Oleh: Rapi, S.Pd. 

Pada jam-jam rehat, ketika pekerjaan sejenak berhenti dan kopi mulai mendingin di sudut meja, banyak orang memilih menatap layar. Ada yang menggulir berita, ada yang membalas pesan, ada pula yang menyambung episode drama yang tertunda semalam. Di ruang tunggu, di angkutan umum, bahkan di sela-sela jam istirahat sekolah, potongan-potongan cerita itu mengalir pelan, menemani lelah yang tak selalu sempat diceritakan.

Belakangan, drama Cina atau Dracin semakin sering hadir dalam keseharian. Ia ditonton secara maraton, dibicarakan di grup percakapan, dan direkomendasikan dari satu orang ke orang lain. Kisah tentang tokoh biasa yang perlahan menjelma luar biasa menemukan penontonnya sendiri.

Baca Juga  Mari Bermedsos Ria

Barangkali karena narasi semacam itu menawarkan sesuatu yang kian langka, rasa menang.

Dalam banyak dracin populer, tokoh utama hampir selalu memulai dari posisi yang rapuh. Diremehkan, dipinggirkan, bahkan dikhianati. Namun melalui kecerdikan dan ketekunan, ia bangkit. Pada akhirnya, ia berdiri di tempat yang dulu hanya bisa ia pandangi dari jauh. Mereka yang menindas pun tersingkir dari panggung.

Penonton mengikuti perjalanan itu dengan harap. Kemenangan sang tokoh terasa personal, seolah menjadi pengganti bagi kemenangan-kemenangan kecil yang sulit diraih dalam kehidupan nyata.

Di titik ini, dracin tidak lagi sekadar hiburan. Ia menjelma ruang katarsis kolektif. Sebab di balik layar kecil itu, tersimpan kelelahan yang besar.

Baca Juga  Modal Pas-pasan, Usaha Tetap Jalan: Rahasia Bertahan Bakso Tahu Ibu Lisda

Banyak orang bekerja keras, tetapi tetap bergulat dengan biaya hidup yang terus meningkat. Anak-anak muda menyusun mimpi di tengah ketidakpastian. Para pekerja informal bertahan dengan penghasilan yang tak menentu. Pedagang kecil menghitung hari, pekerja lepas menunggu panggilan, pegawai kontrak hidup dari perpanjangan demi perpanjangan. Di ruang keluarga, kegelisahan tentang masa depan sering disamarkan dengan tawa ringan dan guliran video.

Dracin menawarkan dunia yang lebih sederhana. Di sana, kerja keras hampir selalu menemukan jalannya. Hambatan hadir sebagai konflik dramatik, bukan sebagai sistem yang berlapis dan berbelit. Kemenangan datang sebagai klimaks cerita, bukan hasil negosiasi panjang dengan realitas sosial.

Sementara itu, kehidupan berjalan dengan tempo berbeda. Banyak orang bergerak perlahan, tersandung berulang kali, dan tetap harus melanjutkan langkah. Tidak semua perjuangan punya saksi. Tidak semua ketekunan memperoleh panggung.

Baca Juga  Ketika Guru Belajar Koding dan Kecerdasan Artificial