Tala di Negeri Serumpun Sebalai
Karya: Nurul Janah Gustina
CERPEN, “Hei, kau anak baru itu ya? Perkenalkan, aku Raka.”
“Oh, perkenalkan juga, aku Tala.”
“Tala dari mana?”
“Palembang.”
“Wuihhh. Boleh nih, sekali-kali ajari kami tentang Palembang?”
“Tentu saja, tolong ajari aku tentang Bangka, ya.”
Aku Tala, lahir di kota tempat Sriwijaya pernah bertahta. Hingga umur 14 tahun, aku tak pernah keluar kota, apa lagi pulau.
Aku tahu, Indonesia itu beragam budaya dan tradisinya, adat istiadat, suku dan agama.
Di sana pun aku sering melihat suatu daerah yang banyak bionya, juga, reruntuhan Sriwijaya sebagai perguruan terbesar ajaran Buddha kala itu juga tak mungkin terlupa.
Sampai saat aku lulus SD ini, entah kenapa, ayahku dipindahtugaskan ke pulau dekat Sumatera Selatan, Bangka. Yang kutahu Bangka itu yang dikenal akan tempat ibadah 2 agama yang bersampingan, kan? Penuh toleransi.
Aku tak sabar mengetahui lebih dalam tentang Bangka ini. Dan menuliskan semuanya di jurnalku.
Terlebih, Raka dan teman-temannya bersemangat menunjukkan padaku salah satu budaya mereka sore ini.
“Tala. Apakah kau sudah siap?” oh, itu Raka.
“Iya, sebentar,” Jawabku, akupun dengan segera keluar, menemui Raka dan teman-temannya yang telah menunggu. Kemudian kami berjalan bersama menuju suatu tempat yang dibicarakan Raka tadi di sekolah.
“Eh, memangnya kita mau ke mana sih, Raka?” tanyaku tak kuasa memendam rasa penasaran.
“Ke tempat latihan Dambus, Ra. Kau tidak diberi tahu Raka?” jawab Kiran, dia salah satu teman kelasku yang ikut juga.
“Dambus?” aku memastikan, sepertinya aku salah dengar. Ataua, mereka yang salah sebut?
“Iya, Dambus. Kau tidak tahu? Aku yakin di kota Palembang tak ada lagi para pemuda macam kita yang memainkan alat musik tradisional lagi, kan? Semuanya asyik bermain gadget,” kata Raka sambil meledekku.
“Eh, b-bukan begitu! Aku tahu kok! Tapi yang benar bukannya Gambus? Aku pernah kok melihat teman sebayaku memainkan Gambus! Lagipula namanya kan, Gambus. Bukan Dambus. Kalian menyebutnya saja salah. Bisa-bisanya mengejekku,” Jelasku tak mau kalah.
Tapi memang benar, di Palembang ada musik Gambus. Aku yakin itu yan dimaksud Rakaa.
“Kamu yang salah sebut, tanya saja dengan Karina, iya kan, Kar?” ucap Raka yang dibalas anggukan Karina.
“Lihat saja. Pasti aku yang benar,” kataku.
Kemudian kami saling berdiaman hingga sampai ke aula tempat Raka dan yang lain berlatih.
Aku akan melihat, apakah Dambus dan Gambus itu sama, atau mereka yang salah sebut karena pengucapannya memang mirip.
“Assalamualaikum, wak,” kata Raka seraya memasuki aula.
“Waalaikumsalam,” jawab orang yang dipanggil, “Wak” tersebut.
“Eh, ada siapa ini? Dia ingin bermain Dambus juga?” tanyanya pada Raka.
“Belum tahu Wak, dia teman kelas kami, Tala. Baru pindah kemarin dari Palembang. Katanaya ingin belajar banyak hal tentang Bangka, jadi kupikir perlihatkan Dambus saja,” jelas Raka.
“Maksudmu, Gambus kan, Raka?” kataku sekali lagi, ingin melihat bagaimana dia mengaku salah.
Karena aku melihat sendiri alat musik yag dipakai, hanya ada tambahan kepala rusa di bagiaN ujungnya. Selebihnya sama! Itu pasti Gambus! Dan Raka pasti salah.
“Nah, ini juga Wak, dia sekali mendengar kata Dambus ngotot sekali bilang kami salah mengucapkannya. Tapi memang benar kan, Wak? Namanya Dambus, bukan Gambus?” Raka bertanya pada Wak Mende yang biasa mereka sebut Wak.
Aku tahu ini dari Gala, setelah aku berbisik-bisik padanya tadi.
“Ya ampun kalian ini. Kalian itu semuanya benar, juga semuanya salah,” jelas Wak Mende. Aku bingung.
“Maksudnya bagaimana, Wak?” itu sangat membingungkanku. Kami benar, namun juga salah.
“Kamu dari Palembang, kan? Memang benar, musik ini di Palembang disebut Gambus, namun di sini, di Bangka, kami menyebutnya Dambus. Mereka adalah 2 hal yang sama. Nak, inilah keberagaman yang ada di Indonesia. Kamu pasti mengerti itu,” jelas Wak Mende sambil tersenyum.
“Lagi pula, memang ada beberapa hal dari Bangka ini yang memang mirip dengan yang ada di Palembang. Bagaimana tidak, pembawanya tak lain ialah orang Palembang itu sendiri. Pernah lihat Kain Cual?” katanya pada kami.
Raka dan kawan-kawannya mestilah mengangguk. Aku tentu saja tidak tahu.
“Kalau Tala melihat kain Cual kita, mestilah ia bilang itu kain Songket. Karena keduanya memanglah mirip. Karena yang pertamakali membawa kain Cual itu ialah orang Palembang. Tapi tetap ada perbedaannya, mirip bukan berarti meniru. Mengerti?” kata Wak Mende. Kami mengangguk, sepenuhnya mengerti atas penjelasan yang diberikan Wak Mende.
Sore itu, aku tahu aku akan belajar banyak, mungkin lebih banyak dari saat aku di Palembang dahulu.
Pertikaian kecil kami selesai di aula latihan itu. Aku pun menyaksikan mereka memainkan alat musik tradisionalnya dengan tangkas. Gambus, maksudnya Dambus, tak kalah keren dengan gitar modern. Nadanya unik. Seperti Gambus yang pernah kudengar.
Besoknya kelas kami dipenuhi cerita tentang bagaimana akhirya mereka mengetahi betapa mirip Gambus dan Dambus ini. Semuanya sangat berminat mendengarkan Gala berceloteh.
Gaya berceritanya sangat menarik, seru mendengarkannya bercerita. Aku pun ikut tertawa ketika mendengar dia meniru Wak Mende menasihati kami.
Aku teringat dengan merahnya Bio di dekat hijaunya sawah dan kebun di salah satu daerah Sumatera Selatan.
Maka tergelitiklah hatiku untuk melihat Bio yang ada di Bangka ini, yang katanya 3 budaya bercampur dengan damai, budaya Bangka, Melayu, dan Cina. Sampai rumah ibadahnya bersebalahan. Aku penasaran.
“Kalian tahu Bio tidak?” tanyaku begitu bel sekolah berbunyi. Istirahat.
“Biologi?” tanya Hera, dia duduk di sampingku.
“Biologi apa? Ituloh tempat ibadah,” Kataku sambil tertawa. Kulihat keningnya berkerut. Tawaku memudar, oh aku lupa. Mugngkinkah di Bangka tidak disebut Bio?

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.