Oleh: Syabaharza

“Tidak ada kata lain, anakku harus ditemukan.”

Seorang pria kurus dengan kumis tebalnya berbicara kepada dua pria lain di depannya. Sang pria duduk di sebuah kursi empuk berwarna kuning keemasan, sementara dua pria lainnya duduk di lantai yang terbuat dari marmer.

“Sukar, kamu segera hubungi kepala desa, sampaikan kabar ini.”

“Dan kamu, Heri, buat pengumuman dan sebarkan kepada Masyarakat.”

“Siap, Pak.”

Kedua pria yang tadi duduk di lantai bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu keluar. Tampaknya mereka sudah paham dengan tugas yang diberikan bosnya.

Sang pria yang tadi duduk di kursi empuk kemudian berdiri dan meraih ponsel pintarnya. Ia mencari sebuah kontak yang mungkin saja bisa menolongnya. Beberapa detik kemudian nomor yang dicari ditemukan.

“Halo bu bendahara, maaf mengganggu.”

“Nanti tolong siapkan uang ya untuk biaya pencarian anak saya, terima kasih ya!”

Percakapan terputus. Sang pejabat tersenyum penuh kelegaan.

*****

Suasana desa Dalpel siang itu mendadak ramai. Adanya selebaran tentang hilangnya seorang anak yang ditempel di beberapa tempat menggemparkan masyarakat. Walaupun sebenarnya sudah sering terjadi peristiwa seperti itu, namun yang membuat heboh kali ini adalah kedudukan anak yang hilang tersebut. Kalau selama ini anak hilang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, namun kali ini anak yang hilang adalah anak pejabat, anggota dewan. Oleh karena itu seluruh masyarakat desa mendadak ingin menjadi pahlawan.

Semua orang berusaha untuk menemukan sang anak pejabat tersebut. Selain ingin mencari muka dengan sang pejabat, masyarakat juga termotivasi dengan imbalan yang dijanjikan. Dalam kertas pengumunan, sang pejabat berjanji akan memberikan sejumlah uang dalam jumlah jutaan bagi siapa saja yang mampu menemukan anaknya. Kontan saja masyarakat mulai mengeluarkan segala kemampuannya. Mulai dari anak-anak sampai yang tua renta berbondong-bondong mengikuti sayembara itu. Bagi mereka imbalan yang dijanjikan dapat menolong perekonomian mereka di saat susahnya mencari penghasilan.

Baca Juga  Melawan Riuh

Perlakuan dan respon yang berbeda ketika menghadapi anak hilang tersebut secara tidak langsung juga membuat sebagian masyarakat bertanya-tanya dalam hati. Sebagian masyarakat mempertanyakan kenapa ketika anak orang biasa hilang tidak seheboh seperti sekarang, bahkan ketika ada anak orang biasa yang hilang kesannya diabaikan. Laporan pun hanya diterima kemudian ditumpuk di meja kerja pejabat dan dalam hitungan minggu laporan itu akan hilang seperti asap rokok yang dihisap para pejabat itu. Kasusnya akan hilang terbawa angin keangkuhan dan ketidakpedulian pejabat tersebut.

Kasus hilangnya anak di desa tersebut sudah puluhan, namun selama kejadian itu tidak ada satu pun anak yang ditemukan. Sehingga sebagian masyarakat yang anaknya hilang terkadang hanya bisa pasrah. Mereka sudah menganggap itu sebuha takdir dari sang pencipta. Sebagian besar masyarakat hanya bisa memperingatkan anak-anak mereka untuk tidak keluar rumah pada malam hari, sehingga ketika azan magrib berkumandang anak-anak di desa itu harus sudah berada di rumah. Karena kejadian hilangnya anak selalu terjadi pada malam hari.

*****

“Apakah Bapak mempunyai musuh politik.?”

“Saya rasa tidak ada, Pak Kades.”

Malam itu sang pejabat mendatangi rumah kepala desa Dalpel demi untuk memastikan progres pencarian anaknya yang hilang.

Baca Juga  Antara Pribumi dan Wabah di Blinjoe 1836

“Pokoknya saya mau anak saya ditemukan, berapa pun biayanya.”

