Tak Hanya Unik Ini, Enam Olahraga Tradisional Indonesia Yang Memacu Adrenalin
Bisa dibilang, lompat batu merupakan olahraga ekstrim yang tidak boleh dilakukan sembarang orang. Selain memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi, olahraga tradisional yang satu ini juga tidak mudah dilakukan oleh amatir. Kebanyakan pelakunya adalah orang-orang yang memang mendedikasikan diri guna bisa melompati susunan batu yang cukup tinggi.
Berasal dari Kepulauan Nias, Sumatera Utara, olahraga ini disebut dengan zawo-zawo oleh masyarakat lokal. Konon awal mula olahraga ini dilakukan adalah sebagai taktik Suku Nias dalam berperang dan memberikan kejutan, di mana batu yang ditumpuk adalah benteng-benteng yang disusun untuk bertahan. Pasukan kemudian harus bisa melompati benteng ini, dan terjun ke medan perang dengan semangat dan kekuatan penuh dari ketinggian. Cukup unik, ya?
Hingga saat ini zawo-zawo atau lompat batu masih dipraktekkan oleh masyarakat Nias sebagai bentuk pelestarian budaya. Selain itu, kegiatan ini juga dilakukan ketika ada ritual tertentu, salah satunya adalah persiapan seorang pemuda yang akan melangsungkan upacara pernikahan.
4. Pacu Jalur, Olahraga Tradisional di Air
Riau juga menyimpan olahraga tradisional yang cukup unik dan sangat seru untuk ditonton. pacu jalur adalah nama olahraga ini, di mana pada dasarnya satu tim akan berlomba untuk adu cepat dalam mendayung dan mencapai garis akhir.
Awalnya olahraga ini hanya dilakukan di kampung-kampung sekitar Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar keagamaan saja, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Idul Fitri, dan Tahun Baru Muharam. Namun demikian ternyata peminatnya terus meningkat, dan pacu jalur menjadi salah satu tontonan budaya yang selalu berhasil menarik wisatawan datang ke kawasan tersebut.
Pacu jalur juga sudah masuk dalam salah satu cabang olahraga yang diperlombakan di gelaran SEA Games, sehingga terdapat pula pelatihan resmi yang dimiliki oleh Indonesia. Kini, secara rutin perlombaan nasional digelar setiap tanggal 23 hingga 26 Agustus untuk terus mengasah bibit-bibit baru yang ada di setiap daerah.
Dengan perahu yang memiliki panjang 25 sampai 40 meter, perlombaan ini tak hanya bermodal tenaga namun juga kerjasama. Anda bisa melihat perahu-perahu warna-warni melintas cepat ketika semua berpadu dalam satu irama yang indah.
5. Pathol, Gulat Tradisional dari Era Majapahit
Pathol adalah salah satu jenis olahraga tradisional yang mirip dengan gulat. Olahraga ini muncul dan berkembang di Sarang, wilayah Rembang, Jawa Tengah. Syarat untuk mengikuti olahraga ini adalah memiliki tubuh yang seimbang dengan calon lawan, dan kemudian kedua pihak saling berusaha mengunci lawan. Siapa yang bisa memberikan kuncian paling lama, maka dialah pemenangnya.
Olahraga ini merupakan salah satu ujian untuk mencari calon prajurit dan ksatria pada zaman Kerajaan Majapahit dulu. Jadi tak hanya untuk kesehatan, dahulu olahraga pathol juga jadi kebanggaan karena bisa membantu menaikkan taraf hidup keluarga pasukan. Gulat pathol saat ini sering digunakan sebagai pengiring berbagai ritual kepercayaan, seperti menjelang purnama atau menjelang upacara sedekah laut.
6. Egrang, Keseimbangan adalah Segalanya
Terakhir adalah egrang, olahraga tradisional yang mengandalkan keseimbangan untuk melakukannya. Sebenarnya egrang lebih condong dikategorikan sebagai permainan dibanding olahraga kompetisi atau yang lain. Pada permainan ini, pemain akan berusaha berdiri di atas dua bilah bambu yang sudah diberikan tempat berpijak, kemudian berusaha berjalan sambil menjaga keseimbangan. Olahraga ini am dilakukan di daerah-daerah di Jawa, dan bisa dimainkan oleh orang dewasa maupun anak-anak.
Enam olahraga tradisional di atas merupakan warisan budaya yang wajib kita jaga bersama. Jangan sampai warisan luhur tersebut kemudian terkikis oleh zaman, dan hanya tinggal cerita. Jadi menurut Sobat Pesona, olahraga tradisional mana yang paling menarik untuk dicoba?. (***)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.