Tala di Negeri Serumpun Sebalai
“Emm, itu. Maksudku Klenteng, hehe. Kalian menyebutnya apa kalau di sini?” tanyaku memperbaiki bahasa yang kugunakan.
“Oh! Klenteng rupanya. Aku berpikir keras sekali apa itu Bio! Hahahah.”
Aku terkejut, Raka yang duuk di depanku tiba-tiba menyahut, terdengar olehnya ternyata.
“Ya, kami biasanya menyebut itu Bio. Apakah kamu tahu Klenteng terdekat? Aku pernah dengar di sini punya Masjid tua yang berdampingan dengan Klenteng. Itu akan menakjubkan sekali. Aku ingin lihat,” tanyaku, tentu saja aku penasaran bagaimana 2 bangunan ini bisa dengan aman damai berdampingan.
“Oh, itu jauh dari sini. Tapi di sekitar ini juga ada Klenteng dan Masjid, hanya saja tidak berdampingan secara langsung. Yang kamu maksud itu pastilah Masjid Jami` dan Klenteng Kung Fuk Miaw.
Tapi itu di Muntok, kau mau sekalian mudik namanya kalau ke situ,” jelas Raka, sepertinya dia sering bepergian.
Aku ber-oh sambil mengangguk. Begitu juga bisa ya. “Kalau di Palembang itu seperti ada tempat khusus untuk satu daerahnya dipenuhi orang Tionghoa semua. Berbaris di depan rumah mereka bangunan kecil tempat sembahyang,” kataku.
“Yah, di Bangka juga ada yang seperti itu, seperti secara ototmatis teratur, kan? Jangankan orang Tionghoa, bahkan di Sungailiat ada satu desa yang bernama ‘Kampung Jawe’, itu bisa ditebak kan siapa penghuninya hingga disebut begitu,” kata Hera. Aku kembali mengangguk, sedikit terkejut bahkan ada 1 kampung khusus seperti itu.
Tak lama kemudian, suara speaker sekolah berbunyi, menyuruh kami berkumpul ke lapangan. Pasti ada informasi yang ingin disampaikan.
Setelah kami berkumpul dan berbaris seperti upacara, barulah kepala sekolah berbicara di depan kami semua.
“Baiklah, kali ini ibu hanya ingin menyampaikan bahwa minggu depan akan ada tamu dari Jawa akan datang ke SMP kita tercinta ini. Karena SMP kita ini merupakan sekolah model, diharapkan untuk mempersiapkan kelasnya sebagaimana nanti akan diarahkan wali kelas kalian maing-masing,” ujar Kepala sekolahku. Aku bersorak, berarati ekskul tari akan melakukan tari sambut kepada tamu-tamu itu.
Sepulang sekolah, telah ada notifikasi di handphone ku dari ekskul tari. Sesuai tebakanku, kami akan menampilkan tari sambutan mingu depan. Oh iya, aku lupa menceritakannya, aku mendaftar ekskul itu bertepatan saat mengisi berkas masuk sekolah. Kenapa tari?
Karena aku dulu saat masih di Palembang pernah menjadi anggota sanggar tari yang ada di sana, mempelajari tari Gending Sriwijaya. Aku tak sabar, ingin mengetahui apakah tarian di sini jauh berbeda dengan yang ada di Palemabang itu. Kalau tak salah namanya Tari Sekapur Sirih.
Beberapa hari ini aku latihan. Mempelajari gerakan baru dan mendapat banyak teman baru. Seiring itu, di masjid dekat rumah kami pada malam ini terdengar pemberitauan Nganggung, aku bignung, apa itu nganggung? Tentu saja aku mencariya di mesin pencarian di gawaiku.
Aku lagi-lagi terkejut melihat tudung saji yang sama persis dengan tudung saji yang kami bawa ke masjid biasanya ketika dekat bulan Puasa. Di palembang ada nama khusus untuk ini, kami nanti akan makan bersama, bertukar lauk-pauk. Persis sama dengan Nganggung ini. Hanya saja, ini bukan untuk menyambut akan datangnya Ramadhan, mengapa sudah Nganggung?
