Oleh: Kaum Pecinta Damai

Di atas kursi kokoh yang terbuat dari jati pilihan,

Engkau duduk nyaman, menatap langit-langit penuh kemewahan.

Namun pandanganmu rabun, atau sengaja kau buat kabur,

Ketika di luar sana, jerit kelaparan perlahan mengubur.

Kau bertitah lewat lembaran kertas dan layar kaca,

Bicara angka, aplikasi, dan sistem yang dipuja-puja.

Namun di balik tirai istanamu yang megah berdiri,

Rakyatmu mengais sisa mimpi di tanah yang mulai kering kerontang ini.

Mata itu terbuka, tapi buta pada luka,

Melihat jajaran nama, tapi lupa pada raga yang sengsara.

Telinga itu mendengar, tapi hanya pada pujian semu,

Menulisi sejarah sendiri, mengabaikan tangis di bawah kakimu.

Baca Juga  Tala di Negeri Serumpun Sebalai

Namun kau lupa bercermin, siapa yang sebenarnya patut diempati

Sebab pemimpin yang buta bukan mereka yang tak punya mata,

Melainkan mereka yang tahu rakyatnya menderita, namun memilih menutup dada.