Catatan Literasi Jurnalistik di Penghujung Tahun
Usai workshop dan kelas literasi, kami selalu menugaskan adik-adik pelajar untuk membuat rilis berita. Penulis meyakini mereka pasti akan membuka literatur singkat atau mencari referensi bagaimana cara menulis berita yang baik. Minimal mereka sudah membaca walaupun sedikit.
Menulis Adalah Kebutuhan
Bagi saya, menulis adalah sebuah kebutuhan. Para siswa SMP yang nantinya akan menginjak ke bangku SMA, suatu saat mereka akan mendapat tugas membuat karya ilmiah serta laporan tertulis lainnya.
Begitu juga saat melanjutkan di perguruan tinggi, laporan tugas kuliah serta skripsi sudah menunggu. Saat di dunia kerja pun sama. Kadang kala kita diwajibkan untuk membuat karya tulis sebagai angka kredit untuk jenjang kepangkatan dan golongan.
Ya, semuanya menulis, menulis dan menulis. Namun, jangan lupa bekal menulis adalah membaca, membaca dan membaca. Dengan membaca kita akan mudah menulis. Itu saja kuncinya.
Saya pernah berdiskusi dengan salah satu redaktur media di Pangkalpinang. Ada seorang staf pekerja rela membayar ratusan ribu rupiah hanya untuk sebuah artikel. Tulisan ini diwajibkan baginya agar bisa naik pangkat. Namun redaktur itu menolak.
Ternyata kejadian ini pernah juga saya alami. Seorang pimpinan lembaga menghubungi saya. Penulis diminta untuk membuat artikel bawahannya agar segera naik pangkat. Golongannya tertunda lantaran staf tadi tidak punya karya tulis. Tinggal hitung saja berapa biaya per artikelnya.
Dengan halus saya menolak. Penulis katakan tidak bisa membuat langsung tulisannya. Saya hanya bisa memberikan tips mudah untuk menulis. Banyak referensi dan literatur yang bisa didapat saat ini.
Menulis itu, gampang-gampang susah. Yang penting niat, lalu mencoba, itu saja. Tulisan kita dibilang jelek. Itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah tulisan itu karya kita sendiri bukan tulisan orang lain.
Gerakan Literasi Butuh Intervensi Pimpinan Daerah
Ya, saya katakan begini karena memang kemajuan literasi suatu daerah butuh intervensi pimpinan. Gerakan literasi yang terus digaungkan para komunitas dan pegiat literasi tanpa dukungan pemerintah hanya omong kosong belaka.
Di lingkungan terkecil saja. Di sekolah misalnya, para siswa yang sudah mendapatkan pelatihan literasi jurnalistik jika dibiarkan tanpa intervensi, bimbingan serta dorongan para guru untuk terus menulis, tentu saja akan lupa.
Sekolah-sekolah yang aktif mengirimkan rilis kegiatan serta cerpen ke media dipastikan karena dorongan kepala sekolah ataupun guru-gurunya. Penulis membayangkan jika gerakan literasi di Bangka Selatan benar-benar didukung penuh pemerintah daerah. Di perkantoran misalnya, di ruang tunggu kantor atau dinas, disiapkan rak pojok-pojok baca dengan beragam buku.
Di setiap warung kopi, pemerintah bisa menitipkan rak pojok baca. Sehingga penikmat kopi bisa bersenda gurau sambil membaca buku. Aktifkan semua taman-taman bacaan di seluruh desa dan kecamatan. Penuhi semua koleksi-koleksi buku yang dibutuhkan. Kita semua meyakini, gerakan literasi secara bertahap akan menciptakan SDM yang berkualitas.
30 Menit Membaca bersama Keluarga
Penulis juga membayangkan jika Basel bisa menerapkan gerakan literasi “30 Menit Membaca Bersama Keluarga”. Usai sholat Isya, orang tua bisa mengajak anak-anaknya untuk membaca buku bersama. Buku apa saja.
Orang tua membacakan buku dan kemudian anak-anaknya diminta menulis kembali minimal satu paragraf tentang apa yang dibacakan tadi. Jika dilaksanakan secara kontinyu, hasilnya pasti akan luar biasa.
Gerakan literasi memang bukan gerakan instan yang bisa dirasa sehari, seminggu atau sebulan. Tapi gerakan ini adalah program jangka panjang. Para pelajar yang mendapatkan pelatihan literasi jurnalistik, baru akan merasakan manfaat menulis ketika duduk di bangku kuliah.
Mengutip pernyataan Ketua GPBM Basel, Kita tak akan mampu menyamakan infrastruktur pendidikan dengan sekolah di Pulau Jawa, tetapi melalui gerakan literasi, kita akan mampu bersejajar dengan daerah di mana saja
Ya, gerakan literasi akan mampu menciptakan SDM yang berkualitas. Dengan masyarakat yang mumpuni, kita meyakini daerah ini akan bertahap maju dan produktif. Salam literasi (***)
Dedy Irawan, Wartawan Timelines.id, Ketua PWI Basel

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.