“Aiden, berhenti!!!”

Aku menoleh pada suara yang mencoba menghentikanku dari sesuatu yang tidak akan kulakukan. Dia wanita yang selama ini ada bersamaku, membantuku, dan memberiku banyak hal. Meskipun, baik aku maupun dia tidak bisa mengubah apapun yang sudah terjadi.

Aku mengeluarkan tawa yang memilukan. Aku memegang wajahku dan merasakan sesuatu yang basah yang bisa kubilang adalah air mata, aku sama sekali tidak menyadari itu datang. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya turun dari balkon dan berakhir dengan kedua tangan menopang pada balkon. Dia berlari ke arahku dengan ekspresi yang tidak terlukiskan. Sebagai gantinya, aku mendapat tamparan panas di pipiku.

“Apa yang kau pikir akan kulakukan?” kataku dengan seringai tipis.

Baca Juga  Nganggung: Tradisi Budaya, Sumber Nilai dan Identitas Pulau Bangka (Selesai)

Dia menggelengkan kepalanya, “Berhenti menyakiti dirimu sendiri! Karena… secara tidak langsung kau baru saja menyakitiku.”

Dengan senyum pahit kujawab, “Kau mungkin berpikir, aku cukup bodoh melakukan semua ini. Baik itu benar atau tidak, kurasa tidak ada salahnya untuk pergi sejenak, bukan? Kalau kau jadi aku, apa kau bisa kuat seperti yang kau inginkan? Aku masih takut mati, jadi tenang saja. Kau tidak akan melihatku melompat. Aku hanya… kau tau aku bagaimana, kan?”

Dia memandangku dengan penuh keraguan. Namun aku tidak bisa menyalahkannya, aku cukup tidak bisa dipercaya. Memang semua tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi aku sudah berjanji untuk berjuang sampai akhir. Selama ini aku harus tetap baik-baik saja, berusaha untuk tetap membaik dari waktu ke waktu. Aku tidak akan dan tidak mau berhenti.

Baca Juga  Mahkota Surga untuk Ayah Ibu

Aku masih baik-baik saja.

Tamat