Yah, itu hanya angan-angan semata. Sejak kudeta yang dilakukan oleh mereka yang tidak berperasaan, aku tidak pernah melihat ibu lagi.

Sudah 18 hari sejak ibu hilang dan dari lubuk hati yang paling dalam, kami tahu ibu telah pergi untuk selamanya. Terkadang aku bertanya-tanya, mengapa kami yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa harus mengalami ini? Apa salah kami?

Sekitar 2 menit 12 detik, suara ketukan pelan terdengar.

Tok… Tok… Tok….

Aku hendak berdiri untuk membukakan pintu, namun segera setelah aku melihat ayah yang tiba-tiba mendongak dan menatapku tajam.

Kilatan tajam nan kuat bersinar di matanya.

Tanpa kata-kata, ayah berhasil memberitahuku untuk tidak membukakan pintu.

Baca Juga  Misi Istana Pusat: Penemuan Bukti

Mereka yang mengetuk akan mengambil jiwa tenang kami. Ayah melanjutkan memindahkan bidak catur.

Tak terasa setetes air mata mengalir di pelupuk mataku. Aku mengikuti apa yang ayah lakukan, memindahkan bidak catur.

Akan tetapi, aku sudah tidak tahu lagi pion mata yang kumainkan. Tanpa sadar perlahan pandanganku semakin kabur akibat air mata yang terus menggenang.

Sementara ketukan yang semula pelan, berubah menjadi ketukan kasar. Awalnya mereka hanya akan menjemput kami secara baik-baik, namun kami memilih berontak.

Mungkin itu sebebnya mereka menjadi agak marah. Aku menatap bidak catur kami, satu putaran lagi akan habis. Ketukan sudah berubah menjadi dobrakan kasar. Tak terhitung seberapa kuat dobrakan itu.

Baca Juga  Wisma Ranggam

Pintu yang terbuat dari kayu itu perlahan-lahan akan patah.

Satu putaran selesai, bidak catur sudah menjadi permanen, ayah memenangkan permainan. Permainan yang hanya berlangsung selama 3 menit. Sebentar lagi mereka akan menerobos masuk.

Engsel itu tidak sanggup menahan lonjakan amarah segerombolan pria yang penuh dengan kebencian.Tubuhku kaku tidak bisa digerakkan. Pandanganku kembali kabur.

Aku tersentak kaget saat merasakan tangan dingin menggenggam erat tanganku.

Aku berkedip beberapa kali menyesuaikan pandanganku. Saat pandanganku kembali jelas, kulihat ayahku yang ternyata telah menggenggam tanganku.

Perlahan dia menyunggingkan senyumnya. Senyum hangat yang membuatku bernostalgia saat masa kecilku.

Saat dia lebih muda, kerutannya hampir tidak terlihat, dan dia tersenyum tepat seperti ini. Itu senyuman saat dia mencoba meyakinkanku saat aku takut dan ragu.

Baca Juga  Bukan Cinderella

Senyum itu seolah berkata, “Semua akan baik-baik saja.”

Tepat setelahnya, para prajurit masuk dan mengepung kami. Suara tembakan terdengar dari sudut ke sudut, memekakkan telingaku.

Darah kental dan amis berceceran di mana-mana. Semuanya menjadi gelap, namun pikiranku menampilkan bayangan ayah yang masih tersenyum padaku.

Semua akan baik-baik saja.

TAMAT