“Sarah ada waktu luang minggu depan?” Bu Asri bertanya dengan halus.

Bingung dengan arah pembicaraan sang guru, Sarah hanya menjawab, “Ada. Memangnya kenapa, Bu?”

“Baguslah kalau begitu. Saya mau mengajakmu ke suatu tempat yang mungkin bisa menjadi inspirasi buat kamu. Mau ya?”

“Aduh, gimana ya Bu? Memangnya saya mau diajak kemana?”

“Ada deh. Kamu ikut saja, Ibu janji kamu nggak akan menyesal.”

Dengan ragu-ragu Sarah mengiyakan Bu Asri, merasa tidak enakan bila menolak. Sarah tahu bahwa Bu Asri pasti bermaksud baik. Dia hanya berharap bahwa keputusannya hari ini tidak akan membuatnya menyesal. Bu Asri yang kegirangan tersenyum dan meminta Sarah untuk menemuinya di sanggar tempat ia dahulu berlatih pada jam dan hari yang sama.

“Datang, ya! Kalau sampai gak dateng, ibu samperin ke rumah nanti,” canda Bu Asri yang perlahan menjauh dari pandangan Sarah. Sarah hanya tertawa.

Baca Juga  Mati Suri

Hari yang dinantikan pun tiba. Sarah yang sedang duduk di bangku sanggar tari merasa sedikit gugup mengenai tempat yang ingin ditunjukkan oleh Bu Asri kepadanya. Sudah berlalu kurang lebih setengah jam dan mantan pembimbingnya itu masih belum terlihat. Perlahan Sarah mulai berpikir bahwa mungkin saja ia telah membuat pilihan yang salah dengan mengiyakan permintaan Bu Asri. Sebelum Sarah sempat berpikir lebih jauh, muncul mobil berwarna putih yang dikenalnya sebagai mobil Bu Asri.

“Haha… maaf ya, Nak! Saya lupa tentang waktu perjanjian kita,” Bu Asri tertawa canggung sambil menurunkan jendela mobilnya.

Sarah merasa lega karena Bu Asri akhirnya datang bergegas masuk ke dalam mobil. Bu Asri lekas menyalakan mobil dan mulai menyusuri jalanan menuju ke arah balai kota.

Setelah lima belas menit berlalu dalam keheningan Sarah mulai mengerutkan keningnya karena melihat sebuah gedung yang sudah tidak asing lagi. Perasaannya mulai gelisah karena mobil yang ditumpanginya berhenti di depan gedung, tempat ia menampilkan tarian terakhirnya, yang kini membuatnya kepalanya pusing dan dadanya sesak.

Baca Juga  Orakel

“Apa maksud Ibu membawa saya ke sini?” tanya Sarah dengan suara yang berbalut panik.

“Tenangkan dulu dirimu, Sarah! Ikuti arahan Ibu dan coba tarik napas pelan-pelan!”

Sarah yang sudah bercucuran keringat menuruti permintaannya. Perlahan ia menarik napas, berusaha menahan air mata yang keluar. Sarah akhirnya diajak turun oleh Bu Asri. Keduanya mulai memasuki gedung pertunjukkan, mengisi bangku paling belakang yang masih kosong.

Sarah yang masih gemetar mencoba mengalihkan pikirannya menghadap ke arah panggung. Tirai yang menutup panggung perlahan terbuka. Alunan musik bergema mengiringi para penari yang keluar dari balik tirai.

Sarah memperhatikan dengan seksama, tapi di tengah pertunjukan dia merasa ada yang aneh dengan gerak gerik para penari. Mulut mereka terlihat seperti sedang komat-kamit, bahkan ada beberapa penari yang terlihat menggunakan alat bantu gerak pada pergelangan tangan dan kaki mereka.

Baca Juga  Mampukah Aku Melupakanmu

Sarah langsung menoleh ke arah Bu Asri. Isyarat mata Sarah seperti mau bertanya dan Bu Asri yang seperti membaca pikiran Sarah hanya membalas dengan senyuman, mengisyaratkan kepada Sarah untuk menikmati pertunjukan.

Akhirnya pertunjukan pun selesai diiringi dengan tepuk tangan meriah dari penonton. Pembawa acara keluar dan mengucapkan selamat kepada para penari sebab telah sukses menampilkan tarian yang memukau penonton.

Tanpa disadari air mata Sarah berlinang karena ternyata para penarinya penyandang disabilitas. Tarian mereka yang sempurna berhasil membuat Sarah kagum. Para penonton keluar dari gedung pertunjukan, namun berbeda dengan Sarah yang diam mematung. Berbagai macam pertanyaan mendera dirinya.

“Mengapa aku menangis?”

“Apa yang aku tangisi?”

“Apakah karena kelumpuhan tangan dan kakiku?”

“Atau lumpuhnya semangatku?”

“Pantaskah jika aku menyerah pada impianku karena lumpuh fisikku?”

TAMAT