Besoknya, aku bertanya pada Raka mengenai Nganggung.
“Oh. Ternyata di sana ada juga ya. Aku baru tahu. Dan mengenai pertanyaanmu, sebenarnya Nganggung itu bukan hanya untuk menyambut Ramadhan, itu juga biasa kamu lakuakan ketika menyambut Isra` Mi`raj Nabi Muhammad. Kau nanti akan terbiasa. Nganggung itu hanyalah 1 dari banyaknya budaya yang ada di Bangka ini, La,” Raka menjelaskan dengan sabar.
Akhir-akhir ini, dia adalah orang yang selalu kutanyai perihal Bangka ini. Dia juga selalu menjawabnya dengan baik. Tak terkesan meremehkan sedikitpun.
Oh iya, aku juga terkejut ketika dia menjelaskan padaku akan lebaran atau perayaan-perayaan yang ada di Bangka ini. Sungguh beragam dan banyak sekali perayaannya.
Jika normalnya aku akan merayakan 2 lebaran dalam 1 tahun, maka di sini, bersiaplah untuk merayakan 4 lebaran, bahkan ada lebaran yang lebih meriah dan ramai dibandingkan Idul Fitri. Kala lebaran itu, Bangka yang tak pernah macet seketika macet saking ramainya. Culture shock yang amat kurasakan di Bangka ini.
Kalau tidak salah, namanya Ruah Kubur. Kata Raka, Ruah Kubur itu dilakukan untuk mengenang arwah leluhur. Tradisi ini ternyata juga ada di Bali loh, saat Ruah Kubur ini, banyak sanak saudara yang pulang ke daerah kelahirannnya, merayakan di rumah tua, hingga wajarlah jika jalan-jalan yang lurus di Bangka ini bisa macet.
Yah, yang pasti, sekolah juga diliburkan selama 1 atau 2 hari, walaupun dirayakan selama seminggu atau lebih. Teman-temanku bilang, selama masih ada kue-kue lebaran di atas meja, maka lebaran masih dirayakan. Sungguh perbedaan yang mencolok.
Sedangkan aku di Palembang hanya merayakan paling tidak 2 atau 3 hari paling banyak, itu pun suasana Idul Fitri sudah mulai tak terlihat.
Orang-orang kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Pintu-pintu sudah banyak tertutup. Aku mulai lebih suka di Bangka ini. Banyak lebarannya, berkebalikan dengan orangtuaku.
“Bangkrut Papa kalau begini, La. Mereka benar-benar memiliki banyak hari raya,” kata papaku sambil bercanda. Soalnya tak pernah memang kami rasakan hari raya sebanyak ini.
Belum usai sampai di sini, kalian masih ingat, kan? Perihal tamu dari Jawa yang ingin ke SMP kami itu, lho. Aku juga ternyata ambil bagian dalam menyambut tamu di kelas kami.
Bagai pemandu wisata di museum, tugasku menjelaskan apa-apa saja yang tertera, tergatung, terpampang di dinding kelas dan mading kami. Aku juga mendapat banyak pengetahuan dari ini. Menghafal beberapa penjelasan tentang sekolah, Bangka, dan sejarah-sejarah lain yang telah dibagikan.
Persiapan 1 minggu kami terbayar dengan apik untuk 1 hari ini. Kami bersorak ria kala diberitahu bahwa akan ada study tour ke Mercusuar dan Bukit Menumbing beberapa bulan ke depan, dekat dengan bulan Ramadhan.
Dua tempat bersejarah yang kuhapal kamarin. Yang aku hanya tahu dari internet saja. Kini aku akan sungguhan berkunjung ke sana. Sunguh aku tak sabar.
“Tala, kau sudah persiapkan study tour mu?” tanya Mama malam ini, dia juga mendaapat kabar dari grup Paguyuban SMP. Aku mengangguk, “Sudah, Ma.”
“SMP kalian benar-benar banyak kegiatan, ya. Aktif. Kau tak apa Tala?” tanya Papa khawatir aku kelelahan.
