Oleh: Ustad Abdussalam Alghozali, SPT

 

Banyak yang mengira puasa itu hanya menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari saja. Padahal, sejatinya puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga saja.

Melainkan juga, kita harus  menahan dari sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT seperti halnya ghibah, marah, dan hal lain yang diharamkan.

Puasa harus diartikan dalam dalam makna yang sebenarnya, sehingga bisa meraih tujuan dari berpuasa. Lantas, apa tujuan Allah mewajibkan hamba-hambanya yang beriman itu berpuasa.

Puasa adalah kewajiban yang telah Allah syariatkan bagi setiap umat, baik umatnya nabi Muhammad Saw ataupun umat sebelumnya.

Sehingga puasa termasuk syariat yang telah dilakukan dari generasi ke generasi, agar hamba-Nya dapat meraih sebuah predikat yang tinggi yaitu predikat taqwa.

Baca Juga  BREAKING NEWS: Mobil Damkar Basel Terbalik saat hendak Padamkan Kebakaran di Desa Paku

Seperti yang Allah SWT firmankan dalam surah Albaqarah ayat 183”Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu  berpuasa sebagaimana diwajibkan juga atas umat sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Lalu bagaimana definisi dari taqwa itu sendiri, sehingga kita bisa meraih gelar muttaqin disisi Allah.

Sebuah syair indah diungkapkan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang karakter orang yang bertaqwa.

alkhaufu minal jalil, al ’amalu bit tanzil, al qona’atu bil qolil, al isti’dadu li yaumirrahil. Makna yang pertama, Alkhaufu minal jalil yakni  menghadirkan rasa takut kepada Allah di dalam dirinya, baik dalam kesendirian atau keramaian.

Menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas yang dilakukan, sehingga seseorang yang bertaqwa akan sangat takut untuk berbuat maksiat, karena merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.

Baca Juga  Bawaslu Kawal Proses Verifikasi Perbaikan 211 Keanggotaan Partai PRIMA

Makna yang kedua, Al amalu bit tanzil, yaitu semangat dan bersegera melaksankan perintahNya, dan berusaha untuk menjauhi segala larangnnya.