Karya Nabila Putri Syakira, Siswi SMAN 1 Pangkalpinang

Satu tahun telah berlalu sejak terakhir kalinya Sarah menginjakkan kaki di atas panggung. Teringat betapa bahagia dirinya diiringi lantunan lagu dengan gerakan tarian yang ia bawakan.

Binar matanya terpancar setiap kali dia bersiap dan beranjak untuk latihan menari di pagi hari Minggu. Dengan antusias dia tampilkan gerakan tari yang jauh dari kata mudah.

Meriahnya tepukan tangan para penonton setiap kali ia selesai membawakan tarian di atas panggung membuatnya semakin cinta terhadap tari itu sendiri.  Naas rasanya ketika melihat bahwa kini kerja keras dan semangat Sarah hilang dalam sekejap.

Sarah bukanlah apa-apa sekarang. Ia merasa bahwa dirinya sudah tak pantas lagi menari. Semua penghargaan yang ia terima hanyalah pengingat akan tragedi terbesar dalam hidupnya. Gedung pertunjukan tempat ia tampil dilahap habis si jago merah. Akibatnya, Sarah mengalami cedera berat yang berujung pada kelumpuhan sebagian tubuhnya. Dirinya tak mampu lagi untuk berjalan seperti semula, terlebih lagi untuk menari.

Kakinya tak lagi dapat digunakan dengan benar dan setiap kali ia mencoba untuk menari, gerakannya selalu berakhir kaku dan sangat jauh dari kata sempurna. Ditambah lagi ekspektasi tinggi para penonton akan kesempurnaan dalam tariannya seketika membuat Sarah merasa tidak percaya diri dan malu atas kekurangan yang ia miliki.

Baca Juga  Terhalang oleh Takdir, Lantas Kenapa Dipertemukan?

Terlebih lagi trauma yang ia alami atas kecelakaan tersebut membuatnya takut untuk menginjakkan kaki ke atas panggung. Terpuruk akan tragedi yang menimpanya, Sarah memutuskan untuk berhenti menari sepenuhnya.

Sarah segera mengajukan pengunduran diri dari sanggar tempat ia berlatih, dilanjutkan dengan menutup diri dari semua hal yang berkaitan dengan menari. Dalam sekejap, kehidupan Sarah berubah. Binar di matanya yang dulu terpancar jelas, sekarang meredup seiring dengan semangatnya yang perlahan menghilang.

Jika ada yang bertanya kenapa Sarah memutuskan untuk berhenti, alasan yang selalu dilantunkan adalah, “Apa makna dari seorang penari yang tak mampu lagi tampil dengan sempurna?”

Waktunya lebih banyak dihabiskan dengan mengurung diri di kamar sambil menangis. Bahkan pada hari tertentu, isak tangisnya bisa terdengar sampai ke seluruh sudut rumah. Hari-harinya dia jalani dengan perasaan hampa, hanya ke luar untuk pergi ke sekolah.

Berbagai cara sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya untuk membujuk Sarah agar dirinya kembali ceria seperti dulu. Namun, usaha mereka berujung sia-sia sebab hancurnya perasaan Sarah atas tragedi yang menimpanya belum memudar.

Baca Juga  Peti Anek Gunong Namak

Hingga suatu hari tiba saat di mana Sarah memutuskan untuk melepaskan beban yang menghimpit dadanya selama kurang lebih satu tahun terakhir.

Siang itu, ia memilih untuk beranjak pergi dari ruang pengasingan yang ia sebut sebagai kamarnya. Sarah akhirnya memutuskan untuk menginjakkan kaki ke luar rumah untuk pertama kalinya selain dengan tujuan pergi sekolah.

Sarah melihat betapa terkejutnya sang ibu ketika melihat anak gadis kesayangannya muncul dari balik pintu kamar. Terlihat kegembiraan di raut wajah ibunya ketika melihat Sarah keluar dari kamarnya mengenakan pakaian yang rapi, didampingi dengan alat bantu jalannya siang itu.

“Waduh, anak Ibu yang cantik mau kemana?” tutur ibu Sarah dengan nada yang lembut.

“Mau keluar, Bu. Sarah bosan di kamar, mau cari angin sebentar,” jawab Sarah sembari menyalami tangan ibunya.

“Ya sudah, hati-hati di jalan. Ingat, jangan pulang terlalu larut,” ujar ibu.

Sarah dengan perlahan mulai berjalan menelusuri kompleks perumahannya, menyapa beberapa tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Suasana hari yang cerah membuat hati Sarah sedikit senang karena telah memberanikan diri untuk beranjak ke luar pada hari itu.

Baca Juga  Ayam Goreng Krispi Pedas

Namun perasaan senangnya seketika berubah menjadi kelam ketika melihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.

“Eh, Sarah. Sudah lama gak ketemu,” sapa seorang wanita yang parasnya sudah tak asing lagi bagi Sarah.

Terkejut dengan sosok wanita yang merupakan mantan pembimbing tarinya dulu, Sarah seketika terdiam di tempat. Wanita itu tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Sarah.

Tepat di saat dirinya baru saja berniat untuk melepaskan semua kesedihan yang telah menimpanya, seseorang yang dahulu berperan besar dalam perkembangan minatnya muncul tepat di hadapannya sekarang.

“Sudah lama saya gak dengar kabar dari kamu. Gimana, sehat-sehat aja?” tanya wanita itu dengan nada ceria.

“Alhamdulillah baik, Bu Asri,” jawab Sarah dengan sopan.

Percakapan mereka tidak berlangsung lama dan Sarah tidak banyak bicara. Sarah hanya mendengarkan cerita Bu Asri mengenai banyaknya lomba dan acara yang telah digelar atas nama sanggar tari tersebut. Suasana hatinya yang sudah kelam seketika bertambah hancur, terutama ketika mendengar betapa khawatir teman-teman Sarah atas dirinya yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Melihat raut wajah Sarah yang mulai cemberut, Bu Asri mulai mengalihkan topik.