“Tidak Pa, justru inilah yang seru. Aku suka sekali SMP ini,” kataku sambil tersenyum.
Memang, kali ini aku benar-benar senang berada di sekolah yang lumayan banyak kegitannya. Besok adalah hari dimana kami melaksanakan study tour yang telah ditunggu sekian lama.
Ternyata, acara ini tepat ketika Lebaran Ruah. Kata guru kami, kami akan sekalian melihat salah satu budaya unik di Bangka, Perang Ketupat. Aku sama sekali baru mendengar istilah ini.
Esoknya, dengan tas biru muda dan headphone biru muda yang tergantung manis di leherku. Aku siap menjelajah bangunan bersejarah itu, dan juga, perang ketupat. Hahaha.
Beberapa jam kemudian, sampailah kami ke tempat Bung Karno diasingkan itu, Bukit Menumbing. Bangunan tempat tinggal beliau masih kokoh, bahkan di dalamnya ada mobil antik yang beliau gunakan pada masa itu.
Tak jauh dari sana, ada Goa Jepang yang bisa kita singgahi. Aku sangat penasaran, kupikir aku akan melihat stalaktit dan stalagmit yang bergelantungan. Atau saluran rasaia seperti di buku fantasi aksi. Ternyata, begitu aku masuk, kira-kira 1 meter ke dalam, hidugku menghantam tanah, Goa Jepang itu sama sekali tak dalam.
Hanya untuk bersembunyi dari kejaran Jepang, masuknya pun, aku yang pendek ini harus membungkuk. Tak terbayang bagaimana dulu para pahlawan rela bersembunyi bersempit-sempitan di goa ini demi Indonesia.
Pulang dari Bukit itu, aku pun ke Mercusuar, menaiki ratusan anak tangga hingga aku sampai di puncaknya. Dan pemandangan indah menyambut usahaku yang tidak sia-sia. Turun kembali dengan kaki yang mulai terasa pegal. Wajar, anak tangga menara itu amatlah banyak.
Sekarang, hal yang amat kutunggu, Perang Ketupat! Aku penasaran sekali bagaimana mereka perang dengan bersenjatakan ketupat, apakah tidak mubazir?
Desa Tempilang namanya, di sini mereka merayakan 1 Muharram dengan acara yang disebut Ruah Tempilang, di hari itu, masyarakat setempat mengadakan Perang Ketupat, dan membuka lebar-lebar pintu rumah mereka untuk menyambut tamu dari luar desa.
Aku melihat keramaian itu dari kaca jendela mobil bus yang kami naiki. Tak sabar melihat dengan dekat perang ketupat itu. Setahuku, Perang Ketupat semacam ini juga ada di Bali, tapi bukan ini namanya. Hanya saja sama pelaksanaannya.
Kami dengan cepat turun dari mobil begitu sampai, aku dengan cepat menyerbu masuk kerumunan di pinggir arena perang. Kulihat banyak pemuda berbaju hitam telah bersiap di kedua sisi lapangan perang, banyak orang bersorak, dan banyak pula yang menjago-jagokan timnya. Mataku berbinar, sungguh pemandangan yang meriah dalam menyambut Ramadhan tahun ini.
Kami sampai kembali ke sekolah pukul 4 sore, sebagian penumpang bus sudah terkulai, tertidur, yang paling absurd, ada teman-teman yang jahil memfoto posisi tidur teman-temnnya yang “unik”.
Katanya, agar bisa diposting saat dia ulang tahun atau bisa jadi kenang-kenangan saat lulus nanti. Aku hanya tertawa melihat mereka yang gencar mengambil gambar-gambar konyol tersebut.
Sepulangnya dari kegiatan ini, aku langsung membersihkan badan dan tidur.
Melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Tak sabar juga memikirkan apa-apa saja lagi yang akan kupelajari dari Bangka ini, Negeri Serumpun Sebalai.
Nurul Janah Gustina, Siswi SMAN 1 Pemali, Kabupaten Bangka

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.