Duka Seorang Ibu (Tribute to Hafidzah-Tamat)
Mendengarnya menangia tersedu-sedu, membuat jiwa Ibu-ku terasa sakit. Duka yang selama ini coba kutepis, akhirnya keluar semua. Kelegaan menyelimutiku dan hatiku kembali menghangat. Anak-anakku, hartaku. Aku akan terus melindungi mereka semua, bahkan jika salah satunya telah beda alam denganku.
Tiba-tiba pintu dibuka dengan sangat cepat dan keras. Nampaklah figur suamiku yang terengah-engah seolah baru saja melihat hantu. Dia segera berlari ke arahku dengan ekspresi yang tak terlukiskan.
Dengan seluruh tubuh terguncang dia berkata, “Bu, mereka menangkap pelakunya! Mereka menangkap pembunuh Hafidzah!”
Penerimaan
“Maaf Bapak baru bisa bilang ke Ibu.”
Pembunuh itu ternyata mengirimiku pesan ancaman untuk memberinya uang 100 juta rupiah jika ingin Hafidzah selamat. Aku tidak menerima pesan itu karena aku bahkan lupa bahwa aku memiliki ponsel pintar. Untuk segala macam komunikasi, kupercayakan hal itu kepada suamiku.
Ternyata uang membuat akhlak manusia menjadi seperti hewan. Entah di mana otaknya berpikir kami bisa memenuhi finansialnya dalam semalam.
“Ibu tidak perlu menyesali apapun, dia mengirimi pesan itu satu hari setelah membunuh anak kita. Sungguh manusia bejat!”
Mendengar itu, emosiku kembali naik ke ubun-ubunku. Pembunuh tanpa belas kasih yang tidak punya otak. Beraninya memeras kami ketika dia tidak bisa menjanjikan keselamatan putriku. Memikirkan betapa takutnya Hafidzah saat itu membuat hatiku pedih.
Namun, kami sedang dalam perjalanan melihat orang yang telah membunuh Hafidzah. Aku harus tetap tegar. Akan kuperlihatkan padanya bahwa dia berurusan dengan orang yang salah.
Aku menghela napas saat merasakan ketegangan nyata akan bertemu pembunuh putriku. Kami disambut oleh seorang polisi, dia bicara sepatah dua patah sebelum dia menyingkir menunjukkan wajah sang pelaku yang sangat tidak kami duga.
Amarah ini tidak lagi hanya karena pelaku sudah membunuh putriku, amarah itu kini adalah kumpulan rasa sakit pengkhianatan yang amat dalam.
“Kau?!!” Kudengar suamiku menggeram. Dengan matanya yang mendadak memerah, ia maju dan hendak menghajarnya, namun ditahan oleh beberapa polisi. Aku berdiri diam di tempat dengan pikiran yang masih mencoba memproses kenyataan yang ada di hadapanku.
Suamiku mengamuk sembari memaki-maki pelaku biadab itu. Itu membuatku sadar betapa pedulinya dia pada Hafidzah. Awalnya aku ingin melakukan hal yang sama, rasanya ingin sekali aku mencabiknya. Namun, rasa sakit akibat pengkhianatan membuat hatiku hancur.
Aku hanya bisa menangis. Akan tetapi, kesedihan itu juga bercampur dengan kelegaan. Berat sekali rasanya, kuharap dia dihukum setimpal akibat perbuatannya. Anakku, jika kau melihat ini, kuharap kau bisa tenang sekarang.
Dia terancam 20 tahun lamanya. Mungkin tidak terlalu adil, 20 tahun kemudian dia kembali hidup bebas. Tapi aku sudah bisa mengikhlaskannya. Aku yakin Allah akan membalasnya di akhirat kelak.
Rasa syukur kupanjatkan tanpa henti. Beban berat yang selama ini berada di pundakku kini terangkat. Untuk pertama kalinya, aku bisa menghela napas lega.
Denga ribuan bunga yang kulepaskan, kuikhlaskan kepergian Hafidzah. Bersama kedua anak dan suamiku, kami berjongkok di hadapan makam Hafidzah dengan air mata kelegaan bersama lantunan doa. Ada saat aku akan merindukannya dan menangis karenanya, namun kini aku bisa melepaskannya. Aku akan selalu mencintainya hingga akhir hayatku.
Tamat
Cerpen ini adalah tribute dari saya untuk Hafidza. Ini murni imajinasi dan hasil pencarian saya tentang peristiwa Hafidza (mungkin tidak seluruh cerita benar). Melalui karya ini, Saya juga ingin mengucapkan duka sedalam-dalamnya kepada Ibu Hafidzah dan keluarganya. Saya berharap Hafidza juga mengetahui tulisan ini, bahwa dia sangat dicintai, salam Sheila Fiorencia Caroline.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.