Ayah, Aku Rindu
“Sini Zil, Kana biar sama Ayah aja,” ujar Ayah kemudian mengambil alih Kanaya dari tangannya. Terlihat, sang ayah menciumi pipi cucu nya, mengajaknya mengobrol dan sesekali terlihat Kanaya tertawa.
“Boleh enggak sih cemburu sama anak sendiri? Kenapa ayah dekat sama Kanaya? aku juga pengen di peluk ayah, di ajak ngobrol sama ayah,” ujar Nazila dalam hatinya yang memandang sendu kearah ayah dan anak nya.
“Zil, kenapa kok muka nya sedih gitu?” tegur bunda.
“Eh, enggak kok. Oh ya Bund, udah pada makan belum? Kita makan sama-sama ya. Biar Nazila yang masak,” ujar Nazila, kemudian membawa oleh-olehnya ke dapur di bantu Rangga, suaminya.
Malam pun tiba. Kini, Nazila sedang berada di kamar bersama suami nya. Sedangkan anak nya, tidur bersama bunda dan ayah nya.
“Mas, Aku tuh kangen tau sama ayah. Masa, setiap ke sini yang selalu di ak ngobrol sama ayah itu Kana terus. Aku juga pengen,” adu Nazila dengan cemberut.
“Masa cemburu sama anaknya sendiri sih,” kekeh Rangga sambil mencubit pipi Nazila pelan.
“Ihh enggak gitu lho Mas… Dari dulu, aku tuh pengen banget bisa deket sama ayah. Kadang aku berpikir, apa ayah enggak sayang ya, sama aku,” ucap Nazila dengan sendu.
“Huss, ngomong apa sih. Setiap ayah pasti sayang sama anaknya,” ujar Rangga, ia memeluk istrinya kemudian mencium kening istrinya. “Udah malam. Tidur ya sayang,” lanjutnya, yang dibalas anggukan pelan oleh Nazila.
Keesokan harinya, Nazila membantu bundanya memasak di dapur. Suami dan ayahnya sedang mengobrol di luar rumah. Sedangkan anak nya, berada digendongan ayahnya.
“Kenapa Zil? Kok kayak sedih gitu sih dari kamarin,” tegur bunda yang sibuk menumbuk bumbu.
“Enggak kok Bund,” Nazila tersenyum, kemudian melanjutkan pekerjaannya memotong kangkung.
“Cerita sama bunda,” ujar Bunda Riva, ia menghentikan pekerjaannya. Kemudian berjalan mendekati anaknya. “Kenapa hemm?”
“Hiks hiks, bunda. Nazila tuh rindu banget sama ayah,” setelah semalaman ia menahannya, tangis Nazila pun pecah, ia memeluk bundanya erat.
“Eh, kan udah ketemu?” bingung bunda, seraya membalas pelukan Nazila.
“Nazila tuh pengen ngobrol sama ayah. Pengen dipeluk sama ayah kayak gini bund. Dari dulu, ayah enggak pernah peluk Nazila,” ujar Nazila.
“Saat pernikahan Nazila aja, Ayah enggak ada peluk Nazila. Ayah enggak mengeluarkan air matanya wa-walaupun hanya setetes aja. Ayah juga enggak pernah telpon Nazila saat Nazila ada di Jakarta. Selalu aja bunda yang telpon. Selalu aja bunda yang peluk Nazila. Nazila juga pengen bund, dipeluk sama ayah. Hiks..,” lanjut Nazila yang menangis sesenggukan.
“Ya Allah Sayang,” Bunda Riva pun ikut menetes kan air mata nya. “Bunda mau cerita sesuatu. Kamu dengarkan ya.”
“Tadi Zila tanya, kenapa ayah enggak menangis saat pernikahan kamu. Sayang, saat itu adalah patah hati terberat bagi ayah. Harus melepaskan anak perempuan satu-satunya yang selama ini ia jaga, kepada orang lain. Saat malamnya sebelum akad, ayah kamu menangis di kamar. Ayah cerita sama bunda. Katanya, Ayah pengen peluk Nazila, Ayah masih pengen liat Nazila terus. Tapi ayah juga pengen yang terbaik untuk anaknya. Saat pernikahan kamu pun, ayah pengen banget nangis. Tapi ayah tahan, karena enggak mau membuat kamu sedih. Dan satu hal yang perlu kamu tau. Setiap bunda telpon kamu, itu bukan kemauan bunda. Tapi ayah yang suruh. Ayah rindu mau dengar suara kamu, tapi ayah gengsi mau bertanya langsung. Karena sebelumnya kalian tidak terlalu dekat. Jadi, ayah menyuruh bunda. Sayang, Seorang ayah itu, rasa sayang terhadap anak nya tidak ia nampakkan. Beda dengan seorang ibu, rasa sayang nya ia nampak kan. Jadi mungkin, sebagai seorang anak sering salah paham kepada ayahnya” ujar Bunda Riva panjang lebar.
“Ya Allah Bunda.. Selama ini, Nazila udah salah paham sama ayah. Nazila kira, ayah enggak rindu sama Nazila,” rengek Nazila.
“Setiap ayah, jika jauh dengan anaknya pasti merindukan nya,” ujar bunda Riva sambil menghapus air mata Nazila.
“Ayah, Maafkan Nazila. Nazila yang terlalu gengsi ketika memulai obrolan dengan ayah. Sekarang, Nazila tau, Bahwa Ayah sayang sama Nazila. Terima kasih Ayah.” ujar Nazila dalam hatinya.
“Terkadang, karena gengsi yang tinggi, membuat sebuah hubungan menjadi renggang.”
Tamat.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.