“Dia anak saya satu-satunya, Pak.”

Sang pejabat meminta kepada kepala desa untuk tetap berusaha menemukan anaknya, walaupun intonasi bicaranya seakan-akan memberi perintah.

“Kita usahakan ya Pak, karena selama ini kita selalu gagal mencari anak yang hilang di desa kita.”

“Tapi, selama ini pemerintah desa memang tidak mencari dengan serius kan Pak?”

“Saya tahu, selama ini tidak ada imbalan untuk mencari anak yang hilang atau bahasa kerennya tidak ada uang rokoknya.”

Sang pejabat meneruskan hegemoninya terhadap kepala desa. Ia terus berusaha membujuk kepala desa agar sungguh-sungguh dalam mencari anaknya.

Sang kepala desa hanya terdiam. Wajahnya sedikit berkerut. Kopiah hitam di kepalanya tampak sudah dalam posisi miring. Terlihat sekali beban yang ditanggung oleh sang kepala desa.

“Demi anak saya, apa pun akan saya lakukan Pak.”

“Atau….kalau Pak Kades mau meminta imbalan yang lebih, saya siap.”

Sang pejabat terus berusaha meyakinkan bahwa pencarian anaknya memang sangat penting.

“Bapak tenang saja, semua kasus yang ada di desa ini akan kami tangani dengan profesional, termasuk hilangnya anak Bapak!”

Sang kepala desa menjawab dengan sebuah retorika yang sering diutarakan pejabat pada umumnya.

“Terima kasih ya Pak Kades, ini untuk sementara, tolong diterima ya.”

Setelah menyerahkan sebuah amplop coklat tebal, sang pejabat berpamitan pulang meninggalkan sang kepala desa yang menatap amplop coklat tersebut dengan berbagai pertanyaan.

*****

Di sebuah pos kamling, berita hilangnya anak pejabat tersebut sudah viral. Banyak tanggapan dan asumsi liar di kalangan masyarakat. Ada yang menanggapi biasa saja, ada yang menanggapi dengan perasaan senang. Asumsi-asumsi aneh pun mulai bertebaran dari mulut ke mulut.

Baca Juga  Terima Kasih PWI Basel: Menyemai Mimpi, Menghidupkan Literasi

“Pejabat itu memang pantas mendapatkan ini, Ia orangnya sangat pelit.”

“Betul itu, biar Ia merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak.”

“Iya, lagian selama ini tidak ada kontribusinya untuk kita.”

“Walaupun ada imbalannya, aku tidak akan ikut mencarinya.”

Obrolan bersahutan di antara pria-pria yang berada di pos kampling siang itu seolah menegaskan bahwa mereka sudah sangat benci dengan sang pejabat.

Konon memang sang pejabat itu tidak pernah lagi perduli dengan desa mereka. Hanya ketika akan pemilu Ia menyambangi masyarakat dengan wajah memelasnya, tetapi setelah Ia terpilih menjadi wakil rakyat jarang datang untuk melihat desa mereka. Kalau pun Ia datang ke desa memakai kendaraan pribadi yang tertutup rapat.

“Sekarang ketika anaknya hilang, Ia merengek memohon bantuan kita.”

“Tapi….kesombongannya tetap terlihat.”

“Iya…sombong sekali, mentang-mentang punya banyak uang, Ia kira kita tergiur dengan uangnya.”

Kembali obrolan liar itu bersahutan.

Tanpa sepengetahuan mereka, tampak sepasang mata dan sepasang telinga sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Informan ini tampaknya sedang menggali informasi terkait dengan beberapa peristiwa yang sudah terjadi di desa tersebut. Dan tidak lama kemudian ia menelpon seseorang.

“Usaha kita sudah mulai membuahkan hasil, Pak!”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, informan itu mendekati pria-pria di pos kamling yang masih asyik membahas tentang hilangnya anak pejabat tersebut.

“Semalam kalian dengar suara mobil besar melewati desa kita?”

Setelah berada dalam forum, informan itu membuka topik pembicaraan baru.

“Iya, ada.”