Oleh: Sang Peramu Aksara (Agus Bachtiar K)

Angan ini melenting jauh,
tetiba rindu pada tanahmu.
Aroma khas suasana pagi,
kala mesin belum berderu.

Gegasan pak tua dan sang nenek
anggun mengayuh roda dua berhias usang.
Nada nyaring bel sepeda berdering,
singkirkan prasangka-prasangka miring.
Menyapa di kanan-kiri dengan hatinya,
menjemputi sedikit rupiah hari ini
dengan gagah dan tengadah pasti.

Aku rindu rona langitmu
yang bersih, tak berhias abu kelabu.
Gemericik canda para penuntut ilmu
keluar cerah dari pintu-pintu kayu
memasang rupa sumringah,
melangkah cepat tanpa kesah.

Becak dan andong berseliweran,
menambah syahdu rupa jalanan.
Angin pagi berwarna biru.
Dan diriku … makin tertusuk rindu.

Baca Juga  Syair tanpa Judul

Di sana ada aroma, ada cerita:
suka, nestapa, dan cinta.
Jogja kala sunyi telah pergi;
dipenggal caci dan makian kini,
tersulih bingar rapat dan padat.