TIMELINES1.COM, BANGKA – Palang Merah Indonesia (PMI) Bangka telah memiliki mesin Aferesis. Mesin ini sendiri dibeli menggunakan dana hibah dari Pemerintah Kabupaten Bangka tahun anggaran 2022. Kepala Bidang Unit Donor Darah PMI Bangka, dr. Egha menuturkan pengadaan mesin Aferesis ini salah satu cara mengatasi kebutuhan trombosit yang terus meningkat, khususnya untuk para pasien Demam Berdarah (DBD).


Menurut dr. Egha alat Aferesis ini kegunaannya sangat efektif dibandingkan donor darah trombosit reguler.


“Alat ini perannya di trombosit. Hasilnya jauh lebih banyak dan lebih maksimal dibandingkan donor trombosit reguler atau tunggal. Misalnya kebutuhan 10 kampel trombosit dari 10 orang pendonor dapat diminimalisir dengan 1 orang pendonor dan menghasilkan 10 kampel trombosit. Dan bagian darah merah yang dikeluarkan dapat dikembalikan ke tubuh pendonor,”jelas dr. Egha melalui panggilan WhatsApp Selasa sore tadi.

Tak hanya itu, pendonor pun tak harus menunggu waktu 2.5 – 3 bulan kemudian untuk melakukan donor darah. Dalam waktu 2 Minggu pendonor dapat kembali menyumbangkan darahnya untuk pihak yang membutuhkan.

Kata Egha, untuk 1x donor darah alat Aferesis ini memakan biaya hingga Rp. 3 juta untuk operasional. Sehingga menurut dr. Egha pihaknya memaklumi apabila pihak Rumah Sakit melakukan langkah perhitungan untuk mengklaim ke BPJS kesehatan.

“Alat ini dipakai untuk sisi kemanusiaannya. Memang sekali mengoperasionalkan alat ini, kami membutuhkan biaya sebesar Rp.
3 juta. Sehingga kami memaklumi apabila pihak rumah sakit terlebih dulu melakukan perhitungan biaya pelayanan kesehatan,” jelas dokter yang juga menjabat sebagai direktur RS. Eko Maulana Ali Belinyu ini.

Hanya saja, saat ini untuk melancarkan pelayanan donor darah PMI masih seiring berjalannya waktu terus melakukan upaya pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk operator alat Aferesis.