Sepucuk Surat Receh untuk Kakak (Tamat)
Sosoknya sangat pekerja keras, bahkan sejak dini. Semasa Sekolah Dasarsudah mulai berwirausaha, sampai berhasil membeli lemari sendiri dari hasil kerja kerasnya sendiri, membantu orang tua hingga sempat tidak naik kelas pada saat itu, padahal dia sosok yang cerdas.
Semasa Sekolah Menengah Pertama ia sudah mulai merantau ke ibu kota, bersekolah di sana, tinggal bersama saudara, dan itu bukan hal yang mudah seusianya. Tetap bertahan bersama saudara selama tiga tahun, meski sempat memiliki problematic yang pelik.
Kemudian ketika perjalanan sekolahnya menginjak putih abu-abu, ia merantau jauh ke tanah orang, daerah yang jauh dari tempat kelahirannya, Bogor. Melanjutkan studi di Pondok Pesantren Terpadu Ekonomi Islam, Multazam.
Meskipun dalam perjalanannya menimba ilmu di tanah orang, acap kali para tetangga bahkan saudara mengkritiki, “Awas loh, sekolah jauh-jauh, eh pulang-pulang berbadan dua.” Memori itulah yang selalu kakak ingat, menjadi gebrakan besar agar kakak bisa menjadi orang sukses, dan membungkam mulut para pembenci dengan keberhasilan yang diraihnya.
Banyak hal yang dilalui dan kakak berhasil bertahan dan menjadi guru pengabdian di sana, padahal basicnya di MIPA bukan Agama. Aku di pondok yang sama ketika kakak sudah kelas akhir, dan aku masih menjadi santri baru saat itu. Saat itulah, aku menjalani kehidupan yang intens bersamanya, karena biasanya kami hanya bisa bersua ketika liburan akhir tahun dan lebaran.
Kehidupannya di pondok pun tak lepas dari berwirausaha, dari kelas 11 kakak sudah mulai berwirausaha, dari menjual jam, HPAI, kerudung, hingga makanan khas Bangka seperti; tekwan dan lenggang. Bahkan saat kakak menjadi guru pengabdian pun, Kakak tetap berwirausaha. Awalnya aku berpikir bahwa dia gila berwirausaha hanya untuk memuaskan pribadinya, hanya untuk diri sendiri. Faktanya, saat itu kakak juga membiayai kehidupanku di Pondok Pesantren, mulai dari SPP sampai biaya makan sehari-hari.
Padahal saat itu kakak sangat ingin melanjutkan studi di jenjang perkuliahan, sayangnya ekonomi keluarga memburuk. Kakak berusaha sendiri agar bisa berkuliah, di samping itu Kakak juga menghidupiku, dan aku tau fakta itu setelah lulus dari Pondok Pesantren bertahun-tahun.
Mungkin jika saat itu kakakku bukan Chintya Lesta, aku bisa putus sekolah karena biaya. karena kakakku selalu mengusahakan adik-adiknya untuk bersekolah setinggi mungkin. “Ga pa-pa gue cuma bisa sekadar lulusan sarjana strata satu, tapi adek-adek gue harus bisa lebih dari gue. Ga pa-pa kalo gue cuma bisa mentok di Indonesia, tapi adek gue harus bisa menginjak indahnya luar negeri.
Walau harus gue yang berjuang, walau harus gue yang bercucuran keringat dan air mata. Gue selalu berharap adek gue bisa sukses melebihi gue. Gue harapan satu-satunya ketika orangtua gak mendukung keinginan adek gue, gue ada di garda terdepan untuk mewujudkan itu.”
Sering kali aku ngedumel, ketika kakak selalu menekanku untuk serius dalam belajar. Karena pada saat itu aku selalu menjadi ranking kedua dari urutan terakhir, selain itu kakakku kerap sekali marah-marah hanya karena aku telat makan bersamanya. Padahal hal itu sepele tapi sekarang aku tahu maksudnya. Ah, bahkan dia selalu marah-marah. Entahlah, seorang adik memang menjadi sasaran empuk untuk menjadi pelampiasan kemarahan.
Meski begitu, aku tahu beratnya menjadi anak pertama sekaligus cucu pertama, beratnya menjadi seorang kakak yang bisa diandalkan. Aku tahu bebannya berat, terlebih adik-adiknya yang banyak.
Teruntuk kakak gue, Chintya Lesta.
Kakak yang memiliki temperamental yang tinggi
Egois, suka marah-marah, ya walaupun begitu
Kakak selalu peduli kepada adik-adiknya
Kakak selalu menjadi garda terdepan untuk adik-adiknya
Kak, jadi anak pertama dan cucu pertama bebannya berat, ya?
Selalu bertahan ya…
Kakak punya aku, adik yang paham betul kondisi kakak
Seberapapun capeknya kakak, berbagi, ya …
Meskipun tidak menjamin aku bisa menemukan jalan keluarnya
Harapku, beban itu bisa berkurang, dan meringan
Kak, aku enggak bisa sweet banget, ya?
Tapi aku harap, kakak mengerti, bahwa pundakku selalu ada buat kakak
Mungkin selama ini kakak selalu jadi garda terdepan buat aku
Dalam masalah internal maupun eksternal keluarga
Tapi, boleh ya? Kali ini aku yang jadi garda terdepan buat kakak
Aku emang bukan adik yang selalu manut
Bukan juga adik yang bisa diandalkan
Tapi aku selalu berusaha, berusaha jadi adik terbaik untuk kakak
Saat dunia kakak mulai pudar, dan kakak gak tau harus kemana
Cari aku, aku akan selalu jadi sayap pelindung untuk kakak
Aku menulis sepucuk surat receh, surat dari seorang adik yang sok-sokan bisa menjadi pundak tempatnya berpulang, menjadi sayap pelindung untuk sang kakak. Aku menyalipkan surat itu di antara baju di kopernya. Aku tidak berani memberikan langsung. Hari itu setelah seharian bersama, besok ia akan kembali ke Bangka dan aku akan kembali ke Malang.
Terima kasih, Jogja, yang menjadi tempat penyatuan kami. Daerah istimewa yang menjadi saksi terukirnya kenangan baru bersama orang yang istimewa.
End

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.