaga dijadikan objek investasi.
