Padanya terdapat kecintaan, keimananan, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah, yang merupakan sumber kehidupannya. Padanya terdapat pula kecintaan terhadapat syahwat, hasad, kibr, dan sifat ujub yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya.

Ia di antara dua penyeru, yaitu penyeru kepada Allah dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dengannya.

Ibarat tubuh, hati juga memiliki indikasi sakit atau sehat. Saktinya hati bisa semakin parah dan ia tidak menyadrinya, bahkan bisa berujung kepada kematian hatinya.

Indikasi hati seseorang dikatakan sakit, apabila ia tidak bisa membedakan sakitnya bermaksiat, dan betapa menderitanya berada dalam kebodohan tentang kebenaran serta memiliki akidah yang sesat. Ia juga enggan untuk mengkonsumsi ”makanan” yang baik  untuk hatinya. Serta menolak untuk berobat dengan obaty hatinya. Dan obat terbaik bagi hati adalah Al Qur’an.

Baca Juga  6 Lafal Niat Puasa Ramadhan dan Waktu Pelaksanaannya

Sedangkan tanda sehatnya hati adalah dirinya berusaha untuk menghadirkan akhirat di dalam hidupanya. Dunia hanya sebagai tempat jasadnya, tetapi jiwanya merasakan nikmatnya kehidupan akhirat.

Kehadirannya di dunia” hanya untuk mengambil kebutuhannya saja, lalu kembali lagi meresapi ke kehidupan akhiratnya. Ia terasa seperti orang asing, seperti  yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra. Rasulullah saw berpesan, ” jadilah kamu hidup di dunia ini seperti orang asing, atau orang yang lewat.”

Ia tidak berlama-lama di dunianya. Ini lahyang dilakukan para orang-orang soleh, ulama, para wali Allah. mereka selalu mencintai khidmat dan dzikir kepada Allah. kehilangan satu kesempatan dari wiridnya akan membuatnya merasa begitu kehillangan, melebihi perasaan orang yang kaya yang kehilangan hartanya.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 15): Godaan dan Keteguhan Iman

Ramadhan memberikan kesempatan untuk membuat hati semakin sehat. Semoga kita bisa meraihnya. Amin. Wallhu A’lam .